Notulensi Pertemuan dan Pemilihan Ketua IASI, e.V. Periode 2019 – 2021.

Hari/Tanggal:  Sabtu, 2 November 2019

– Waktu:  Pukul 13.00 – 17.00

– Tempat:  Asien-Afrika-Institut, Ruang 221, Universität Hamburg, Edmund-Siemers-Allee 1, Ost-Flügel, D-20146 Hamburg

– Peserta: 20 Peserta

1. Pembukaan

Acara dimulai tepat waktu, yaitu pukul 13.00 dan diawali dengan kata pembuka oleh Sdri. Yanti Mirdayanti. Setelah itu, dilanjutkan dengan perkenalan diri secara singkat seluruh peserta yang hadir. Lalu penjelasan tentang susunan pengurus IASI e.V. Periode 2017-2019 yang mengikuti aturan Satzung (AD/ART) IASI e.V. tahun 2010. Kemudian acara dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu,

2. Pengesahan Jumlah Anggota berdasarkan Kuorum

Pengesahan Jumlah Anggota dipimpin oleh Sdr. Yudi Ardianto dan Sdr. Nur Pamungkas Manirjo serta dilakukan setelah Daftar Hadir diisi lengkap oleh seluruh peserta.

3. Pemilihan Pembuat Notulen Rapat

Sdri. Yanti Mirdayanti dan Sdr. Yudi Ardianto terpilih sebagai Pembuat Notulen Rapat

4. Pengesahan Notulen Rapat Anggota

Pengesahan notulen rapat anggota dilakukan dengan arahan Sdr. Yudi Ardianto dan Sdr. Nur Pamungkas Manirjo

5. Laporan Kerja Pengurus Periode 2017-2019 

Laporan Kegiatan dari setiap Divisi, 

– Divisi Pendidikan, oleh Sdri. Yanti Mirdayanti

Sdri. Yanti Mirdayanti sebagai Ketua Divisi Pendidikan memberikan informasi Pengantar Umum tentang tugas Divisi Pendidikan dan memaparkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh Divisi Pendidikan, yaitu sebagai berikut:

  • Informasi dan Pendidikan tentang PILKADA DKI di Uni Hamburg (15 Febr 2017)
  • Sosialisasi dan Latihan UKBI – Jan Budweg di Uni Hamburg (7 Okt 2017)
  • AFA – Jerman (Pertemuan dg IASI 12 Okt 2017; Peresmian: 14 Okt 2017) di Uni Hamburg
  • Kunjungan Akademis Pengurus PCINU Jerman (3 Nov 2017) di Uni Hamburg
  • Sosialisasi KMILN/Kartu Masyarakat Indonesia di LN   (8 Nov 2017)  di KJRI Hamburg
  • Pembentukan APPBIPA di Berlin (10 Agustus 2017) di KBRI Berlin
  • Konferensi APPBIPA: 1 (Konstanz, 3- 4 Nov), 2 (Berlin Nov 2017), 3 (Uni Hamburg, 26 – 28 Okt 2019)
  • Kerjasama dengan PPI Hamburg (kegiatan bulanan ‘Dialegtika’) di Uni Hamburg:
    • EBT  (Nur Pamungkas & Yudi Ardianto, 6 Oktober 2017)  di Uni Hamburg  
    • Mikroalga (Dr. Rahmania Darmawan, 13 April 2018) di Uni Hamburg
    • Sakeco  (Annisa Hidayat, 3 Mei 2019) di Uni Hamburg     
    • Pencegahan dan Pemakaian Kondom di Kalangan Transgender Indonesia (Yenni Tju, 2019) di Uni Hamburg
  • Paduan Suara PARAMABIRA Jakarta & Angklung Hamburg, kerjasama dengan  „Bildung und Gesundheit für Indonesien“/BUGI (23 Juni 2018)  di Uni Hamburg   
  • Sosialisasi Pertukaran Pelajar SMA I Salatiga & Gymnasium Ohlstedt Hamburg (8 September 2018)  pada acara OPEN HOUSE IASI di Uni Hamburg
  • Delegasi dari Sulawesi Utara (Seminar ‘Tradisi Toleransi di Sulawesi Utara’) (30 Juni 2018) di Uni Hamburg
  • Interreligious Dialogue. Kolaborasi dengan BKSAUA Prov. Sulawesi Utara dan Missionsakademie Uni Hamburg (1 Desember 2018) di Uni Hamburg
  • Workshop LP3ES – IASI  (25 Oktober 2019) di KJRI Hamburg
  • IASI hadir di acara Defense Doktor / PhD (Aditya P./Sospol – 2017, Edo S/Psikologi – 2017, Ayu N/Bekicot – 2018, Umilaela/Katak – 2018)
  • Seminar dan Lokakarya III Pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing), 26-28 September 2019 di Uni Hamburg
  • Workshop dan Seminar dengan delegasi LP3ES dan tenaga akademis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, bertemakan “Pendidikan dan Riset Ilmu Sosial Perbandingan Indonesia-Jerman” (25 Oktober 2019) di KJRI – Hamburg

– Divisi EBT (Energi Baru dan Terbarukan) oleh Sdr.  Nur Pamungkas Manirjo. 

Sdr. N. P. Manirjo sebagai Ketua Divisi EBT memaparkan secara singkat visi dan misi Divisi EBT-IASI e.V. yang masih relatif baru dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan Divisi EBT sebagai berikut:

  • Kunjungan IASI ke Perusahaan Pengelola delapan Kincir Angin di Diemarden – Göttingen, 10 Juli 2017
  • Sebagai Pembicara di acara ‘Dialegtika’ Renewable Energy (Energi Baru dan Terbarukan) PPI Hamburg, 6 Oktober 2017
  • Kunjungan IASI-EBT ke Windpark Diemarden (Göttingen)  dan Pertemuan dengan delegasi AEAI (Asosiasi Energi Angin Indonesia), 2 Desember 2017

– Divisi ISTT (Industri Strategis dan Teknologi Tinggi), oleh Sdr. Widjaja Sekar mewakili Sdr. Prio Adhi Setiawan

Sdr. Widjaja S. yang mewakili ketua Divisi ISTT, Sdr. Prio A.S., menjelaskan kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan oleh Divisi ISTT-IASI e.V. yang terdiri dari:

  • Awareness & Knowledge Sharing
    • Stakeholders di Indonesia
    • Diaspora di Hamburg (Professionals/Students)
    • Government
  • Collaboration, Cooperation, Co-build (Synergy)
    • GIZ
    • Hannover Messe 2020
    • Indonesian Aeronautics Stakeholders
    • Government/non-government Organization (KEIN, LAPAN dll.)

– Divisi Web Master , oleh Sdr. Alvin Rindra Fazrie

Sdr. Alvin R. F. sebagai Web Master menjelaskan kondisi  dan isu-isu dari situs resmi (website) IASI e.V. Kemudian dilanjutkan dengan laporan-laporan kegiatan yang telah dilakukan, yaitu:

  • Website Security
  • Bug Fixing
  • Website Update and Maintenance
  • Publish Articles Periodically
  • Saran dan Rekomendasi

– Divisi Kebudayaan oleh Sdri. Prasti Pomarius

Sdri. Prasti P. sebagai ketua Divisi Kebudayaan menceritakan secara singkat tentang latar belakang terbentuknya Divisi Kebudayaan IASI pada tahun 2018. Kemudian dilanjutkan dengan laporan kegiatan yang telah dilakukan oleh Divisi Kebudayaan, yaitu:

  • Pagelaran Wayang Orang “Kresna Duta” diselenggarakan di tiga kota di Jerman Utara, yaitu di Hamburg, Hannover, dan Bremen dengan sangat sukses dan mendapat tanggapan yang sangat positif dari masyarakat Jerman.

Secara detail Pagelaran Wayang Orang “Kresna Duta” terbagi ke dalam tahapan-tahapan berikut:

  • Persiapan
  • Penyelenggaraan
  • Pencapaian

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab singkat. Seorang peserta menyarakan bahwa sebaiknya di laman Resmi IASI e.V. dicantumkan Data Base Para Ahli. 

– Lalu acara dilanjutkan dengan Laporan dari Ketua 1 IASI e.V. Periode 2017-2019, Sdr. Yudi Ardianto.  Dijelaskan tentang hal-hal berikut:

  • Keanggotaan / Mitgliedschaft – sesuai ADART/ Satzung 2010
  • Masa Kepengurusan IASI e.V.
  • SUSUNAN PENGURUS 2017 – 2019
  • PROYEK-PROYEK kerjasama IASI:
  • Proyek Yayasan Nase Mulia yang bekerja-sama dengan CIM (Centre for International Migration and Development)
  • Pengiriman tenaga ahli ke instansi-instansi di Indonesia
  • Kerja sama dengan SES (Senior Experten Service) / Tenaga ahli Jerman (WNJ)
  • Kerja sama dengan GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) / Tenaga Ahli Diaspora Indonesia (WNI dan WNJ)
  • Setelah  itu, dilanjutkan dengan Laporan Kesekretariatan dan Keuangan oleh Sdr. Yudi A. dan Sdr. N.P. Manirjo sbb:
  • Laporan Kesekretariatan
  • Pembaruan Logo
  • Pendataan anggota belum tertangani dengan baik
  • Apakah perlu Postfach ?
  • Alamat untuk surat menyurat
  • Pembaruan Satzung yang masih dalam proses: versi 2010 🡪 2018
  • Surat dari Finanzamt dan Amtsgericht saat ini diurus oleh Steuereberater Köthe, akankah diambil alih kembali IASI?

– Laporan Status Keuangan

Sdr. Yudi A. memaparkan Status Keuangan IASI e.V. dari  tahun 2016 – 2019 serta menunjukkan Neraca Keuangan di tahun tersebut di atas.

6. Pelepasan Pengurus Periode 2017 – 2019

Acara Pelepasan Pengurus Periode 2017-2019 berjalan dengan lancar dan dilakukan secara simbolis dan singkat.

7. Pemilihan Pengurus Baru Periode 2019 – 2021

Acara Pemilihan Pengurus Baru Periode 2019-2021 berjalan secara demokratis dan lancar di bawah arahan Sdri. Yanti M., Sdr. Yudi A. dan Sdr. N.P. Manirjo.

Dalam acara ini setiap peserta yang hadir dan memiliki hak suara mencalonkan secara lisan calon Ketua 1 dan Ketua 2 untuk dicantumkan di Daftar Nama Calon Ketua 1 dan 2 oleh Panitia Pemilihan Ketua.

Kemudian Peserta yang namanya tercantum di Daftar Nama Calon di atas ditanya oleh Panitia Pemilihan Ketua, apakah mereka bersedia dicalonkan sebagai Ketua.

Lalu mereka diberikan waktu untuk menjelaskan program/ visi dan misi mereka.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan  menuliskan nama calon ketua di atas kertas kecil yang digulung dan dikumpulkan oleh panitia.

Setelah semua kertas kecil terkumpul, panitia membacakan nama-nama calon yang tertulis di kertas kecil tsb.

Hasil pemilihan adalah sebagai berikut:

  • Sdr. Toga Panjaitan sebagai Ketua 1 Periode 2019-2021
  • Sdr. Nur Pamungkas Manirjo sebagai Ketua 2 Periode 2019-2021

8. Serah Terima dari Pengurus Lama kepada Pengurus Baru

Acara serah terima jabatan berlangsung secara simbolis dengan berjabat tangan dengan singkat.

Kemudian Ketua 1 dan 2 yang terpilih untuk Periode 2019-2021 memberikan sambutan pendek.

Sdr. Toga Panjaitan sebagai Ketua 1 Periode 2019-2021
Sdr. Nur Pamungkas Manirjo sebagai Ketua 2 Periode 2019-2021

9. Lain-lain

Dalam acara  ini para peserta diberikan kesempatan untuk memberikan ide dan saran:

  • Sdri. Ida Muis :
    • Peluang-peluang pendidikan di bidang Maritim dan Industri Pertanian. Disarankannya bahwa IASI e.V. bisa menjembatani hal ini.
    • Lebih menggalakan fungsi Divisi Kebudayaan sebagai Medium Diplomasi.
    • Pameran Kerajinan Tangan Indonesia, seperti Kain Tenun bisa diselenggarakan di acara-acara seperti Altonaer. IASI e.V. diharapkan bisa menjembatani para seniman kain Indonesia dengan para pebisnis di Jerman
  • Sdr. Alan Darmawan: 
    • Kebudayaan Indonesia sampai saat ini digambarkan secara sempit. Hal ini sangat disayangkan karena  orang luar melihat ruh Indonesia dari  karya-karya sastra, seperti novel-novel.  IASI e.V. diharapkan bisa menyajikan Budaya Indonesia dalam narasi lain (Narasi Alternatif)
  • Sdr. Vembi Noverli: 
    • Kesinambungan program dari Kepengurusan yang sekarang agar bisa diteruskan di kepengurusan berikutnya.
  • Sdr. Agus Pramono:
    • Newsletter untuk para anggota IASI e.V. yang dkirim per e-mail.

10. Tutup

Acara Pertemuan IASI, e.V. dan Pemilihan Ketua IASI, e.V. Periode 2019 – 2021 berakhir pada pukul  17.15.

Foto Bersama di Penutupan Acara Pertemuan IASI, e.V. dan Pemilihan Ketua IASI, e.V. Periode 2019 – 2021

IASI, e.V – LP3ES: Kerjasama Riset dan Akademik Jerman – Indonesia di Bidang Ekonomi dan Ilmu Sosial

(oleh: Divisi Pendidikan)

Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia – Jerman (IASI, e.V. – Jerman) bekerjasama dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES – Jakarta) serta pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hamburg (KJRI – Hamburg) mengadakan acara Workshop (Seminar dan Diskusi) dengan mengangkat topik “Pendidikan dan Riset Bidang Ekonomi dan Ilmu Sosial: Perbandingan Jerman – Indonesia”.

Acara diselenggarakan selama sehari penuh di KJRI Hamburg, pada hari Jumat, 25 Oktober 2019, mulai jam 9.00 pagi sampai jam 8.00 malam.

Delegasi riset dan pendidikan dari Indonesia yang dipimpin oleh pihak LP3ES Jakarta tersebut terdiri dari 17 Mahaguru dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia (Jawa, Sumatera, dan Sulawesi). Sementara dari pihak Jerman terdiri dari tiga orang Mahaguru dari tiga perguruan tinggi, yaitu: Universitas Hamburg, Universitas Göttingen, dan Universitas Jacobs Bremen.

Seminar dan Diskusi tersebut dihadiri juga oleh berbagai kalangan mahasiswa Indonesia dan Jerman, terutama dari kalangan S2 dan S3 di kawasan Jerman Utara dan sekitarnya.

Selain melakukan kegiatan seminar/workshop, delegasi Indonesia juga melakukan kunjungan akademis ke Universitas Jerman, Departemen Asia Tenggara. Delegasi diterima oleh para staf pengajar dan para mahasiswa bidang Master Program Studi Austronesia (Indonesia – Melayu), Departemen Asia Tenggara, dan melakukan diskusi bersama. 

Direncanakan bahwa kerjasama  kegiatan pengembangan riset dan akademik bidang ilmu ekonomi dan sosial ini hendak dilakukan secara periodik, baik kegiatannya dilakukan di Jerman maupun di Indonesia. Peran IASI, e.V. dalam hal ini terutama turut membantu menjembatani dan memfasilitasi persiapan serta pelaksanaan acaranya sesuai dengan kapasitas yang ada.

Lampiran 1: Susunan Pembicara dan Topik (dalam bahasa Inggris).

WORKSHOP LP3ES – IASI, e.V.

„EDUCATION AND RESEARCH ON SOCIAL SCIENCES: A COMPARATIVE STUDY INDONESIA – GERMANY”

Day/Date: Friday, October 25, 2019

Time:        08:15 – 20:00

Venue:      General Consulate of the Republic of Indonesia,

                  Bebelallee 15, 22299 Hamburg – Germany

Guests:  15 Speakers from Universities in Indonesia and LP3ES – Jakarta

                 3 Speakers from 3 German universities

Speakers and Topics:

  1. Prof. Dr. Sebastian Vollmer (Georg-August-University, Göttingen)
    „Current Issues on the Development of Economic Studies: Lesson Learned from Germany and Indonesia”
  2. Prof. Dr. Jan van der Putten (University of Hamburg)
    “Indonesian Studies: View of the Past and Challenges of the Future
  3. Prof. Dr.-Ing. Hendro Wicaksono (Jacobs University Bremen)
    “The Management of Higher Education, Research and Innovation: The Linkage between the Academia and Industries in Germany”
  4. Prof. Dr. Adang Djumhur Salikin (Islamic State Institute Syekh Nurjati of Cirebon / West Java)
    “The Implementation of Islamic Teachings in Epistemological Diversity”
  5. Prof. Dr. Didik J. Rachbini (LP3ES – Jakarta)
    “The Political Economy of the Social Security Policy: A Comparison between Indonesia and Germany”
  6. Prof. Dr. Hanna (Universitas Haluoleo of Kendari / Southeastern Sulawesi)
    “The Parenting-Based Education for Coastal Children towards Industry 4.0”
  7. Prof. Dr. Mohamad Amin (State University of Malang / East Java)
    “The Implementation of the Holistic and Balanced Education”
  8. Prof. Dr. Sri Milfayetti (State University of Medan / North Sumatera)
    „A Multidimensional Model in Creative Interventions on Student’s Holistic Qualities and Integrity”
  9. Dr. Abdul Azis Muslimin (Muhammadiyah University of Makassar / South Sulawesi)
    „The Religion Based Education on Social Interactions among Students at Urban Areas”
  10. Dr. Ahmad AC  (Muhammadiyah University of Makassar / South Sulawesi)
    „The Effects of the Transformational Leadership on Lecturers’ Performance at the Muhammadiyah University in South Sulawesi”
  11. Dr. Hasani Ahmad Said  (Islamic State University of Jakarta)
    „The Development of Quranic Studies in Germany and Indonesia”
  12. Dr. Heni Noviarita  (Islamic State University of Lampung)
    “Consumer’s Utilities towards Islamic Banking in Kota Bandar, Lampung”
  13. Dr. Jum Anggriani Syechbuddin  (Pancasila University of Jakarta)
    „A Comparative Study on the Implementation of the Constitutional Complaint at the Constitutional Court of Indonesia and of Germany“
  14. Dr. Rahmiwati Marsinun Koto (Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka University of Jakarta)
    „Students‘ Interests in Writing Activities in Indonesia“
  15. Dr. Rofikatul Karimah (Dept. of Research, Development, Education and Training of the Ministry of Religion, Jakarta)
    “The Implemention of the Marriage Registration Policy: A Public Choice Perspective“
  16. Dr. Tubagus Djaber E. Abeng  (Islamic State University of Manado / North Sulawesi)
    “The Leadership Qualities at the Islamic Educational Institution in North Sulawesi: A Comparison between Indonesia and Germany”
  17. Dr. Asad, Sp. THT-KL  (Swadaya Gunung Jati University of Cirebon / West Java)
    „Indonesian Educational Standard: Preparing Today’s Youth to be the Leaders of Tomorrow“
  18. Faisal Basri, M.A.  (University of Indonesia, Jakarta)
    “Indonesia’s Political Economy and Development

Lampiran 2: Susunan acara

Rundown of the Program:          

Morning
Session
   
08:15 –  08:30 Door Open / Guests enter the room
08:30 –  08:45 Opening
08:45 –  10:15 1st Session  (4 Speakers – LP3ES)
10:15 –  10:30 Coffee Break
10:30 –  12:30 2nd Session  (3 Speakers – Germany, 2 Speakers – LP3ES)
   
Noon Session  
12:30 – 13:00 Lunch Break
13:00 –  14:30 Friday Prayer   (Venue: Basement of Ind. Consulate – Hamburg)
   
Afternoon Session  
14:30 –  14:45 Door Open / Guests enter the room
14:45 –  15:00 Opening
15:00 –  17:00 3rd Session  (5 Speakers – LP3ES)
17:00 –  17:15 Coffee Break
   
Evening Session  
17:15 – 18:45 4th Session  (4 Speakers – LP3ES)
18:45 –  19:45 Dinner Break        
19:45 –  20:00 Conclusion / Recommendation
20:00 Closing

Undangan Pertemuan IASI, e.V. dan Pemilihan Ketua IASI, e.V. Periode 2019 – 2021

Kepada Yth.
Seluruh Anggota IASI, e.V.
di Jerman

Terlampir adalah undangan yang ditujukan kepada semua anggota IASI, e.V. untuk menghadiri acara pertemuan yang akan diselenggarakan pada:


Hari/Tanggal: Sabtu, 2 November 2019
Waktu: Pukul 13.00 – 17.00
Tempat: Asien-Afrika-Institut, Ruang 221
Universität Hamburg
Edmund-Siemers-Allee 1, Ost-Flügel
D-20146 Hamburg

Untuk selengkapnya, silakan klik surat lampiran PDF di pengumuman ini.

Terima kasih.

Pengurus IASI, e.V. periode 2017-2019

Pagelaran Wayang Orang “Kresna Duta” Sukses tampil di 3 Kota Jerman Utara

Setelah sukses dengan tampilan perdananya di kota Hamburg, Pagelaran di dua kota lainnya, Hannover dan Bremen juga disambut sangat antusias oleh publik Jerman.


IASI sangat mengapresiasi seluruh panitia, serta para sponsor yang luar biasa sukses membawa wayang orang “Kresna Duta” ke Jerman. Semoga kesenian wayang orang terus mendunia dan mendapat apresiasi yang layak sebagai salah satu warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO.

Beberapa reportase dari media bisa dilihat dari tautan berikut.

Reportase pertunjukan perdana di Hamburg:

https://www.dw.com/id/memukau-publik-hamburg-pagelaran-wayang-orang-kresna-duta-disambut-gemuruh/a-50280776

Reportase pertunjukan di tiga kota:

https://lampung.antaranews.com/berita/358118/pagelaran-wayang-orang-di-jerman-sukses

Berita dari IASI sebelumnya:

https://iasi-germany.de/blog/2019/08/15/pertunjukan-wayang-orang-kresna-duta-di-tiga-kota/

Pertunjukan Wayang Orang “Kresna Duta” di Tiga Kota

Yayasan Paramarta Karya Budaya bekerjasama dengan Diaspora Indonesia in Bremen e. V. , Kantor Perwakilan RI di Hamburg, Kemendikbud, IASI dan simpul-simpul diaspora Indonesia di Jerman lainnya akan menyelenggarakan Pagelaran Wayang Orang dengan lakon Kresna Duta di beberapa kota di Jerman. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Penguatan Rumah Budaya Indonesia di Mancanegara yang bertujuan untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dengan Jerman di bidang kebudayaan.

Jadwal Pertunjukan adalah sebagai berikut:

2 SEP. 2019
Jam 19:00 
Neue Flora, Hamburg

4 SEP. 2019
Jam 19:00 
Altes Magazin, Hannover

7 SEP. 2019
Jam 19:00 
Metropol, Bremen

Untuk pemesanan tiket dan info lebih lanjut bisa dilihat di website:
http://www.kresna-duta.com

IASI untuk Dirgantara Indonesia

Oleh : Divisi Teknologi Tinggi dan Industri Strategis IASI

Sebuah rekomendasi untuk Aerosummit 2018 dengan membangun sinergi ekosistem dirgantara yang kuat

Pengembangan dan penguasaan kemandirian industri berteknologi tinggi merupakan salah satu pondasi yang sangat penting dalam percepatan perekonomian. Hal ini juga menjadi salah satu pilar dalam prioritas pembangunan, sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa lainnya.

Indonesia memiliki potensi daya saing di pasar internasional ini, salah satunya di bidang industri dirgantara.

Strategic Partnership, atau kerjasama kemitraan strategis bisa menjadi salah satu kunci sehingga ekosistem yang kuat antara seluruh stakeholder dirgantara (MRO, aero manufaktur, R&D, operator dan regulator) bisa terbangun dalam kesatuan pandangan akan kemajuan dirgantara Indonesia ke depan.

AEC (Aircraft Engineering Center) sebagai salah satu ide wahana dalam Kerjasama Kemitraan Strategis bertujuan untuk menguasai ruh dari pengembangan state-of-the-art dirgantara terkini dengan ikut terlibat dalam pengembangan industri teknologi dirgantara besar dunia.

Sinergisitas yg kokoh dalam ekosistem dirgantara Indonesia yang kuat, dengan kehadiran AEC salah satunya, akan membuat Indonesia bisa mensejajarkan kemampuan industri dirgantaranya secara internasional.

Berikut rekomendasi IASI e.V.  untuk mendorong terbangunnya ekosistem dirgantara Indonesia yang kuat, dan dalam penyusunan roadmap dirgantara nasional dalam Aerosummit 2018.

Informasi lebih detil tentang Aerosummit 2018 bisa dilihat di tautan berikut:

https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/09/24/pfiumt349-aero-summit-2018-jadi-momentum-wujudkan-making-indonesia-40

atau

Sakeco, Seni Lisan Kuno Suku Sumbawa: dari menabuh rebana hingga musik reggae

(oleh: Annisa Hidayat / Mahasiswi S2 Universität Hamburg)

Pada tanggal 3 Mei 2019 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Hamburg bekerja sama dengan IASI – Jerman serta Bidang Studi Indonesia/Melayu – Universitas Hamburg telah menyelenggarakan acara ‚dialegtika‘ ke-2 untuk tahun 2019. Bertempat di Asien-Afrika-Institut, Uni Hamburg. Topik yang disajikan adalah tentang eksplorasi perkembangan seni Sakeco – Sumbawa. Pemakalah: Annisa Hidayat, mahasiswi S2 di Jurusan Asia Tenggara – Universitas Hamburg.

 

Sakeco adalah pertunjukan seni tradisional suku Sumbawa di Pulau Sumbawa. Dikenal juga sebagai musik sufi karena isinya mengandung makna filosofis. Ceritanya menggambarkan pesan cinta kepada Tuhan dan kebaikan dalam menjalani kehidupan.

Sakeco kini telah mengalami banyak perubahan. Tidak hanya dalam puisi atau liriknya yang berfungsi sebagai media komunikasi dan penyebaran ajaran Islam, tetapi juga pada musiknya. Lirik sakeco sebelumnya lebih tentang pengungkapan cinta kepada Tuhan. Kini mencakup juga tentang percintaan manusia, kehidupan remaja, suami istri, dan bahkan seksualitas. Sedangkan dalam unsur music dikenal genre sakeco regae sebagai sakeco modern.

Dalam penampilannya, sakeco melibatkan dua pemain yang berperan sebagai penyanyi cerita (story teller) yang juga harus bisa bermain rebana sebagai musik pengiring. Mereka akan berkicau, artinya saling bersahutan dalam menyelesaikan sebuah paragraf dari sebuah cerita dan kemudian melanjutkannya ke lirik berikutnya. Sakeco biasanya tampil pada pesta-pesta pernikahan, acara keagamaan (seperti Maulid Nabi Muhammad), festival budaya, dan upacara penyambutan. Ceritanya disampaikan dalam beragam tema, misalnya tentang hubungan pemuda, kasus perceraian, fenomena politik dan sosial, dan lain-lain. Oleh karena itu, sakeco dianggap sebagai puisi yang berbentuk naratif. Cerita dalam sakeco umumnya terdiri dari sebuah pembukaan yang berisi ucapan selamat datang dan terima kasih kepada penonton. Selanjutnya, bagian pembukaan diikuti dengan inti cerita atau isi berupa ringkasan cerita. Bagian terakhir adalah penutupan yang biasanya merupakan lelucon sensual.

Sakeco Sumbawa saat ini dianggap sebagai salah satu pertunjukan seni tradisional Sumbawa yang harus dilestarikan. Sayangnya, latar belakang sejarah seni ini masih misterius. Sejauh ini, baru sedikit artikel tentang seni tradisional masyarakat Sumbawa yang telah ditulis oleh ilmuwan etnografi atau ahli musik budaya. Juga hingga saat ini belum banyak yang meneliti tentang sejarah sakeco. Sebagai sastra lisan, sakeco adalah literatur lisan yang terus berkembang tanpa diketahui siapa yang pertama kali menciptakan seni pertunjukan tradisional ini. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, istilah ‘sakeco‘ berasal dari dua orang tua yang bernama ‘Sake’ dan ‘Co’; masing-masing diambil dari nama ‚Zakariah‘ dan ‚Syamsudin‘. Keduanya disebut sebagai yang pertama kali membawakan kesenian tradisional sakeco.

Dalam ekplorasi maknanya, secara literal istilah sakeco berasal dari kata ‘keco‘ (bahasa Sumbawa) yang berarti ‘kicau‘ dalam bahasa indonesia. Di Sumbawa, arti keco mirip dengan istilah untuk suara burung juga merupakan makna puitis untuk dikatakan kepada orang yang suka berbunyi. Di Sumbawa orang yang suka terdengar suaranya, bernyanyi, berpikir, atau mampu menceritakan atau mengembangkan dikatakan memiliki keco yang baik. Istilah ‘na nyaman keco na’ atau kicauan yang nyaman berarti betapa indahnya orang berbicara atau berpidato. Artinya nembangnya yang indah (bernyanyi) atau bicaranya enak didengar. Bila seseorang terlihat begitu pendiam, maka di Sumbawa orang tersebut dikenal dengan istilah ‘nonya keco na’ atau ‘tidak berkicau’. Artinya, orang tersebut tidak vokal, tidak bisa mengungkapkan pendapat, atau tidak bernyanyi bersama saat dalam bermain, bisa juga dikatakan orang tersebut tidak ada kabar berita. ‘Sakeco‘ bisa dikatakan memiliki arti bernyanyi, karena sakeco dinyanyikan oleh dua orang yang saling bersahutan seperti burung bernyanyi dan saling menyambut satu sama lain.

Sakeco mengalami perkembangan yang cukup besar sejak Kecamatan Sumbawa Barat mengalami pemekaran sebagai Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) pada 2003, penyelenggaraan festival-festival, dan kompetensi budaya antar daerah. Keadaan ini membuat komunitas budaya yang ikut serta dalam setiap festival juga ingin terus berkembang menjadi yang terbaik. Tidak hanya pertandingan antar daerah, melainkan juga antar sekolah SD, SMP, dan SMA yang kemudian memunculkan penampil-penampil seni dan karya-karya seni yang baru, termasuk kesenian sakeco. Pada awal 2009 program pemerintah tentang pariwisata dan budaya juga sangat banyak. Budaya diyakini sebagai bagian terpenting dari program pariwisata, sehingga melahirkan genre sakeco baru, yaitu sakeco reggae sebagai sakeco modern yang tidak lagi tampil dengan rebana, melainkan musik elektronik. Evolusi sakeco menjadi reggae karena pengaruh berkembangnya pariwisata Indonesia pada umumnya, dan pariwisata Lombok dan Sumbawa khususnya. 2009-2010 adalah awal periode trend berpariwisata sebagai gaya hidup, seiring dengan berkembangnya teknologi digital. Banyak bermunculan promo perjalanan wisata di media social. Program pemerintah bagian kebudayaan dan pariwisata misalnya dengan program “wonderful Indonesia”: Visit Lombok Sumbawa 2010 sampai sekarang. Isi sakeco reggae adalah tentang pariwisata, keindahan alam Sumbawa, khususnya pantainya. Lirik bahasa Inggrisnya “welcome to Indonesia” sebagai komunikasi kepada masyarakat dunia yang lebih luas.

Humor sensual sebagai penutup lirik akhir sakeco disebut racikan, semata-mata sebagai hiburan atau humor agar suasana menjadi meriah, dan diharapkan masyarakat ikut tertawa dengan lelucon-lelucon. Kebanyakan dimainkan oleh orang-orang tua pada acara pernikahan. Dalam perkembangannya, kita harus melihat situasi masyarakat Indonesia secara keseluruhan pada masanya. Pada jaman Orde Baru (1980-1990an) humor-humor sensual mengalami perkembangan dalam media seni, contohnya: Warkop DKI, buku-buku cerita karangan Enny Arrow atau Fredy S, novel-novel panas atau novel dewasa yang juga publikasinya ikut masuk ke Sumbawa dengan harga yang sangat murah. Apalagi pada pemerintahan Orde Baru belum ada peraturan pemerintah yang ketat mengenai pornografi.

Kesimpulan:

Sakeco adalah tradisi lisan yang harus dilestarikan dan perlu penelitian lebih lanjut tentang sejarahnya. Perkembangan sakeco mengikuti perkembangan jaman, khususnya teknologi dan sosial masyarakat. Sakeco reggae adalah contoh perkembangan sakeco yang mendapat pengaruh jaman. Lirik yang paling dimainkan kebanyakan cerita tentang nilai-nilai agama Islam sebagai pesan utama. Perkembangan selanjutnya meliputi pesan religius hingga lelucon sensual, kisah hubungan muda mudi, istri-suami, pariwisata, politik, narkoba, dan nasionalisme. Perkembangan humor sensual sangat dipengaruhi oleh perkembangan kondisi masyarakat pada masa itu.

Saat ini, Islam menjadi topik yang paling menarik untuk diteliti. Dalam sebuah wawancara dengan Goenawan Mohamad di sebuah promosi video Frankfurt Book Fair 2015 disebutkan bahwa dari 28 seminar internasional yang dilakukan oleh Indonesia sebagai Tamu Kehormatan dalam pameran buku internasional tersebut, banyak peserta tertarik untuk mengeksplorasi Islam secara lebih mendalam. Pilihan seni kuno sakeco yang telah dipentaskan di Pasar Hamburg dan Frankfurt adalah bukti bahwa literatur lisan kuno sangat mendapat pengakuan dunia dan perlu dihargai serta dipelihara. Yang menjadi tantangan saat ini adalah seni sakeco masih jarang ditemukan dalam pendokumentasian sejarah. Dengan demikian, sakeco menjadi salah satu topik tradisi sastra kuno Nusantara yang sangat perlu untuk terus diteliti.

Dari PCINU Jerman untuk Indonesia: Memperkuat Potensi Umat Islam Melalui Waqaf dan Pendidikan

Penulis: Rangga E. Saputra

“Pada tahun 2036 Indonesia akan dianugerahi jumlah angkatan kerja – bonus demografi dengan jumlah usia produktif – yang melimpah. Potensi ini akan menjadi anugerah jika kualitas sumber daya manusianya berkualitas. Namun akan menjadi bencana jika sebaliknya,” ujar Prof. KH. Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, periode pemerintahan RI 2009-2014.

Prof. Nuh mengibaratkan umat Islam di Indonesia sebagai “Giant Lake”; airnya tenang, luas, dan indah dipandang. Namun itu saja tidak cukup. Air danau itu harus juga dialirkan untuk menghasilkan energi. Potensi jumlah umat Islam yang besar – ibarat air dalam danau – haruslah diberdayakan untuk menunjang kesejahteraan bangsa dan umat Islam itu sendiri. Salah satu potensi umat Islam yang sangat penting adalah dalam bidang waqaf.

Topik tersebut disampaikan dalam Seminar Internasional yang bertajuk “Pemberdayaan Potensi Ekonomi Masyarakat melalui Waqaf serta Pengelolaan Perguruan Tinggi Berbasis Santri untuk Kemajuan Bangsa dan Negara”. Kegiatan diselenggarakan oleh PCI NU Jerman pada tanggal April 2019 dan dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, HE. Arief Havas Oegroseno, di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia, Berlin.

Hadir sebagai pembicara adalah Prof. Dr. KH. Muhammad Nuh (Ketua Badan Waqaf Indonesia), Prof. Dr. Achmad Jazidie (Rektor UNUSA), dan Prof. Kacung Maridjan, PhD (Wakil Rektor I UNUSA). Dihadiri juga oleh para pengurus dan jamaah NU dari berbagi kota di Jerman dan beberapa negara Eropa. Kegiatan dimulai dengan Istigosah dan Mauidhoh Hasanah.

Dalam sambutannya, Muhammad Rodlin Billah (Gus Oding), Ketua Dewan Tanfiziah PCINU Jerman, menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat silaturahmi dan konsolidasi jamaah NU di Jerman. “Selain sebagai sarana silaturahmi jamaah NU se-Jerman, konferensi ini untuk mengonsolidasi gagasan-gagasan kontribusi NU dalam pembangunan bangsa. Hal ini penting karena pada tahun 2026 NU akan genap berusia 100 tahun”, tambah Gus Oding dalam sambutannya.

Prof. Nuh menambahkan bahwa Indonesia mempunyai modal yang besar untuk menjadikan waqaf sebagai penopang pembangunan bangsa. Yaitu modal populasi umat Muslim serta modal sosialnya. Sebagai negara dengan jumlah umat Muslim terbesar di dunia, jika potensi waqaf digerakkan, pembangunan infrastruktur dan manusia akan bisa lebih cepat ditingkatkan. “Bahkan jika potensi waqaf dimaksimalkan, Indonesia tidak perlu hutang untuk pembiayaan infrastruktur,” tambahnya.

Selanjutnya, modal sosial umat Islam adalah berupa budaya dan nilai. Waqaf telah menjadi budaya masyarakat Muslim hampir di seluruh Nusantara. Misalnya di kampung-kampung banyak masjid, musala, sekolah, rumah sakit, makam, dan sebagainya yang berdiri di atas tanah waqaf. Bahkan berdasarkan CAF World Giving Indeks ranking, masyarakat Indonesia merupakan yang paling dermawan di dunia.

Dengan potensi yang ada, beberapa usaha perlu dilakukan untuk memaksimalkan potensi waqaf di Indonesia. Pertama, menumbuhkan kesadaran untuk berwaqaf, khususnya kepada generasi millenial. Perlu dilakukan sosialisasi mulai dari tingkat sekolah dan kampus. Karena generasi mereka inilah yang nantinya akan menempati usia angkatan kerja. Kedua, perlu membentuk ekosistem waqaf. Bisa melalui regulasi serta sinergi antar lembaga pemerintah dan masyarakat yang mendorong perkembangan waqaf.

Menyambung gagasan Prof. Nuh, ditambahkan oleh Prof. Kacung Maridjan bahwa dari perspektif sejarah politik Indonesia, partai Islam tidak pernah menjadi pemenang dalam pemilu (single majority party). Pemenang pemilu selalu didominasi oleh partai nasionalis; jika tidak dibilang sekuler. Namun, dalam sejarah Indonesia agama tidak bisa dipisahkan dari kebijakan publik. Contohnya, terdapat undang-undang waqaf, haji, serta beberapa institusi yang mengatur kehidupan keagamaan masyarakat, seperti Kementerian Agama dan Peradilan Agama.

Artinya, komitmen partai-partai politik –apapun ideologinya – atau pun institusi politik lainnya terhadap urusan publik terkait umat Muslim sudah sangat kuat. Lembaga pendidikan seperti ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama), yang merupakan cikal bakal IAIN (Institut Agama Islam Negeri), didirikan pada era Sukarno. Bahkan transformasi IAIN menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) terjadi pada periode Presiden Megawati. Artinya, menggerakkan potensi waqaf umat Islam sangat mungkin dalam kondisi struktur dan budaya politik di Indonesia.

Terakhir, Prof. Achmad Jazidie, mengingatkan kembali bahwa dalam sejarahnya NU dibangun di atas tiga pilar: Nahdlatul Tujjar (ekonomi/kesejahteraan), Taswirul Afkar (pemikiran/intelektualitas), dan Nahdlatul Wathan (Kebangsaan). “Untuk urusan kebangsaan, sudah selesai bagi NU. Komitmen NU terhadap NKRI dan Pancasila sudah final. Bahkan NU menjadi benteng eksistensi negara bangsa Indonesia. Namun tantangan bagi NU saat ini adalah dalam dua bidang lainnya, yaitu kesejahteraan dan pendidikan” ujar Prof. Jazidie.

Pada era Reformasi ini terbuka kesempatan bagi NU untuk mengembangkan institusi pendidikan berbasis santri. Mulai dari pendidikan dasar sampai tinggi. Bahkan saat ini perguruan tinggi NU sudah banyak berdiri, diantaranya UNUSA, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Melalui universitas ini, kontribusi NU dalam bidang pendidikan terlembagakan. Berbeda dengan masa Orde Baru di mana banyak lembaga-lembaga pendidikan yang berafiliasi dengan NU, namun tidak menunjukkan jati diri NU karena alasan politis tertentu.

“Diharapkan lembaga-lembaga pendidikan NU memberikan ruang untuk para santri, yang selama ini kerap dipandang “terbelakang”, untuk melakukan mobilisasi vertikal. Sehingga melalui lembaga pendidikan ini, lahirlah para santri yang berkontribusi dalam pembangunan bangsa dalam segala bidang”, tambah Prof. Jazidie.

Top