Pertunjukan Wayang Orang “Kresna Duta” di Tiga Kota

Yayasan Paramarta Karya Budaya bekerjasama dengan Diaspora Indonesia in Bremen e. V. , Kantor Perwakilan RI di Hamburg, Kemendikbud, IASI dan simpul-simpul diaspora Indonesia di Jerman lainnya akan menyelenggarakan Pagelaran Wayang Orang dengan lakon Kresna Duta di beberapa kota di Jerman. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Penguatan Rumah Budaya Indonesia di Mancanegara yang bertujuan untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dengan Jerman di bidang kebudayaan.

Jadwal Pertunjukan adalah sebagai berikut:

2 SEP. 2019
Jam 19:00 
Neue Flora, Hamburg

4 SEP. 2019
Jam 19:00 
Altes Magazin, Hannover

7 SEP. 2019
Jam 19:00 
Metropol, Bremen

Untuk pemesanan tiket dan info lebih lanjut bisa dilihat di website:
http://www.kresna-duta.com

IASI untuk Dirgantara Indonesia

Oleh : Divisi Teknologi Tinggi dan Industri Strategis IASI

Sebuah rekomendasi untuk Aerosummit 2018 dengan membangun sinergi ekosistem dirgantara yang kuat

Pengembangan dan penguasaan kemandirian industri berteknologi tinggi merupakan salah satu pondasi yang sangat penting dalam percepatan perekonomian. Hal ini juga menjadi salah satu pilar dalam prioritas pembangunan, sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa lainnya.

Indonesia memiliki potensi daya saing di pasar internasional ini, salah satunya di bidang industri dirgantara.

Strategic Partnership, atau kerjasama kemitraan strategis bisa menjadi salah satu kunci sehingga ekosistem yang kuat antara seluruh stakeholder dirgantara (MRO, aero manufaktur, R&D, operator dan regulator) bisa terbangun dalam kesatuan pandangan akan kemajuan dirgantara Indonesia ke depan.

AEC (Aircraft Engineering Center) sebagai salah satu ide wahana dalam Kerjasama Kemitraan Strategis bertujuan untuk menguasai ruh dari pengembangan state-of-the-art dirgantara terkini dengan ikut terlibat dalam pengembangan industri teknologi dirgantara besar dunia.

Sinergisitas yg kokoh dalam ekosistem dirgantara Indonesia yang kuat, dengan kehadiran AEC salah satunya, akan membuat Indonesia bisa mensejajarkan kemampuan industri dirgantaranya secara internasional.

Berikut rekomendasi IASI e.V.  untuk mendorong terbangunnya ekosistem dirgantara Indonesia yang kuat, dan dalam penyusunan roadmap dirgantara nasional dalam Aerosummit 2018.

Sakeco, Seni Lisan Kuno Suku Sumbawa: dari menabuh rebana hingga musik reggae

(oleh: Annisa Hidayat / Mahasiswi S2 Universität Hamburg)

Pada tanggal 3 Mei 2019 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Hamburg bekerja sama dengan IASI – Jerman serta Bidang Studi Indonesia/Melayu – Universitas Hamburg telah menyelenggarakan acara ‚dialegtika‘ ke-2 untuk tahun 2019. Bertempat di Asien-Afrika-Institut, Uni Hamburg. Topik yang disajikan adalah tentang eksplorasi perkembangan seni Sakeco – Sumbawa. Pemakalah: Annisa Hidayat, mahasiswi S2 di Jurusan Asia Tenggara – Universitas Hamburg.

 

Sakeco adalah pertunjukan seni tradisional suku Sumbawa di Pulau Sumbawa. Dikenal juga sebagai musik sufi karena isinya mengandung makna filosofis. Ceritanya menggambarkan pesan cinta kepada Tuhan dan kebaikan dalam menjalani kehidupan.

Sakeco kini telah mengalami banyak perubahan. Tidak hanya dalam puisi atau liriknya yang berfungsi sebagai media komunikasi dan penyebaran ajaran Islam, tetapi juga pada musiknya. Lirik sakeco sebelumnya lebih tentang pengungkapan cinta kepada Tuhan. Kini mencakup juga tentang percintaan manusia, kehidupan remaja, suami istri, dan bahkan seksualitas. Sedangkan dalam unsur music dikenal genre sakeco regae sebagai sakeco modern.

Dalam penampilannya, sakeco melibatkan dua pemain yang berperan sebagai penyanyi cerita (story teller) yang juga harus bisa bermain rebana sebagai musik pengiring. Mereka akan berkicau, artinya saling bersahutan dalam menyelesaikan sebuah paragraf dari sebuah cerita dan kemudian melanjutkannya ke lirik berikutnya. Sakeco biasanya tampil pada pesta-pesta pernikahan, acara keagamaan (seperti Maulid Nabi Muhammad), festival budaya, dan upacara penyambutan. Ceritanya disampaikan dalam beragam tema, misalnya tentang hubungan pemuda, kasus perceraian, fenomena politik dan sosial, dan lain-lain. Oleh karena itu, sakeco dianggap sebagai puisi yang berbentuk naratif. Cerita dalam sakeco umumnya terdiri dari sebuah pembukaan yang berisi ucapan selamat datang dan terima kasih kepada penonton. Selanjutnya, bagian pembukaan diikuti dengan inti cerita atau isi berupa ringkasan cerita. Bagian terakhir adalah penutupan yang biasanya merupakan lelucon sensual.

Sakeco Sumbawa saat ini dianggap sebagai salah satu pertunjukan seni tradisional Sumbawa yang harus dilestarikan. Sayangnya, latar belakang sejarah seni ini masih misterius. Sejauh ini, baru sedikit artikel tentang seni tradisional masyarakat Sumbawa yang telah ditulis oleh ilmuwan etnografi atau ahli musik budaya. Juga hingga saat ini belum banyak yang meneliti tentang sejarah sakeco. Sebagai sastra lisan, sakeco adalah literatur lisan yang terus berkembang tanpa diketahui siapa yang pertama kali menciptakan seni pertunjukan tradisional ini. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, istilah ‘sakeco‘ berasal dari dua orang tua yang bernama ‘Sake’ dan ‘Co’; masing-masing diambil dari nama ‚Zakariah‘ dan ‚Syamsudin‘. Keduanya disebut sebagai yang pertama kali membawakan kesenian tradisional sakeco.

Dalam ekplorasi maknanya, secara literal istilah sakeco berasal dari kata ‘keco‘ (bahasa Sumbawa) yang berarti ‘kicau‘ dalam bahasa indonesia. Di Sumbawa, arti keco mirip dengan istilah untuk suara burung juga merupakan makna puitis untuk dikatakan kepada orang yang suka berbunyi. Di Sumbawa orang yang suka terdengar suaranya, bernyanyi, berpikir, atau mampu menceritakan atau mengembangkan dikatakan memiliki keco yang baik. Istilah ‘na nyaman keco na’ atau kicauan yang nyaman berarti betapa indahnya orang berbicara atau berpidato. Artinya nembangnya yang indah (bernyanyi) atau bicaranya enak didengar. Bila seseorang terlihat begitu pendiam, maka di Sumbawa orang tersebut dikenal dengan istilah ‘nonya keco na’ atau ‘tidak berkicau’. Artinya, orang tersebut tidak vokal, tidak bisa mengungkapkan pendapat, atau tidak bernyanyi bersama saat dalam bermain, bisa juga dikatakan orang tersebut tidak ada kabar berita. ‘Sakeco‘ bisa dikatakan memiliki arti bernyanyi, karena sakeco dinyanyikan oleh dua orang yang saling bersahutan seperti burung bernyanyi dan saling menyambut satu sama lain.

Sakeco mengalami perkembangan yang cukup besar sejak Kecamatan Sumbawa Barat mengalami pemekaran sebagai Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) pada 2003, penyelenggaraan festival-festival, dan kompetensi budaya antar daerah. Keadaan ini membuat komunitas budaya yang ikut serta dalam setiap festival juga ingin terus berkembang menjadi yang terbaik. Tidak hanya pertandingan antar daerah, melainkan juga antar sekolah SD, SMP, dan SMA yang kemudian memunculkan penampil-penampil seni dan karya-karya seni yang baru, termasuk kesenian sakeco. Pada awal 2009 program pemerintah tentang pariwisata dan budaya juga sangat banyak. Budaya diyakini sebagai bagian terpenting dari program pariwisata, sehingga melahirkan genre sakeco baru, yaitu sakeco reggae sebagai sakeco modern yang tidak lagi tampil dengan rebana, melainkan musik elektronik. Evolusi sakeco menjadi reggae karena pengaruh berkembangnya pariwisata Indonesia pada umumnya, dan pariwisata Lombok dan Sumbawa khususnya. 2009-2010 adalah awal periode trend berpariwisata sebagai gaya hidup, seiring dengan berkembangnya teknologi digital. Banyak bermunculan promo perjalanan wisata di media social. Program pemerintah bagian kebudayaan dan pariwisata misalnya dengan program “wonderful Indonesia”: Visit Lombok Sumbawa 2010 sampai sekarang. Isi sakeco reggae adalah tentang pariwisata, keindahan alam Sumbawa, khususnya pantainya. Lirik bahasa Inggrisnya “welcome to Indonesia” sebagai komunikasi kepada masyarakat dunia yang lebih luas.

Humor sensual sebagai penutup lirik akhir sakeco disebut racikan, semata-mata sebagai hiburan atau humor agar suasana menjadi meriah, dan diharapkan masyarakat ikut tertawa dengan lelucon-lelucon. Kebanyakan dimainkan oleh orang-orang tua pada acara pernikahan. Dalam perkembangannya, kita harus melihat situasi masyarakat Indonesia secara keseluruhan pada masanya. Pada jaman Orde Baru (1980-1990an) humor-humor sensual mengalami perkembangan dalam media seni, contohnya: Warkop DKI, buku-buku cerita karangan Enny Arrow atau Fredy S, novel-novel panas atau novel dewasa yang juga publikasinya ikut masuk ke Sumbawa dengan harga yang sangat murah. Apalagi pada pemerintahan Orde Baru belum ada peraturan pemerintah yang ketat mengenai pornografi.

Kesimpulan:

Sakeco adalah tradisi lisan yang harus dilestarikan dan perlu penelitian lebih lanjut tentang sejarahnya. Perkembangan sakeco mengikuti perkembangan jaman, khususnya teknologi dan sosial masyarakat. Sakeco reggae adalah contoh perkembangan sakeco yang mendapat pengaruh jaman. Lirik yang paling dimainkan kebanyakan cerita tentang nilai-nilai agama Islam sebagai pesan utama. Perkembangan selanjutnya meliputi pesan religius hingga lelucon sensual, kisah hubungan muda mudi, istri-suami, pariwisata, politik, narkoba, dan nasionalisme. Perkembangan humor sensual sangat dipengaruhi oleh perkembangan kondisi masyarakat pada masa itu.

Saat ini, Islam menjadi topik yang paling menarik untuk diteliti. Dalam sebuah wawancara dengan Goenawan Mohamad di sebuah promosi video Frankfurt Book Fair 2015 disebutkan bahwa dari 28 seminar internasional yang dilakukan oleh Indonesia sebagai Tamu Kehormatan dalam pameran buku internasional tersebut, banyak peserta tertarik untuk mengeksplorasi Islam secara lebih mendalam. Pilihan seni kuno sakeco yang telah dipentaskan di Pasar Hamburg dan Frankfurt adalah bukti bahwa literatur lisan kuno sangat mendapat pengakuan dunia dan perlu dihargai serta dipelihara. Yang menjadi tantangan saat ini adalah seni sakeco masih jarang ditemukan dalam pendokumentasian sejarah. Dengan demikian, sakeco menjadi salah satu topik tradisi sastra kuno Nusantara yang sangat perlu untuk terus diteliti.

Dari PCINU Jerman untuk Indonesia: Memperkuat Potensi Umat Islam Melalui Waqaf dan Pendidikan

Penulis: Rangga E. Saputra

“Pada tahun 2036 Indonesia akan dianugerahi jumlah angkatan kerja – bonus demografi dengan jumlah usia produktif – yang melimpah. Potensi ini akan menjadi anugerah jika kualitas sumber daya manusianya berkualitas. Namun akan menjadi bencana jika sebaliknya,” ujar Prof. KH. Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, periode pemerintahan RI 2009-2014.

Prof. Nuh mengibaratkan umat Islam di Indonesia sebagai “Giant Lake”; airnya tenang, luas, dan indah dipandang. Namun itu saja tidak cukup. Air danau itu harus juga dialirkan untuk menghasilkan energi. Potensi jumlah umat Islam yang besar – ibarat air dalam danau – haruslah diberdayakan untuk menunjang kesejahteraan bangsa dan umat Islam itu sendiri. Salah satu potensi umat Islam yang sangat penting adalah dalam bidang waqaf.

Topik tersebut disampaikan dalam Seminar Internasional yang bertajuk “Pemberdayaan Potensi Ekonomi Masyarakat melalui Waqaf serta Pengelolaan Perguruan Tinggi Berbasis Santri untuk Kemajuan Bangsa dan Negara”. Kegiatan diselenggarakan oleh PCI NU Jerman pada tanggal April 2019 dan dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, HE. Arief Havas Oegroseno, di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia, Berlin.

Hadir sebagai pembicara adalah Prof. Dr. KH. Muhammad Nuh (Ketua Badan Waqaf Indonesia), Prof. Dr. Achmad Jazidie (Rektor UNUSA), dan Prof. Kacung Maridjan, PhD (Wakil Rektor I UNUSA). Dihadiri juga oleh para pengurus dan jamaah NU dari berbagi kota di Jerman dan beberapa negara Eropa. Kegiatan dimulai dengan Istigosah dan Mauidhoh Hasanah.

Dalam sambutannya, Muhammad Rodlin Billah (Gus Oding), Ketua Dewan Tanfiziah PCINU Jerman, menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat silaturahmi dan konsolidasi jamaah NU di Jerman. “Selain sebagai sarana silaturahmi jamaah NU se-Jerman, konferensi ini untuk mengonsolidasi gagasan-gagasan kontribusi NU dalam pembangunan bangsa. Hal ini penting karena pada tahun 2026 NU akan genap berusia 100 tahun”, tambah Gus Oding dalam sambutannya.

Prof. Nuh menambahkan bahwa Indonesia mempunyai modal yang besar untuk menjadikan waqaf sebagai penopang pembangunan bangsa. Yaitu modal populasi umat Muslim serta modal sosialnya. Sebagai negara dengan jumlah umat Muslim terbesar di dunia, jika potensi waqaf digerakkan, pembangunan infrastruktur dan manusia akan bisa lebih cepat ditingkatkan. “Bahkan jika potensi waqaf dimaksimalkan, Indonesia tidak perlu hutang untuk pembiayaan infrastruktur,” tambahnya.

Selanjutnya, modal sosial umat Islam adalah berupa budaya dan nilai. Waqaf telah menjadi budaya masyarakat Muslim hampir di seluruh Nusantara. Misalnya di kampung-kampung banyak masjid, musala, sekolah, rumah sakit, makam, dan sebagainya yang berdiri di atas tanah waqaf. Bahkan berdasarkan CAF World Giving Indeks ranking, masyarakat Indonesia merupakan yang paling dermawan di dunia.

Dengan potensi yang ada, beberapa usaha perlu dilakukan untuk memaksimalkan potensi waqaf di Indonesia. Pertama, menumbuhkan kesadaran untuk berwaqaf, khususnya kepada generasi millenial. Perlu dilakukan sosialisasi mulai dari tingkat sekolah dan kampus. Karena generasi mereka inilah yang nantinya akan menempati usia angkatan kerja. Kedua, perlu membentuk ekosistem waqaf. Bisa melalui regulasi serta sinergi antar lembaga pemerintah dan masyarakat yang mendorong perkembangan waqaf.

Menyambung gagasan Prof. Nuh, ditambahkan oleh Prof. Kacung Maridjan bahwa dari perspektif sejarah politik Indonesia, partai Islam tidak pernah menjadi pemenang dalam pemilu (single majority party). Pemenang pemilu selalu didominasi oleh partai nasionalis; jika tidak dibilang sekuler. Namun, dalam sejarah Indonesia agama tidak bisa dipisahkan dari kebijakan publik. Contohnya, terdapat undang-undang waqaf, haji, serta beberapa institusi yang mengatur kehidupan keagamaan masyarakat, seperti Kementerian Agama dan Peradilan Agama.

Artinya, komitmen partai-partai politik –apapun ideologinya – atau pun institusi politik lainnya terhadap urusan publik terkait umat Muslim sudah sangat kuat. Lembaga pendidikan seperti ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama), yang merupakan cikal bakal IAIN (Institut Agama Islam Negeri), didirikan pada era Sukarno. Bahkan transformasi IAIN menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) terjadi pada periode Presiden Megawati. Artinya, menggerakkan potensi waqaf umat Islam sangat mungkin dalam kondisi struktur dan budaya politik di Indonesia.

Terakhir, Prof. Achmad Jazidie, mengingatkan kembali bahwa dalam sejarahnya NU dibangun di atas tiga pilar: Nahdlatul Tujjar (ekonomi/kesejahteraan), Taswirul Afkar (pemikiran/intelektualitas), dan Nahdlatul Wathan (Kebangsaan). “Untuk urusan kebangsaan, sudah selesai bagi NU. Komitmen NU terhadap NKRI dan Pancasila sudah final. Bahkan NU menjadi benteng eksistensi negara bangsa Indonesia. Namun tantangan bagi NU saat ini adalah dalam dua bidang lainnya, yaitu kesejahteraan dan pendidikan” ujar Prof. Jazidie.

Pada era Reformasi ini terbuka kesempatan bagi NU untuk mengembangkan institusi pendidikan berbasis santri. Mulai dari pendidikan dasar sampai tinggi. Bahkan saat ini perguruan tinggi NU sudah banyak berdiri, diantaranya UNUSA, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Melalui universitas ini, kontribusi NU dalam bidang pendidikan terlembagakan. Berbeda dengan masa Orde Baru di mana banyak lembaga-lembaga pendidikan yang berafiliasi dengan NU, namun tidak menunjukkan jati diri NU karena alasan politis tertentu.

“Diharapkan lembaga-lembaga pendidikan NU memberikan ruang untuk para santri, yang selama ini kerap dipandang “terbelakang”, untuk melakukan mobilisasi vertikal. Sehingga melalui lembaga pendidikan ini, lahirlah para santri yang berkontribusi dalam pembangunan bangsa dalam segala bidang”, tambah Prof. Jazidie.

Menarik Minat Diaspora Indonesia di Jerman dan Tenaga Ahli Indonesia Lulusan Jerman Dalam Rangka Membangun Tanah Air, Indonesia

Penulis: Yudi Ardianto 
Editor : Yanti Mirdayanti 

Pada tanggal 13 Maret 2019 di KJRI – Hamburg telah diselenggarakan acara presentasi dan diskusi dengan topik “Menarik Minat Diaspora Indonesia di Jerman dan Tenaga Ahli Indonesia Lulusan Jerman Dalam Rangka Membangun Tanah Air”. Pembicara tunggal acara yang diselenggarakan oleh IASI – Jerman bekerjasama dengan KJRI – Hamburg ini adalah Makhdonal Anwar, Koordinator PMD (Program Migrasi dan Diaspora) GIZ – Indonesia (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusamenarbeit).

Hadir dalam acara ini berbagai kalangan dari diaspora Indonesia yang terdiri dari para tenaga profesional, praktisi industri, akademisi, perwakilan PPI dari beberapa kota di Hamburg utara, serta mahasiswa S2 dan S3 dari Universitas Hamburg.

Acara dibuka oleh ketua IASI, Yudi Ardianto dan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Konsul Jenderal RI di Hamburg, Dr. Bambang Susanto.

Dalam paparan singkatnya tentang GIZ, Makhdonal Anwar menjelaskan bahwa GIZ adalah lembaga BUMN milik pemerintah Jerman, yaitu Kementrian Federal untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan/BMZ – Bundes Ministerium für die Wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung yang merupakan lembaga pelaksana untuk memberikan bantuan teknis di 130 negara mitra,  salah satunya Indonesia. GIZ mendapatkan mandat dari BMZ untuk memberikan bantuan teknis yang didukung sekitar 18.000 karyawan dengan volume bisnis sebesar 2,4 milyar Euro (data 2016). Di Indonesia sendiri GIZ hadir sejak tahun 1975. Pada saat berdiri namanya adalah GTZ, Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit GmbH. Saat ini GIZ-Indonesia memiliki sekitar 300 karyawan dan bersama pemerintah Indonesia mengelola lebih dari 60 proyak yang bernilai 40 juta Euro.

Paparan yang kedua menyangkut topik yang sangat relevan dengan diaspora Indonesia, yaitu tentang empat komponen dalam cakupan program migrasi dan diaspora. Secara singkat komponen-komponen program tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Returning Experts / Tenaga Ahli Pulang Kampung (sejak 1986)

Target dari program ini adalah mahasiswa yang baru lulus atau profesional Indonesia yang telah kembali dan baru saja mendapatkan pekerjaan di Indonesia. GIZ memberikan subsidi gaji selama 2 tahun. Tujuan subsidi untuk membantu agar yang bersangkutan bisa lebih fokus menjalankan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa harus memikirkan penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Manfaat yang diharapkan dari program ini adalah sumber daya manusia berkualitas lulusan Jerman bisa melakukan proses transfer ilmu/sharing of knowledge yang mengacu ke perkembangan terbaru di Jerman. Akses dengan dunia internasional terutama Jerman juga menjadi nilai tambah.

  1. Short-Term Diaspora Experts / Program Jangka Pendek bagi Tenaga Ahli Diaspora Indonesia (sejak Agustus 2018)

Profesional Indonesia yang sedang bekerja di Jerman akan menjalankan masa penugasan di Indonesia selama minimum 3 minggu  dan maksimum  6 bulan di salah satu institusi di Indonesia. Bisa universitas, lembaga riset, perusahaan swasta maupun pemerintah daerah/provinsi. Program PMD memberikan fasilitas dengan mendatangkan tenaga ahli diaspora Indonesia. Pembiayaan tenaga ahli 100% diberikan oleh program PMD. Komponen kedua ini  bisa digunakan juga untuk skema Training of Trainers (pelatihan untuk pelatih). Pada bulan September 2018 lalu GIZ Indonesia telah mengumumkan daftar permintaan tenaga ahli dari berbagai instansi di Indonesia, data lengkap bisa dilihat di tautan IASI facebook page berikut: info_kebutuhan_tenaga_ahli

  1. Business Idea for Development / Ide Berbisnis untuk Pembangunan (sejak 2014)

Program PMD ketiga ini memberikan dukungan kepada diaspora Indonesia di Jerman yang baru pulang ke Indonesia dan berminat untuk membangun bisnis wiraswasta/menjadi entrepreneur. Setelah memulai proses seleksi dengan metode Pitch – Bootcamp – Mentoring, bagi yang terpilih akan mendapat dukungan senilai sampai 5000 Euro dalam bentuk mentoring/coaching dan juga biaya untuk pembuatan purwarupa/prototyping. PMD juga memberikan dukungan dengan memfasilitasi kontak dengan bank, calon partner bisnis dan investor.

  1. Migration Policy Advice / Masukan untuk Kebijakan Migrasi 

Program PMD yang ke-4 ini masih dalam proses persiapan. Mitra dari komponen program ini adalah KEMENLU yang sudah diinisiasi sejak tahun 2014. Tujuan dari program ini adalah untuk menjembatani diaspora Indonesia di Jerman supaya bisa memberikan masukan-masukannya dalam tataran kebijakan migrasi pemerintah RI.

Dalam sesi tanya jawab, para peserta yang hadir sangat antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan diskusi kemudian dilanjutkan sambil menyantap hidangan makan malam.

Dalam acara ini juga disepakati bahwa GIZ Indonesia bekerjasama dengan IASI akan menampung minat dari diaspora Indonesia dalam bentuk susunan daftar pool of experts dalam rangka mendukung program short term diaspora experts.  Untuk hal ini, selain data pribadi juga diperlukan deskripsi pendek keahlian, institusi yang akan didatangi (jika sudah ada) dan/atau daerah yang diminati, serta kapan rencana akan ke Indonesia. Sebagai informasi tambahan, sampai saat ini Indonesia bagian timur belum banyak memanfaatkan program ini dan diharapkan untuk ke depannya akan lebih banyak perserta yang berminat untuk ke sana.

Untuk informasi lebih lanjut bisa mengontak langsung GIZ Indonesia:

Makhdonal Anwar
E-mail: makhdonal.anwar@giz.de
Telp.:  +62 21 2358 7111
www.cimonline.de

 

Presentasi tentang GIZ dan program PMD bisa diunduh dari tautan berikut:

GIZ

PMD_halaman_1-6

PMD halaman_7-13

Seminar Interaktif ‘Kresna Duta’ 2019 – Jerman (Bremen – Hamburg – Berlin)

Penulis: Prasti Pomarius / Divisi Kebudayaan
Editor : Yanti Mirdayanti 

Seminar interaktif ini merupakan bagian dari rangkaian proyek 2019 ‘Kresna Duta’ dalam misi memperkenalkan kesenian Wayang Orang di Jerman.

Di Seminar ini dijelaskan tentang rangkuman sejarah Wayang Orang, perbedaan mendasar Wayang Orang dan Wayang Kulit, penjelasan tentang pemain Wayang Orang sebagai aktor multitalen yang harus menguasai berbagai macam hal, seperti beragam gerak karakter, tembang, suara, dan lain-lain.

Kami bersyukur telah mendapatkan umpan balik/feedback positif dan apresiasi yang sangat tinggi dari para peserta seminar yang hadir (warga Jerman, Indonesia, maupun warga internasional di Jerman).

Hadirin sangat berantusias menantikan pagelaran kami pada bulan September mendatang di beberapa kota di Jerman. Akan diselenggarakan diantaranya di Hamburg, Bremen, Berlin, dan beberapa fragmen di kota lainnya, seperti Kiel, dll. Informasi lebih detail lainnya akan menyusul.

Keseluruhan Pengurus IASI, e.V.- Jerman, keseluruhan tim panitia, serta khususnya dari Koordinator Divisi Kebudayaan – Prasti Pomarius, kami haturkan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada para narasumber/maestro Wayang Orang dari Indonesia: Mas Wasi Bantolo, Mas Ali Marsudi, Senthun Bima/Mas Didit dan seluruh tim Jerman.

Acara Seminar Interaktif 2019 berlangsung:

  • di Bremen, 6 Maret 2019, bertempat di Übersee-Museum
  • di Hamburg, 7 Maret 2019, bertempat di Konsulat Jenderal Republik Indonesia / KJRI
  • di Berlin, 8 Maret 2019, bertempat di Rumah Budaya Indonesia / Indonesisches Kulturhaus

Keseluruhan delegasi Wayang Orang yang akan didatangkan ke Jerman pada bulan September adalah sekitar 30 pemain Wayang Orang dan 13 pengrawit / penabuh gamelan.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia turut mendukung pelaksanaan program budaya Wayang Orang ‘Kresna Duta’ 2019 di Jerman ini.

Penelitian Tentang Katak Mengantar Umilaela Arifin Mencapai Gelar Doktor di Jerman

(Keterangan foto: Prof. Dr. Alexander Haas bersama Dr. rer. nat. Umilaela Arifin)

Penulis: Annisa Hidayat / Mahasiswi Program Master, Universität Hamburg

Editor: Yanti Mirdayanti

It is odd that we have so little relationship with nature, with the insects and the leaping frog and the owl that hoots among the hills calling for its mate. We never seem to have a feeling for all living things on the earth” – (Jiddu Krishnamurti)  

Banyak jenis hewan yang mungkin jarang terpikirkan oleh banyak orang untuk diteliti. Misalnya, dalam film drama My House in Umbria diceritakan tentang seorang profesor di salah satu universitas di Amerika Serikat, Thomas Riversmith (Chris Cooper) yang berpuluh tahun meneliti semut rangrang merah dan istrinya yang juga berprofesi sebagai profesor meneliti semut rangrang hitam. Pada majalah National Geographic edisi Juni 2015, fotografer Martin Oeggerli meneliti tampilan desain di dalam mata seekor lalat buah. Umilaela, seorang peneliti Indonesia di Jerman, pun memilih meneliti katak Sumatra sebagai fokus studinya untuk mencapai gelar doktornya baru-baru ini. Dalam bahasa Jerman disertasinya  berjudul „Phylogenetische Systematik, Diversität und Biogeographie von Fröschen mit gastromyzophoren Kaulquappen auf Sumatra, Indonesien“ (Bahasa Indonesia: „Sistematika filogenetik, keanekaragaman dan biogeografi katak dengan berudu gastromyzofora di Sumatra, Indonesia“). 

Mencapai gelar doktor di Jerman adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan, namun memberi banyak pengalaman hidup berharga bagi si peneliti. Umilaela Arifin, seorang mahasiswi program S3 di Universität Hamburg telah berhasil mempertahankan ujian disertasinya di hadapan empat orang profesor penguji (termasuk satu profesor pembimbing) untuk mencapai gelar doktor pada 25 Januari 2019 yang lalu. Doktor yang diselesaikan dalam lima tahun itu mendapat dukungan beasiswa studi dari DAAD-IGSP (German Academic Exchange Service–Indonesian German Scholarship Program).dan Merit Scholarship for International Students of University Hamburg, serta dana penelitian dari DFG (Deutsche Forschungsgemeinschaft). Sekitar 40 orang hadir di sebuah ruangan tertutup di Zoologisches Institut – Universitas Hamburg untuk menyaksikan Umilaela mempresentasikan hasil penelitiannya yang cukup unik, yaitu tentang katak Sumatra sebagai fokus penelitian. Mengapa katak Sumatra?

Pada awal presentasi Umilaela terlebih dahulu menjelaskan pulau Sumatra secara geografis, tempat utama ditemukannya berbagai spesies katak yang akan ditelitinya. Paparan Sunda, termasuk di dalamnya adalah Sumatra, dikenal sebagai wilayah dengan keanekaragaman hayati dan spesies endemik yang tinggi. Hal ini diperkirakan karena pengaruh sejarah geologi yang sangat kompleks di wilayah ini, misalnya keberadaan sungai purba pada jaman Pleistosen (dua juta tahun yang lalu). Topik disertasi Umilaela difokuskan untuk mengetahui keberadaan daerah aliran sungai (DAS) purba di Sumatra yang berkaitan erat dengan pola penyebaran spesies katak di pulau ini. Katak dengan tipe berudu gastromyzofora (yang memiliki semacam alat penghisap di bagian perutnya) dipilih karena penyebarannya yang luas di Sumatra dan fase larvanya sangat bergantung pada habitat sungai berarus deras. Hasil penelitian yang dilakukan Umilaela dengan metode integrative taxonomy membuktikan bahwa katak dengan tipe berudu unik ini memiliki keanekaragaman spesies yang lebih banyak daripada yang diketahui saat ini. Satu marga katak (Sumaterana) dan dua spesies baru (S. montana, S. dabulescens), serta dua kandidat spesies (marga Huia) berhasil ditemukan melalui penelitian ini. Selain itu, pola penyebaran spesies katak marga Huia dan Sumaterana diperkirakan tidak dipengaruhi oleh keberadaan DAS purba karena nenek moyang kedua marga katak tersebut muncul lebih awal (25-27 juta tahun yang lalu) dibandingkan DAS purba tersebut (dua juta tahun yang lalu). Lebih menarik lagi, hasil penelitian Umilaela menunjukan bahwa penyebaran kedua marga katak tersebut mungkin dapat dibagi menjadi dua, yaitu di bagian utara dan bagian selatan pulau Sumatra. Dengan mempelajari keanekaragaman spesies dan pola penyebarannya, maka hasilnya diharapkan dapat menjadi bahan yang bermanfaat untuk mendesain sebuah metode konservasi yang tepat untuk spesies tersebut.

Selepas ujian yang cukup menegangkan, semua orang berkumpul di depan pintu untuk mendengarkan pengumuman resmi dari hasil ujiannya. Umilaela dinyatakan predikat Magna Cum Laude (sangat baik). Profesor pembimbing dari Umilaela kemudian menganugerahkan sebuah topi wisuda yang sangat unik yang menceritakan perjalanan Umilaela selama penelitian mencari katak Sumatra. Topi wisuda ditempeli dengan foto-foto Umilaela. Misalnya ketika menyeberangi sungai dengan perahu, atau ketika sedang berjalan dengan tas penuh katak. „Di tas kantong putih foto ini isinya katak“, jawab Umilaela ketika ditanya seorang teman. Ada seratus lebih jenis katak yang dikumpulkan Umilaela untuk diteliti sepanjang perairan Sumatra, yang pada akhirnya menemukan tiga jenis katak yang berbeda dan unik. Tiga jenis katak ini pada fase berudunya memiliki bentuk perut yang membantu menempel pada bebatuan sehingga tidak hanyut terbawa arus sungai yang deras tempat mereka hidup.

Selepas upacara penyerahan topi sarjana, para rekan mahasiswa dari berbagai negara dan profesor penguji, beserta teman-teman Indonesia yang hadir dipersilakan menyantap hidangan nasi kuning dan sebuah tumpeng. Sebelum upacara pemotongan tumpeng, Umilaela terlebih dahulu menjelaskan makna tumpeng dalam budaya tradisi Jawa. Tumpeng adalah simbol kesuburan dan kehidupan yang harmonis, ucap Umilaela.  Melambangkan kehidupan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa. Bentuk kerucut dari Nasi Kuning melambangkan gunung sebagai tempat Yang Maha Kuasa berada, sedangkan unsur di bawahnya, seperti urab toge, tempe, telur, ayam, dll. melambangkan kesuburan dan kehidupan yang selaras. Umilaela memotong tumpeng dan memberikannya kepada para profesor yang telah mengujinya itu sebagai simbol untuk berbagi kebahagiaan karena sudah berhasil melewati ujian disertasi dengan sukses. Semua yang datang terlihat begitu menikmati hidangan Nasi Kuning dan makanan kecil Indonesia lainnya.

Segenap pengurus dan anggota IASI – Jerman dengan ini mengucapkan Selamat untuk Dr. rer. nat. Umilaela Arifin atas keberhasilan disertasinya dan juga atas diperolehnya tiga tahun Postdoc Marie Curie EU Fellowship!!!

 

„I would kiss a frog even if there was no promise of a Prince Charming popping out of fit. I love frogs“  – (Cameron Diaz)

Mengapa Tidak Banyak Orang Indonesia Mengenal Wiji Thukul?

Penulis: Annisa Hidayat / Mahasiswi Program Master, Universität Hamburg

Editor: Yanti Mirdayanti / Ketua II & Divisi Pendidikan – IASI, e.V. - Jerman

“Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu”
(Wiji Thukul, “Aku Ingin Jadi Peluru)

Sebelumnya saya tidak benar-benar mengenal figur seorang Wiji Thukul, sampai kemudian pada suatu hari seorang teman dekat memperkenalkannya kepada saya. Kami berdua memang sangat menyukai dunia sastra, khususnya puisi. Komunikasi kami pun sering dilakukan lewat puisi. Teman saya itu sangat mengagumi Wiji Thukul, suatu hal yang kemudian menggiring saya untuk pula mengenal Wiji Thukul lebih dekat lagi. Akhirnya, saya pun membaca puisi-puisi karya penyair yang juga aktivis pergerakan reformasi Indonesia ini. Saya ingin mencari tahu lebih jauh, siapa sebenarnya Wiji Thukul dan karya seperti apa yang sangat dikagumi oleh teman dekat yang saya sukai itu. Demikianlah awal perkenalan saya dengan Wiji Thukul, seorang penyair Indonesia yang luar biasa dan sangat kritis serta jeli terhadap kepincangan-kepincangan yang terjadi di sekitarnya.

Saat ini, setiap kali saya membaca tulisan Wiji Thukul, maka memori masa lalu ketika masih bersahabat dekat dengan teman itu akan muncul lagi di ingatan. Saya pun harus berterimakasih kepadanya, karena dia jugalah  yang telah  memperkenalkan saya kepada novel “Cantik itu Luka”, karya hebat penulis muda Indonesia kelahiran Tasikmalaya, Eka Kurniawan. Waktu itu tahun 2012, pada saat saya belum membaca karya-karya Eka. Sebenarnya saya sudah sering melihat bukunya di toko buku, tetapi waktu itu belum ada ketertarikan untuk membacanya. Namun akhirnya saya pun membacanya, karena ingin mengenal teman saya itu dengan lebih dekat lagi melalui buku-buku  yang dibacanya. Saat itu kami saling berkirim pesan setiap hari melalui Yahoo Messenger. Betapa klasiknya masa itu, saat belum banyak aplikasi media sosial seperti saat ini!

Saya harus menceritakan hal-hal tersebut karena beberapa malam lalu  muncul beberapa pertanyaan pada sebuah diskusi setelah menonton pemutaran film Wiji Thukul, “Istirahatlah Kata-Kata” di Univeristas Hamburg, Jerman. Pemutaran film tersebut dikoordinir oleh Ikatan Masyarakat Jerman – Indonesia di Hamburg (disingkat: DIG – Hamburg) yang berkolaborasi dengan Jurusan Asia Tenggara, Universitas Hamburg. Ini merupakan film terakhir yang diputar dalam rangka program seri film Indonesia di Jurusan Asia Tenggara untuk Semester Musim Dingin 2018/2019. Pada setiap pemutaran film selalu ada tamu yang diundang untuk menjadi pembicara dalam sesi diskusi (tanya jawab) tentang topik film dan seluk beluk latar belakang ceritanya.

Pada Selasa malam, tanggal 15 Januari 2019 lalu, tamu yang menjadi pembicara pada pemutaran film di Universitas Hamburg adalah Peter Sternagel, seorang penerjemah beberapa karya sastra modern Indonesia, termasuk kumpulan puisi Wiji Thukul. Terjemahan dilakukannya dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman. Sesuatu yang spesial juga dari acara malam pemutaran film yang diselenggarakan di aula kampus Ethnologi itu adalah keterlibatan para mahasiswa  Program Studi Indonesia /Melayu. Mereka ikut pentas membacakan puisi – puisi Wiji Thukul dalam versi Bahasa Indonesia. Pembacaan versi Bahasa Jerman dilakukan oleh sang penerjemah sendiri, Peter Sternagel.

Di antara sekian pertanyaan yang muncul pada acara diskusi adalah: “Mengapa tidak banyak orang Indonesia yang mengenal Wiji Thukul?”. Beberapa mahasiswa yang menyatakan bahwa mereka mengenal cerita Wiji Thukul adalah mereka yang hampir semuanya pernah tinggal di kota Yogyakarta. Di kota ini budaya seni dan sastra memang selalu aktif, sehingga banyak orang, khususnya para mahasiswa, yang mengenal Wiji Thukul melalui kegiatan aktivismenya maupun karya-karyanya puisinya. Maka bukan suatu kebetulan, teman dekat saya itu juga tinggal di Yogyakarta dan berkuliah di sana.

Wiji Thukul tidak asing bagi mereka yang menyukai sastra dan mereka para aktivis mahasiswa. Mengapa sastra? Selama jaman Orde Baru (1967 – 1998) telah terjadi pengekangan terhadap hak-hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat yang kritis dan dianggap berbeda dari versi penguasa. Keadaan ini membuat orang-orang menyampaikan pesan-pesan tersembunyi melalui sastra yang banyak dibalut dengan metafora-metafora. Pesan-pesan yang kritis dan terbuka dianggap sangat berbahaya bagi yang menyuarakannya. Pramoedya Ananta Toer misalnya adalah salah seorang penulis legendaris yang berani menyuarakan hal-hal yang berhubungan dengan pelanggaran hak-hak azasi manusia, tentang sejarah yang ditutupi dan fakta yang diputarbalikkan. Pramoedya kemudian dijebloskan ke penjara, dikirim ke Pulau Buru sebagai tahanan politik, dan buku-buku karyanya dibakar oleh militer Orde Baru.

Sastra adalah  salah satu jalan yang dipilih Wiji Thukul untuk menyampaikan kritik-kritiknya kepada pemerintah Orde Baru. Mereka yang tidak tertarik dengan sastra memang akan jarang mendengar nama Wiji Thukul. Apalagi yang tidak aktif secara langsung dalam pergerakan reformasi, maka tidak akan mengenal siapa itu Wiji Thukul.

Wiji Thukul adalah Pram, adalah Rendra, adalah mereka yang berani mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Kata-kata yang dilahirkan bukan kata-kata yang selalu bersembunyi di balik metafora. Mereka orang-orang sunyi yang berbicara tentang kemanusiaan. Dan sepanjang sejarahnya, orang-orang yang sepi adalah mereka yang selalu berbicara tentang kebenaran.

 

“Jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan,
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang,
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding,
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan tetes darah!”

(Wiji Thukul, “Penyair”)

Top