DSC_0258

Peresmian Organisasi Aupair, FSJ, Azubi (AFA)

(oleh: Alvita)

Pada hari Sabtu, tanggal 3 Februari 2018, telah berlangsung acara peresmian organisasi Aupair, FSJ, Azubi (disingkat: AFA) di gedung Asien-Afrika Institut (AAI), Ruang 121, Universität Hamburg. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk memperkenalkan jenis pekerjaan dan pendidikan yang unik dan banyak diikuti oleh orang-orang muda Indonesia di Jerman, yang ternyata masih asing di telinga pemerintah Indonesia. Hal ini pada awalnya membuat banyak orang muda tersebut merasa tidak mendapat dukungan dan informasi yang cukup dari pemerintah dalam melakukan praktik AFA di Jerman. Adapun dibentuknya organisasi khusus AFA adalah untuk mewadahi aspirasi para peserta AFA Indonesia di Jerman, juga sebagai sarana bertukar informasi dan kegiatan-kegiatan sosial bagi calon peserta AFA atau orang yang sudah terjun dalam dunia AFA.

23755270_1623084874380710_3779319260505448875_n

Tarian Cendrawasih sebagai tarian pembuka, oleh Pak Rizky (Paris)

23755270_1623084874380710_3779319260505448875_n

Penjelasan singkat mengenai AFA adalah sebagai berikut:

  • Aupair : peserta pertukaran budaya sekaligus bekerja menjadi kakak asuh yang menjaga anak-anak dan tinggal bersama keluarga Jerman, mendapat kamar sendiri, uang jajan, kursus bahasa jerman, liburan, dan asuransi.
  • Freiwiliges Soziales Jahr (FSJ): sukarelawan berusia 17-27 tahun yang bekerja di bidang sosial, mendapat gaji pokok, asuransi, liburan, dan seminar.
  • Azubi: peserta sekolah sambil praktek kerja dalam berbagai bidang (sekolah vokasi), ada yang mendapat gaji, ada yang justru harus membayar sendiri(tergantung pemberi kerja). Setelah lulus bisa langsung bekerja atau boleh juga melanjutkan kuliah.

Panitia khusus untuk acara peresmian AFA di Hamburg terdiri dari Girindra, Desty, Ragil, Alvita, Lita, Cindy, dan Clara. Panitia khusus AFA ini bekerja sama dengan organisasi Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia – Jerman (IASI) sebagai koordinator utama acara dan Bidang Studi Program Indonesia/Melayu/Pasifik (Austronesistik) – Universitas Hamburg sebagai tuan rumah. IASI Jerman dipimpin olek Ketua I – Pak Yudi Ardianto dan Ketua II – Ibu Yanti Mirdayanti, Sekretaris I – Ibu Nuke Sulastari Andiani, dan Webmaster – Sdr. Alvin Rindra. AFA Jerman juga bekerja sama dengan dua penari profesional Indonesia yang khusus datang dari Paris, yaitu Ibu Lola dan Pak Rizky. Setiap anggota panitia memiliki tugas masing-masing, seperti: menyiapkan tempat, membawakan acara, menyambut tamu, menjadi pembicara, mengisi acara hiburan, mengatur bagian teknik, melakukan dokumentasi dan promosi, hingga mengundang seorang penjual khusus jajanan Indonesia dari Hamburg.

23755270_1623084874380710_3779319260505448875_n

Para peserta dan perwakilan dari KJRI Hamburg

Secara keseluruhan hadir sekitar 70 tamu, termasuk 3 orang perwakilan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg, 2 orang perwakilan dari Bidang Studi Indonesia/Melayu/Pasifik – Universitas Hamburg, diaspora Aupair, diaspora FSJ, diaspora Azubi, diaspora AFA yang telah bekerja di berbagai daerah di Jerman, serta beberapa tamu lainnya dari Jerman dan Skotlandia. Acara berlangsung mulai jam 12:15 sampai 16:30 yang dimulai dengan pendaftaran para tamu di meja registrasi, kemudian diikuti dengan urutan program sebagai berikut:

  • Tarian Cendrawasih sebagai tarian pembuka, oleh Pak Rizky (Paris)
  • Lagu Pembuka, oleh Cindy (AFA)
  • Pembukaan Acara, oleh Ibu Yanti Mirdayanti (IASI/Uni Hamburg) dan Ragil (AFA)
  • Kata Sambutan, oleh Pak Yudi Ardianto (Ketua I IASI)
  • Kata Sambutan, oleh Dr. Jacqueline Hicks (Bidang Studi Austronesistik, Jurusan Asia Tenggara, Universität Hamburg)
  • Kata Sambutan, oleh perwakilan KJRI Hamburg, Pak Sasongko Gudadi
  • Kata Sambutan, oleh perwakilan KJRI Hamburg, Ibu Sri Dewi Kuntarti
  • Perkenalan organisasi AFA dan studi/kuliah di Jerman, oleh Girindra (AFA)
  • Presentasi mengenai Aupair, oleh Lita (AFA)
  • Presentasi mengenai FSJ, oleh Alvita (AFA)
  • Presentasi mengenai Ausbildung, oleh Desty (AFA)
  • Presentasi mengenai bekerja setelah Ausbildung di Jerman, oleh Ragil (AFA)
  • Pemotongan Tumpeng, oleh tim Panitia AFA.
  • Istirahat 30 menit/minum/makan jajanan Indonesia, oleh Mb Djohanna
  • Tari Piring, oleh Pak Rizky dan Ibu Lola (Paris)
  • Sesi Tanya Jawab antara hadirin dan pembicara (Girindra, Litha, Alvita, Desty, Ragil)
  • Doorprize, oleh tim Panitia AFA
  • Lagu Penutup, oleh Cindy (AFA)
  • Penutupan Acara, oleh Pembawa Acara (Ibu Yanti M. dan Ragil)

Hasil yang didapatkan dari perkenalan organisasi AFA yang sekaligus juga merupakan acara temu muka dengan perwakilan KJRI Hamburg adalah pengakuan dari KJRI Hamburg (diwakili oleh Bapak Sasongko) bahwa AFA termasuk duta Indonesia yang sudah berpengalaman, namun hingga saat ini KJRI Hamburg sendiri tidak memiliki data yang lengkap mengenai jumlah orang Indonesia yang melakukan tugas sebagai AFA di wilayah kerja Jerman Utara. Hal ini terjadi karena masih banyak diaspora AFA di Jerman yang tidak tahu (belum tahu) bahwa mereka harus lapor diri ke KJRI/KBRI saat berada di Jerman. Data dari Lapor Diri merupakan media pendataan tentang masyarakat Indonesia di Jerman. Oleh karena itu, perlu dikembangkan kerja sama antara AFA dan KJRI/KBRI di Jerman. Baik pihak AFA maupun pihak KJRI/KBRI harus lebih aktif lagi menyebarkan informasi tentang pentingnya melaporkan diri di KJRI/KBRI masing-masing sesuai tempat domisili. Melalui presentasi dan sesi tanya-jawab, sesama anggota AFA mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Misalnya informasi tentang Aupair yang ingin melakukan FSJ, atau tentang bagaimana cara menghemat uang selama melakukan kegiatan AFA. Begitu juga pihak KJRI Hamburg mendapat pengetahuan lebih mendalam dan luas tentang AFA di Jerman.

23755270_1623084874380710_3779319260505448875_n

Berbagai macam jajanan khas Indonesia

Panitia AFA sangat berharap agar organisasi ini berkembang dan dapat mengedukasi para calon dan pelaku AFA, serta dapat menjawab solusi bagi masalah-masalah tertentu yang berhubungan dengan AFA. Kedepannya, panitia AFA menginginkan acara informatif seperti ini diadakan lagi di kota lain oleh anggota AFA di kota tersebut. Saat ini belum ada struktur organisasi tetap, hanya panitia sementara saat acara peresmian. Perencanaan mengenai struktur dan jabatan di organisasi akan segera dilakukan.

Rasa terima kasih yang sangat besar disampaikan oleh panitia AFA kepada seluruh tamu undangan yang hadir, bahkan bagi yang telah datang dari luar kota. Terima kasih yang khusus kepada IASI – Jerman yang telah banyak membantu dari awal sampai akhir demi terlaksananya acara yang sangat penting ini. Tidak lupa juga terima kasih banyak kepada para penari, Pak Rizky dan ibu Lola yang telah datang langsung dari Paris. Khusus untuk Program Indonesia – Uni Hamburg, terima kasih sekali telah menyediakan dua ruangan di Asien-Afrika-Institut, sebagai tempat panel diskusi dan tempat istirahat/makanan/minuman!

Hamburg, Ferbruari 2018

(editor: Yanti My / IASI)

23755270_1623084874380710_3779319260505448875_n

IASI dan AFA, Jaya!

23559709_1623084794380718_7292078548498525363_n

Lokakarya Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) 2017 di Jerman

Lokakarya Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) 2017 di Jerman (Konferenz der Lehrenden für Indonesisch als Fremdsprache in Deutschland – 2017)

(oleh: Yanti Mirdayanti)

Pada hari Jumat dan Sabtu, tanggal 3 dan 4 November 2017, telah berlangsung sebuah Lokakarya Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di HTWG Konstanz, sebuah perguruan tinggi di Jerman bagian selatan. Lokakarya yang berlangsung dengan sangat lancar dan sukses tersebut dikoordinasi oleh “Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing – (APPBIPA) Cabang Jerman“ periode 2016 – 2020. Untuk perencanaan dan pelaksanaannya juga melibatkan panitia kecil dari program Indonesia – HTWG Konstanz yang terdiri dari para mahasiswa dan para stafnya.

Kepengurusan APPBIPA- Jerman periode 2016 – 2020 terdiri dari: Ketua I – Andi Nurhaina (HTWG Konstanz), Wakil Ketua – Yanti Mirdayanti (Universität Hamburg), Sekretaris – Sein Brustle (Universität Freiburg), dan Bendahara – Hendy Holzwart (Universität Frankfurt). Pelantikan resmi pengurus intinya telah dilakukan pada hari kedua lokakarya melalui daring Skype dengan dipandu oleh Ketua APPBIPA Pusat di Jakarta, Dr. Liliana Muliastuti, M.Pd.

Dengan demikian, lokakarya ini merupakan yang pertama sejak APPBIPA Jerman dibentuk pada bulan Oktober 2016. Dalam proses persiapan dan pelaksanaannya APPBIPA Jerman bekerjasama dengan APPBIPA Pusat di Jakarta dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin – Jerman, terutama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan.

23755270_1623084874380710_3779319260505448875_n

Para peserta lokakarya menyimak penyampaian makalah dengan seksama

Selain diikuti oleh para pengajar BIPA dari berbagai perguruan tinggi di Jerman (Universität maupun Fachhochschule), lokakarya ini juga diikuti oleh para pengajar dari beberapa sekolah bahasa di Jerman (VHS/Volkhochschule maupun Kursus Privat). Selain itu, hadir pula perwakilan dari Pengurus Pusat APPBIPA Jakarta, Dr. Ari Kusmiatun yang juga melakukan tugas pendampingan BIPA di HTWG Konstanz untuk beberapa bulan. Hadir juga sastrawan dan wartawan surat kabar Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo yang kebetulan sedang menjalani program residensi sastra di Berlin selama tiga bulan atas beasiswa penuh dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Demikian pula Duta Besar RI untuk Jerman, Dr. -Ing. Fauzi Bowo, dan Atdikbud KBRI, Dr. rer. nat Ahmad Saufi, telah berkenan hadir pada hari kedua lokakarya.

Pada hari pertama, lokakarya berlangsung mulai pukul 15.00 dan berakhir pada pukul 17:30. Acara dibuka oleh Prof. Dr. Helmut Weber (Penanggung Jawab Regional Asia Tenggara, Program Studi Bahasa dan Perekonomian Asia dan Majemen, HTWG Konstanz) dan Andi Nurhaina selaku Ketua APPBIPA – Jerman. Kemudian disambung dengan penyampaian beberapa makalah sebagai berikut:

  • Sosialisasi APPBIPA oleh Dr. Ari Kusmiatun (Universitas Negeri Yogyakarta dan Pengurus Pusat APPBIPA). Topik: APPBIPA sebagai Wadah Pemersatu Para Pejuang BIPA.
  • Makalah oleh Yanti Mirdayanti (Universität Hamburg). Topik: Pengajar BIPA sebagai Duta Diplomasi Budaya.
  • Makalah oleh Inna Herlina (VHS Berlin). Topik: Bahasa Indonesia dan Komunikasi Antarbudaya.
  • Makalah oleh Hedy Chandra-Holzwarth (Universität Frankfurt). Topik: Beberapa Ide untuk Mengembangkan Kosakata.

Pada hari kedua, lokakarya berlangsung sehari penuh, dari pukul 9.00 pagi sampai dengan pukul 17.00. Dubes Fauzi Bowo dan Atdikbud Ahmad Saufi dari KBRI Berlin turut memberikan sambutannya. Beberapa makalah dan workshop yang disampaikan adalah sebagai berikut:

  • Makalah oleh Ari Kusmiatun (PPSDK, Badan Bahasa Jakarta). Topik: Evaluasi dalam Pembelajaran BIPA (UKBI atau UKBIPA).
  • Makalah oleh Sylvia Seiler-Budiman (VHS Karlsruhe). Topik: Audio Visual dalam Pengajaran Bahasa Indonesia di Negara yang Berbahasa Jerman (Jerman, Austria, Swiss).
  • Makalah dari Kuala-Lumpur melalui daring Skype oleh Manuel Denner (Alumnus HTWG Konstanz). Topik: Pengalaman Belajar BIPA.
  • Makalah/Workshop oleh Dyah Narang-Huth (IKAT). Topik: Penggunaan Bahan Ajar Autentik dalam Pengajaran BIPA.
  • Makalah oleh Christa Saloh-Förster (Universität Bonn). Topik: Program BIPA di Universität Bonn.
  • Makalah oleh Triyanto Triwikromo (Penulis dan Wartawan ‘Suara Merdeka’). Topik: Perihal Martabat Bahasa, Sastra Indonesia Mutakhir, dan Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.
  • Sambutan oleh Dubes RI untuk Jerman, Dr. –Ing. Fauzi Bowo.
  • Diskusi dipandu oleh Atdikbud, Dr. Ahmad Saufi. Topik: Peluang Kerjasama Penerjemahan.
  • Pelantikan Pengurus APPBIPA Cabang Jerman 2016 – 2020 oleh Dr. Liliana Muliastuti, M.Pd. (Ketua Umum APPBIPA Pusat – Indonesia).
  • Rembuk Bersama APPBIPA Cabang Jerman, dipandu oleh Andi Nurhaina (Ketua PPBIPA – Jerman). Topik Diskusi: Program Empat Tahun Kepengurusan APPBIPA – Jerman.

Salah satu dari beberapa hasil penting dari rembuk bersama Lokakarya tanggal 3 – 4 November 2017 ini adalah kesepakatan pelaksanaan Lokakarya Pengajar BIPA berikutnya yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2018 dengan bertempat di Rumah Budaya Indonesia di Berlin. Hal ini telah disetujui oleh pihak KBRI di Berlin dan telah disampaikan sebagai laporannya ke Jakarta.

23755391_1623084764380721_5244559784487513550_n

Foto bersama di akhir sesi lokakarya

APPBIPA – Jerman bertekad untuk terus menjalin kerjasama dan membina jaringan kerja yang erat antara seluruh pengajar dan pegiat BIPA di Jerman dan tentunya dengan pihak APPBIPA Pusat di Indonesia. Berbagai program konkret akan terus dikembangkan demi suksesnya program pengajaran BIPA di Jerman sebagai medium dan motor utama promosi bahasa dan budaya Indonesia di kancah internasional.

APPBIPA – Jerman berterima kasih banyak kepada seluruh peserta lokakarya dan semua pihak (HTWG Konstanz, KBRI Berlin, APPBIPA Jakarta) yang telah mendukung lancarnya perencanaan dan pelaksanaan Lokakarya Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Jerman, 3 – 4 November 2017.

kmiln2

Sosialisasi „Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri“ (KMILN)

(oleh Yudi Ardianto)

Pada hari Rabu, 8 November 2017, di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg telah berlangsung sebuah pertemuan tentang „Sosialisasi KMILN (Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri).“

Yang menjadi narasumber dalam pertemuan tersebut adalah Ibu Duta Besar Niniek Kun Naryatie dari Kementrian Luar Negeri di Jakarta selaku Staf Ahli Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri.

Pertemuan dihadiri oleh masyarakat Indonesia dari empat wilayah kerja KJRI Hamburg di Jerman Utara, yaitu Hamburg, Bremen, Niedersachsen dan Schleswig-Holstein.

Ibu Niniek menekankan bahwa kartu KMILN ini adalah bentuk pengakuan dari pemerintah atas keberadaan diaspora Indonesia yang juga bertujuan untuk pendataan potensi diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia.

Secara ringkasnya, KMILN diperuntukkan bagi empat kelompok diaspora Indonesia yang menetap dan/atau bekerja di luar negeri:

  • WNI;
  • WNA, eks WNI;
  • WNA anak eks WNI;
  • WNA yang orang tua kandungnya WNI.

Untuk diaspora yang WNI, KMILN memberikan fasilitas-fasilitas sebagai berikut:

  • Membuka rekening di bank umum;
  • Memiliki properti di Indonesia;
  • Mendirikan badan usaha di Indonesia.
Untuk diaspora yang WNA, KMILN tidak memberikan fasilitas baru.

Informasi yang lengkap tentang KMILN bisa diunduh dari tautan KJRI Hamburg berikut:

http://kjrihamburg.de/index.php?option=com_content&view=article&id=937&Itemid=448&lang=id

kmiln1
main

Kunjungan PCINU Jerman di Hamburg

(Oleh: Yanti Mirdayanti)

Silaturahmi hangat antara pengurus PCINU-Jerman dengan Program Studi Indonesia – Uni Hamburg dan IASI – Jerman telah berlangsung hari Sabtu, tanggal 11 November 2017 di Institut Asia – Afrika, Universitas Hamburg.

diskusi1

Pertemuan diantaranya diisi dengan acara saling memperkenalkan diri dan sosialisasi tentang program masing-masing.

diskusi2

Pertemuan ini baru merupakan silaturahmi tahap awal. Semoga ke depannya akan bisa berlangsung kegiatan-kegiatan keilmuan bersama yang diantaranya bertemakan Dialog Lintas Agama yang berspirit Bhinneka Tunggal Ika dan Demokrasi Pancasila.

foto2

Laporan dalam artikel berikut adalah salah satu contoh kontribusi penting NU-Jerman dalam topik Dialog Lintas Agama di Jerman:

https://www.nu.or.id/post/read/82683/inspirasi-dari-indonesia-untuk-jerman-yang-dilanda-islamofobia
alvita

Bagaimana Bisa Sampai Ke Jerman?

(Oleh: Alvita Simargi)

Kenalkan, namaku Alvita. Pada bulan September 2014, ketika aku merayakan ulang tahun ke-23, aku mendapat telepon dari kakak pertamaku tentang percobaan kelas bahasa Jerman di Jakarta barat. Tempat kursus yang bernama Gema Sprachenzentrum itu baru saja dibuka. Bermula dari kelas percobaan itu, aku dan kakakku, serta istrinya merasa tertarik dengan bahasa Jerman. Tetapi aku yang saat itu mahasiswi semester akhir tidak mempunyai cukup uang untuk mengikutinya, karena lesnya untuk 3 bulan atau 1 level memakan biaya 4 juta rupiah. Kakak kemudian menganjurkan agar aku melanjutkan kuliah program Master di Jerman dan dia mau menolong. Dengan bantuan dana dari kakakku, akhirnya kami mengikuti les bahasa Jerman bersama-sama.

Setelah beberapa lama mengurus skripsi S1, aku mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk bisa kuliah Master di Jerman. Syarat yang terberat adalah uang jaminan hidup mahasiswa sebesar lebih dari 8.000 Euro. Memang uang itu akan digunakan untuk keperluan mahasiswa selama satu tahun di Jerman, tetapi jumlah itu harus sudah ada di muka dan disimpan di rekening di Deutsche Bank (bank nasional negara Jerman).

Lagi-lagi kakakku yang lebih rajin mencari informasi. Dia membaca tulisan tentang Au-pair. Dia pun berkata: “Coba saja dulu jadi Au-pair, karena kamu akan bisa tinggal dengan keluarga Jerman asli dan sekaligus mendapat les bahasa Jerman dengan ditanggung mereka. Ini bisa menjadi batu loncatan!” Aku pun yang penasaran akhirnya banyak membaca informasi tentang Au-pair di internet. Ternyata Au-pair adalah program pertukaran budaya melalui masa tinggal bersama sebuah keluarga Jerman selama satu tahun. Seorang Au-pair akan menjadi kakak asuh bagi anak-anak dari keluarga tamu. Tugas utama Au-pair adalah menjaga adik-adik asuhannya dan bermain bersama mereka. Kemudian aku pun tertarik dan langsung membuat akun profil di website www.aupairworld.com. Melalui website itu kita bisa mencari dan melamar ke keluarga tamu. Ternyata hampir sama dengan melamar pekerjaan biasa, aku mengalami banyak penolakan, sampai hampir menyerah. Akhir tahun 2014 aku berhasil lulus S1. Aku pun berhasil mendapat sebuah keluarga tamu yang tinggal di kota Munich (München) setelah melakukan wawancara melalui Skype dan E-mail. Tetapi sayangnya kemudian mereka membatalkan lamaranku, dengan alasan Au-pair lamanya yang juga orang Indonesia memohon agar temannya yang dijadikan Au-pair mereka. Keluarga itu ingin agar aku menjadi Au-pair mereka di tahun selanjutnya. Aku yang sudah tidak sabar ingin ke Jerman kebetulan menerima tawaran dari keluarga lain yang tinggal di kota kecil Hitzacker, berjarak 1,5 jam dari kota besar Hamburg. Mereka ingin aku datang pada bulan September 2015 dan aku menyetujuinya. Setelah les bahasa Jerman selama sembilan bulan sampai level B1, aku berhenti, karena tempat lesnya pindah ke luar kota.

Pada pertengahan tahun 2015 aku iseng bekerja di sebuah kantor selama lima bulan, karena merasa bosan menunggu sampai bulan September, sambil sekaligus mengurus lamaran visa Au-pair di Kedutaan Jerman. Pada tanggal yang disepakati, akhirnya aku pun tiba di bandara Hamburg, Jerman. Aku dijemput oleh keluarga tamu. Mereka menyuruh aku beristirahat selama seminggu sambil menyesuaikan diri dengan waktu yang berbeda. Di rumah mereka, aku diberi kamar pribadi, makan bersama mereka, dan dianggap bagian dari keluarga mereka, bukan pembantu. Karena itu, sebagai Au-pair aku juga ikut andil dalam membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan rumah yang ringan, seperti mencuci dan memasak.

alvita

Bersama adik asuh merayakan Halloween saat bekerja sebagai Aupair, Oktober 2015, Hitzacker

Aku menjaga tiga orang anak yang berusia 4, 6, dan 8 tahun selama enam jam sehari. Aku dibiayai les bahasa Jerman seminggu sekali dan mendapat uang jajan sebesar 260 Euro per bulan. Pada hari ulang tahun dan natal aku juga mendapat hadiah. Hadiahnya bukan hanya dari keluarga inti, tetapi juga dari nenek dan kakeknya anak-anak. Keluarga tamuku sangat baik. Walaupun ada perbedaan budaya dan mentalitas, tetapi itu bisa diatasi dengan diskusi. Seperti pekerjaan lain, aku pun menemukan kesulitan, terutama dalam menghadapi anak-anak jika mereka sedang nakal.

Sebagai Au-pair aku juga mendapat hak berhari libur sebanyak 24 hari dalam setahun. Semua aku gunakan untuk berlibur ke luar kota dan ke negara-negara tetangga Jerman. Selama menjadi Au-pair aku berusaha mendalami bahasa Jerman dan mencari cara agar bisa kuliah program S2. Pernah kudengar, kita bisa minta bantuan jaminan dari keluarga tamu, jika mereka beranggotakan 4 orang. Tetapi keluarga tamuku berjumlah tujuh orang, sehingga tidak bisa. Meminta bantuan dana juga tidak bisa, karena mereka harus membiayai lima orang anak dan ditambah membayar aku. Lagipula syarat kuliah salah satunya adalah memiliki sertifikat bahasa Jerman yang paling tinggi, yaitu sertifikat C1 atau DAF, sedangkan kemampuan bahasa Jermanku belum sampai di situ.

Beberapa bulan menjelang berakhirnya waktu kontrak Au-pair, aku mendengar dari teman tentang FSJ (Freiwiliges Soziales Jahr) atau program sukarelawan selama satu tahun. Karena aku masih ingin kuliah di Jerman, aku melamar di salah satu organisasi pengurus orang-orang cacat yang cukup besar di Hamburg bernama Leben Mit Behinderungen Hamburg. Kemudian aku diundang datang ke Hamburg untuk wawancara dan melihat langsung apa yang dilakukan pekerja bersama orang-orang cacat tersebut. Tidak berapa lama kemudian, aku diterima untuk menjadi sukarelawan di sana. Untuk urusan kontrak dan dokumen, organisasi tersebut bekerja sama dengan agen Internationaler Bund sebagai penyalur sukarelawan. Jadi aku mendaftar sebagai anggota di agen tersebut. Sebagai anggota kita tidak dipungut biaya apapun, karena mereka dibayar oleh organisasi. Sebagai FSJ, aku mendapat gaji pokok dan bantuan dana untuk sewa tempat, kartu transportasi, asuransi kesehatan, 26 hari libur, dan seminar selama 25 hari selama satu tahun kontrak. Kemudian aku diuntungkan lagi dengan program baru mereka, yaitu mendapatkan les bahasa Jerman yang sebelumnya tidak ada.

Untuk lebih detailnya, aku bekerja di tempat kerja orang-orang cacat, dari hari Senin sampai Jumat, pukul 08:00-16:00. Di sini aku bekerja dalam tim bersama pekerja lainnya. Kami menemani mereka dalam bekerja dan urusan toilet, juga menyiapkan sarapan dan makan siang (makan siang dipesan, kami tidak memasak). Sebenarnya kontrak satu tahunku sudah habis, tetapi FSJ boleh memperpanjangnya 6 bulan.

Sekarang ini aku memperpanjang kontrakku sampai akhir Februari 2018. Dari semua ini, aku belajar banyak mengenai bahasa dan budaya Jerman serta perbedaannya dengan Indonesia. Aku membatalkan niatku untuk kuliah dan berencana untuk sekolah perawat di Jerman setelah FSJ.

girin

Melanjutkan S2 di Jerman Setelah Program Au-pair

(Oleh: G. Wiratni Puspa)

Pembentukan AFA-Indonesia di Jerman (Au-pair, FSJ & BFD, Azubi) pada tanggal 14 Oktober 2017 lalu merupakan awal dari munculnya potensi-potensi pemuda Indonesia yang tinggal di Jerman melalui program Au-pair.

Sejak tahun 2005 Jerman membuka kesempatan bagi warga Non-EU untuk menjadi Au-pair di Jerman. Sejak itu juga Au-pair Indonesia yang kebanyakan kemudian berlanjut menjadi sukarelawan, atau menempuh pendidikan vokasi, maupun kuliah, belum mempunyai organisasi khusus untuk menampung aspirasi.

Saya sendiri datang ke Jerman melalui program Au-pair, karena kesempatan mengejar mimpi di Eropa dengan menjadi Au-pair lebih mudah dan lebih murah, dibandingkan melalui kuliah atau bekerja. Terbukti, dengan mengurus semua persian sendiri, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar 3 juta rupiah. Yaitu, mulai dari mengurus paspor, mengikuti les bahasa Jerman selama 3 minggu dengan guru SMA (waktu itu saya bayar Rp. 500.000, untuk persiapan test A1) sampai mengurus visa. Tiket keberangkatan dibayar dulu oleh host family (keluarga tempat bekerja), lalu setengahnya saya bayar setelah sampai dan bekerja di Jerman.

Setelah satu tahun menjadi Au-pair, saya melihat kesempatan lain untuk mengejar cita-cita kuliah S2 di Eropa. Yakni dengan menjadi sukarelawan (FSJ). Setelah satu tahun sebagai Au-pair dan 18 bulan sebagai FSJ, saya bisa kuliah di Universitas Hamburg, Jurusan International Master Programme: Language and Cultures of Southeast Asia (Indonesian and Malay Studies).

Berikut pengalaman perjalanan saya dan beberapa penjelasan singkat tentang Au-pair dan FSJ yang saya tempuh sebelum kuliah:

Kata Au-pair berasal dari bahasa Perancis yang berarti ‘by mutual agreement‘ atau pasangan/perjanjian. Jika kita memaknai kata pasangan, mungkin akan terbayang di benak kita kata simbiosis. Ya, simbiosis mutualisme, pasangan yang saling menguntungkan. Di sini kata Au-pair tidak akan saya bahas secara harfiah. Oleh karena itu, saya hanya akan menjelaskan makna Au-pair dari pengalaman yang saya ketahui saja.

Menjadi Au-pair berarti menjadi seorang warga asing di negara tertentu, demi mempelajari bahasa dan budaya ,dengan tinggal di sebuah keluarga (host family) dan membantu mereka mengasuh anak. Ada juga Au-pair yang tinggal bersama host family yang tidak mempunyai anak, namun memiliki orang tua yang sudah berusia tua sekali (manula).

Program Au-pair sangat populer di Eropa sejak tahun 90-an dan banyak remaja yang mulai berumur 18 tahun melakukannya. Program yang disediakan pemerintah di berbagai negara di dunia ini sangat membantu para keluarga yang membutuhkan bantuan untuk mengurus anak. Para Au-pair juga mempelajari bahasa asing.

Selain diberi uang saku setiap bulan, pihak keluarga WAJIB memberi kursus bahasa kepada Au-pair. Jam kerja Au-pair juga sangat dibatasi, yakni 30 jam per minggu. Jika lebih dari itu, pihak keluarga akan memberi gaji tambahan (sesuai kesepakatan bersama). Selain itu, Au-pair juga dianggap sebagai bagian dari keluarga, seperti: ikut makan di meja makan yang sama dan kadang juga diajak liburan bersama. Tak jarang pihak keluarga dan Au-pair akan menjadi seperti saudara, teman, atau bahkan ada keluarga yang mengunjungi negara asal Au-pair.

Siapa Yang Bisa Menjadi Au-pair?

Program Au-pair dikhususkan untuk para pemuda di seluruh dunia. Tak hanya para pemuda di Asia yang ingin belajar bahasa lalu menjadi Au-pair di Eropa. Banyak sekali juga remaja dari Amerika, Inggris, Jepang, yang aku temui saat menjadi Au-pair di Jerman dulu. Tak ada yang menganggap Au-pair itu pekerjaan seperti TKW atau babysitter, karena banyak anak yang notabene berasal dari keluarga cukup kaya di Jerman rela menjadi Au-pair di Australia atau Amerika, demi memperbaiki bahasa Inggris mereka, atau sebaliknya. Meski pekerjaan utamanya adalah mengurus anak, bukan berarti program Au-pair dikhususkan untuk anak perempuan saja. Banyak keluarga yang malah ingin punya Au-pair laki-laki, karena anak-anaknya juga laki-laki dan mereka ingin Au-pairnya bisa jadi kakak bagi mereka.

Kapan Bisa Menjadi Au-pair?

Batasan usia untuk menjadi Au-pair adalah antara 18-30 tahun. Tergantung dari peraturan pemerintah di masing-masing negara penerima Au-pair. Di masing-masing negara kita hanya bisa menjadi Au-pair maksimal satu tahun saja. Misalnya, tahun ini di Jerman, yang masih ingin tinggal di Jerman dan memperbaiki bahasa Jerman, tidak bisa memperpanjang visa Au-pair. Kalau tidak ingin menjadi sukarelawan (FSJ) dan betah menjadi Au-pair, maka cara satu-satunya adalah pindah keluarga yang berada di negara berbahasa Jerman, contohnya Austria atau Swiss (di Swiss jangan di kota yang berbahasa Prancis atau Italia ya! :)

Di mana kita bisa jadi Au-pair?

Seorang remaja dari Indonesia bisa menjadi Au-pair di sebagian besar negara Eropa. Misalnya: di Jerman, Austria, Belanda, Prancis, dsb. Namun tidak bisa menjadi Au-pair di Inggris, Amerika Serikat, atau di Australia. Kalaupun ada yang bisa, mereka harus membuat visa Non-Au-pair. Contohnya: visa travel and working untuk Australia. Sebaiknya kita cek dulu negara yang kita inginkan di website masing-masing kedutaan besarnya. Pastikan negara-negara mana yang menerima Au-pair dari Indonesia. Kalau tidak, maka akan menyesal nantinya. Jangan sampai sudah melamar ke keluarga sana dan sini dan lamaran kita sudah diterima oleh mereka, tetapi saat hendak melamar visa ternyata negara asal keluarga tersebut tidak menerima Au-pair dari Indonesia.

Setelah menjadi Au-pair di Jerman (atau negara-negara EU), kita masih bisa menjadi Au-pair di mana saja. Bahkan ada juga yang menjadi Au-pair di Indonesia. Prinsipnya, Au-pair itu bukan pekerja yang berasal dari negara miskin atau negara berkembang yang lalu mencari uang di negara kaya. Banyak juga anak muda Eropa yang tertantang untuk menjadi Au-pair di Jepang, Korea, bahkan Indonesia, karena mereka ingin bertukar budaya dan mempelajari bahasa.

Mengapa Au-pair?

Program Au-pair bagi saya adalah sebuah program batu loncatan untuk meloncat ke mimpi berikutnya. Menjadi Au-pair adalah cara paling mudah untuk bisa pergi ke Eropa dengan modal yang sangat minimum dan tanpa perlu beasiswa. Selain itu, ada banyak sekali pertimbangan mengapa mau menjadi Au-pair, misalnya:

  • Mendapat uang saku. Memang tidak besar. Di Jerman hanya memperoleh 260 Euro per bulan. Dengan uang sebanyak itu tentunya sangat tidak cukup untuk hidup di Eropa, tetapi kan selama masa tinggal dijamin oleh host-family. Jadi, kalau kita bisa sangat berhemat, maka kita bisa menabung untuk jalan-jalan keliling Eropa. Atau bahkan bisa menabung untuk mimpi kuliah di Eropa nantinya. Selain uang saku, kita juga bisa mendapat tambahan uang, jika kita bekerja lebih dari jam yang ditentukan di dalam kontrak kerja. Dulu saya diberi tambahan 15 Euro dari pekerjaan pagi hari dan 30 Euro dari bantu-bantu membersihkan rumah selama 3 jam. Salah seorang teman Au-pair di Hamburg mendapat uang saku 260 Euro, uang makan 100 Euro (karena dia tinggal di apartemen terpisah), uang transport per-bulan 50 Euro, dan uang pulsa 20 Euro. Ditambah, dia bekerjanya hanya dari jam 14.00 sampai 18.00. Jadi, kalau pagi-pagi, dengan ijin keluarganya, dia bisa bekerja sambilan (sebagai baby sitter atau pembersih rumah di tempat lain).
  • Belajar bahasa. Dengan tinggal bersama orang asing mau tidak mau kita harus mendengar dan menimpali pembicaraan dengan bahasa mereka atau bahasa Inggris.
  • Bisa travelling keliling Eropa. Sesuai perjanjian dengan host family, sebelum berangkat melakukan perjalanan, saya meminta jatah libur satu bulan penuh selama bulan Desember untuk berkeliling Eropa. Saat menjadi Au-pair selama satu tahun, saya bisa menjelajahi lebih dari 40 kota dari 9 negara Eropa.
  • Menambah pengetahuan tentang keanekaragaman kebudayaan. Mana mungkin tidak, kalau kita tinggal di sebuah keluarga, kita pasti akan berdaptasi dengan pola dan budaya dari keluarga tersebut. Contohnya: tatacara saat makan, saat berbicara, dan sebagainya. Dulu, saya sering dianggap tidak sopan, karena suatu hal yang biasa dilakukan saat di Indonesia, yaitu: menggunting kuku di depan TV. Orang Jerman hanya menggunting kuku di kamar mandi.
  • Awal dari segala mimpi. Bersyukurlah kalian yang masih diberi kesehatan dan mendapatkan keluarga yang baik yang mau menanggung biaya pendidikan di luar negeri. Atau kalian yang mempunyai otak cemerlang dan bisa mendapatkan beasiswa setelah lolos dari seleksi yang amat ketat. Namun, bagi kami-kami ini hanya mimpilah yang dimiliki. Jadi, hanya dengan bermodal mimpi dan usaha yang keras. Menjadi Au-pair adalah salah satu cara untuk mewujudkan impian kuliah serta tinggal di Eropa.

Bagaimana Untuk Bisa Menjadi Au-pair?

a. Daftar sendiri

Ada puluhan situs pencari Au-pair dengan lokasi keluarga yang begitu tersebar.

Saya dulu mendaftar melalui situs berikut: https://www.aupairworld.com Situs ini gratis. Meskipun begitu, kita juga bisa mendaftar sebagai premium member. Situs ini sangat relevant dan anti spam.

b. Lewat agen

Mantan Au-pair yang sudah berpengalaman tinggal di Eropa dan memiliki koneksi beberapa keluarga host family biasanya membuka agen penyedia informasi, baik tentang Au-pair, host family, maupun pelatihan bahasa. Dengan membayar sejumlah uang tertentu, kita bisa menjadi Au-pair melalui agen ini.

c. Melalui kenalan

Jangan segan-segan menambah teman. Bukankah banyak teman, banyak rezeki?. Banyak keluarga yang ingin terus mendapat Au-pair yang berasal dari Indonesia. Jadi, mereka biasanya bertanya kepada Au-pairnya, apakah mempunyai kenalan di Indonesia yang mau menjadi Au-pair mereka? Nah, kalau rajin mencari informasi dan dengan sopan berkenalan dengan beberapa Au-pair yang sudah tinggal di Eropa, maka calon Au-pair bisa mendapat link tentang keluarga yang ingin menjadi host family.

Banyak Au-pair yang beruntung mendapatkan host family yang bersedia menjadi penjamin (Verpflichtungserklärung) saat Au-pairnya ingin melanjutkan kuliah di Jerman. Host family saya termasuk salah satunya. Pada bulan ketiga, saat saya mengutarakan niat untuk kuliah S2 di Jerman, mereka segera mencari informasi tentang bagaimana caranya saya bisa kuliah di Jerman dengan nama mereka sebagai penjamin. Yang saya pikirkan saat itu adalah kemampuan bahasa Jerman saya yang masih sangat minim yang membuat saya kesulitan mencari pekerjaan sambilan di Jerman. Surat penjamin dari host family tersebut hanyalah hitam di atas putih yang bisa saya gunakan untuk memperpanjang visa dan menetap di Jerman selama studi berlangsung. Namun untuk membiayai kebutuhan hidup di Jerman, termasuk menyewa apartemen yang sangat mahal, untuk makan, serta kebutuhan kuliah, harus saya usahakan sendiri. Meskipun kuliah di Jerman terbilang gratis, tetapi para mahasiswa tetap harus mengeluarkan biaya kuliah, seperti uang administrasi 300 Euro per semester, membeli buku-buku, biaya fotokopi, biaya mencetak, dan lain sebagainya.

Akhirnya, menginjak tahun kedua saya memutuskan untuk menjadi sukarelawan di Jerman. Program sukarelawan ini populer dengan nama FSJ dan BFD. Berikut ini penjelasannya: Di Jerman, ada dua istilah untuk sukarelawan, yakni FSJ (Freiwilligendienst Soziales Jahr) dan BFD (Bundesfreiwilligendienst). Sukarelawan FSJ adalah berusia antara 16-27 tahun, sedangkan sukarelawan BFD berusia lebih dari 27 tahun (sampai umur 99 tahun).

Mengapa Memutuskan Untuk Menjadi Sukarelawan?

Why not? Menjadi sukarelawan di Jerman bukanlah benar-benar menjadi tenaga kerja sosial yang tidak difasilitasi oleh pemerintah. Setiap bulannya juga kita diberi uang saku. Uang saku yang didapat tergantung dari Träger (pemberi kerja) dan kota tempat kita menjadi sukarelawan. Contohnya, saat masih di München, saya mencari informasi tentang berapa gaji yang didapat para FSJ München. Untuk Träger yang sama (IB atau Internationaler Bund), mereka memberi gaji sebesar maksimal 300 Euro per bulan. Tetapi juga diberi tunjangan akomodasi. Teman saya yang bekerja sebagai FSJ di panti jompo di München mendapat gaji sebesar 625 Euro tanpa tunjangan akomodasi. Saya yang saat itu ingin sekali pindah dari München (karena ingin belajar Bahasa Jerman dengan lebih baik), memutuskan untuk pindah ke Hamburg, dengan alasan:

  • Gaji FSJ di Hamburg dari Träger yang sama (IB) lebih besar daripada di München, yaitu 400 Euro per bulan dan ditambah kalau bekerja di Yayasan Penyandang Cacat (Leben mit Behinderung Hamburg) bisa kita dapatkan Wohngeld (uang tunjangan akomodasi) sebesar 223 Euro per bulan.

  • Orang Jerman di Hamburg berbicara Hochdeutsch (bahasa Jerman stndar), tidak seperti di München yang kental dengan dialeknya.

  • I wanted to experience new things and new culture. Saya menyukai sekali kota München; kenangannya, keindahan alamnya, budayanya, dan Bretzelnya (roti kepang ala München). Tetapi saya adalah tipe petualang yang kala itu masih ingin mengenal kota-kota di Jerman. Meskipun banyak orang yang berkata bahwa di Hamburg itu tidak ada musim panas, melainkan hanya angin dan rasa dingin, tetapi saya tetap bersikukuh untuk pindah ke Hamburg.

Dengan menjadi FSJ atau BFD, kita bisa memperlancar bahasa Jerman. Menjadi sukarelawan artinya bekerja full-time dengan orang Jerman. Mau tidak mau, kita harus belajar berbahasa Jerman juga. Saat mulai menjadi FSJ, level Bahasa Jerman saya masih A2. Satu setengah tahun berikutnya, saat saya mengikuti placement test di salah satu lembaga kursus bahasa Jerman, saya disarankan untuk masuk level lebih atas, yaitu level C1.

Selain mendapatkan tunjangan uang saku dan akomodasi yang saya sebutkan di atas, kita sebagai sukarelawan juga mendapatkan seminar dari Träger dan dari tempat kita bekerja. Untuk FSJ, terdapat 25 kali seminar dalam setahun, sedangkan untuk BFD 12 kali dalam setahun. Ada juga Seminar-Reise yang mengharuskan kita menginap selama beberapa hari (bisa juga di luar kota dengan biaya ditanggung Träger) sambil dibekali informasi dan pengetahuan positif selama seminar berlangsung. Seminar selama menjadi sukarelawan itu menurut saya seperti hiburan yang diberikan Träger kepada mereka yang telah bersedia menjadi tenaga sukarelawan di Jerman. Seminar tidak hanya duduk di ruangan (seperti yang aku pikir sebelumnya), namun juga dengan diberi ilmu lain. Kadang diajak juga bermain bowling, naik perahu atau segeln, mengunjungi pameran Dialog im Dunkeln, dan program-program seru lainnya.

Kapan Kita Bisa Menjadi Sukarelawan?

Seperti yang sudah aku sebutkan, kita bisa menjadi FSJ antara umur 16-27 dan BFD mulai umur 27-99 tahun, dengan jangka waktu dari 6 sampai 18 bulan. Tetapi kita bisa mengundurkan diri kapan saja jika tidak merasa betah atau tidak cocok dengan bidang yang digeluti. Atau bisa juga pindah ke tempat lain, karena misalnya pekerjaan dirasakan terlalu berat, dsb. Kalau ingin pindah, atau metrasa tidak cocok, atau pun hendak mengundurkan diri, dan sebagainya, maka kita harus menghubungi Träger, agar merekalah yang membantu mengurusi penguduran diri atau pindah kerja kita.

Kapan memulainya? Biasanya, FSJ dan BFD dimulai pada bulan September dan Maret. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang mengundurkan diri dari program ini pada bulan lain, sehingga ada lowongan pada bulan tersebut.

Di mana Kita Bisa Menjadi Sukarelawan?

Kalau bertanya tentang di mana, sejauh yang saya ketahui sampai saat ini, program FSJ/BFD ini ada di Jerman dan sebagian wilayah Austria. Untuk orang Jerman, mereka bisa mendaftar menjadi sukarelawan yang ditempatkan di dalam dan di luar negeri, contohnya seorang kenalan orang jerman yang baru lulus Gymnasium tahun 2015 lalu mendaftar FSJ kepada Träger di Jerman untuk menjadi sukarelawan di Bali. Untuk warga asing, kita bisa mencari tempat FSJ atau BFD di seluruh negara bagian Jerman. Banyak Träger yang siap membantu mencarikan tempat FSJ atau BFD.

Siapa Saja Yang Bisa Menjadi Sukarelawan?

Siapapun, tanpa terkecuali. Bahkan penyadang cacat dan penderita epilepsi pun bisa. Orang Jerman yang saya temui sebagai sukarelawan rata-rata pemuda fresh graduate dari Ggymnasium (SMA) dan pensiun dini. Tetapi untuk orang asing seperti saya misalnya, mereka rata-rata berusia 23-26 tahun dan mempunyai pemikiran sama, yaitu: setelah Au-pair masih ingin tinggal di Jerman, karena ingin memperlancar bahasa Jerman, melakukan sekolah dual sistem Ausbildung, atau kuliah di universitas.

Setelah satu tahun setengah menjadi sukarelawan, saya tidak perlu lagi meminta jaminan kepada host family untuk menandatangani Verpflichtungserklärung selama kuliah di Jerman. Awal pergantian visa dari FSJ ke Student saya dijamin oleh tunangan saya yang kebetulan orang Jerman dan sudah bekerja sebagai konsultan di salah satu perusahaan IT di Hamburg. Karena saya bekerja sambil kuliah, slip gaji dan kontrak kerja di instansi tempat saya (yang mencantumkan bahwa saya bekerja dan menghasilkan minimal 650 Euro per bulan) saya lampirkan untuk perpanjangan visa tersebut. Saya mendapat tawaran kerja di Leben mit Behinderung (tempat saya FSJ dulu) dan satu instansi serupa (Das Rauhes Haus) untuk menunjang kebutuhan hidup selama kuliah di Jerman.

Selection_737

Fun saat Bekerja

girin

Saat seminar bersama relawan lainnya

Processed with VSCO with hb2 preset

PERJALANANKU KE JERMAN SEBAGAI AU-PAIR

(Oleh: Lita Rengga Asmara)

Prolog

Pagi itu aku terbangun di ruangan serba putih dengan temperatur yang sangat hangat. Aku kira, aku masih bermimpi, sehingga aku mendegar suara seorang pria dan anak laki-lakinya. Mereka berbicara dalam bahasa Jerman dan hari itu adalah hari pertamaku merasakan mimpi itu adalah sebuah kenyataan.

Melihat benua Eropa tentunya merupakan merupakan mimpi dari hampir semua orang. Bagiku, hanya melihat gambar menara Eifel dari film, tv, hiasan gelas, atau poster saja pun su sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Namun, jika burung ditakdirkan untuk terbang setinggi langit, manusia pun bisa menggapai mimpinya setiggi-tingginya. Baiklah, sekarang aku akan bercerita tentang bagaimana awalnya aku bisa pergi ke Jerman dengan hanya modal „ngeyel“. Kalau nekad saja sudah biasa, sekali-kali belajar mengeyel bolehlah!

Processed with VSCO with hb2 preset

Hamm, Nordrhein-Westfalen

       

Awal Dibalik Impian

Siang itu aku duduk di parkir kantin sekolah. Waktu itu aku masih duduk di kelas 12 SMA. Tiba-tiba sahabatku yang bernama Ayu datang dan bercerita: “Eh Lit, aku denger dari temenku, sekolah di Jerman itu gratis lho! Mungkin kamu bisa coba. Kamu kan bisa bahasa Inggris dan tertarik buat belajar Bahasa Jerman.“

Seketika bumi berputar dan aku membayangkan diriku bisa berada di Berlin, sedang memakai jaket berlipat-lipat. Aku berpikir bahwa setelah lulus SMA aku bisa kuliah di luar negeri semudah mencari tikus di dapur. Di rumahku memang banyak tikusnya sih!

Setelah itu, aku mencari informasi tentang kuliah di Jerman. Bahkan sampai mendatangi sebuah seminar. Memang benar, sekolah di Jerman itu gratis, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Tetapi… ada tetapinya! Kita hidup di dunia yang untuk ke WC saja harus membayar, bukan? Jadi, secara teoritis memang tidak ada yang gratis di dunia ini.

Untuk mahasiswa dari luar Jerman, apabila ingin kuliah di Jerman harus memiliki uang tabungan sekitar 8640 Euro. Uang tersebut adalah rekening beku yang nantinya akan kita terima sebagai deposit bulanan selama kita menempuh kuliah. Namun, setelah aku jelaskan keinginanku kepada orang tuaku, malah mereka menjawab “Mbok pikir duit jiglok seko uwit? (Kamu pikir uang itu jatuh begitu saja dari pohon, anakku?)”. Yah, yang namanya ngeyel, sekali ditolak harus mencari cara lain, sampai berhasil!

Setelah akhirnya menyerah karena keinginanku terhalang oleh dana, aku mencoba mencari berbagai kesempatan beasiswa program Bachelor (S1) di Jerman melalui internet. Namun sayangnya, scholarship di negara yang terkenal dengan Bratwurst-nya (sosis) itu, hanya diperuntukan mulai dari jenjang Master. Segala keyword pun aku ketik di kolom Google. Siapa tahu, aku bisa mendapat informasi atau hadiah undian jalan-jalan ke Jerman. Demikian pikirku saat itu.

Bermula Dari Bully-an

Aku belajar bahasa Jerman pun justru jauh sebelum temanku, Ayu, memberi informasi tentang gratisnya sekolah di Jerman. Saat itu, aku masih duduk di akhir kelas 11 dan masih gencarnya bermain Twitter. Melalu Twitter itu pula aku mengenal seorang laki-laki muda Jerman. Kita berdua masih berumur 16 tahun. Setelah kita sering berkomunikasi, timbulah cinta monyet diantara jarak yang begitu jauh itu.

Dia berinisiatif menelponku setiap malam. Saat itu belum ada WhatsApp seperti sekarang dan kita belum mengenal Skype atau semacamnya. Suatu hari, hubungan yang hanya berlangsung selama liburan sekolah itu pun mulai renggang, karena ia mendapatkan masalah dari ibunya. Tagihan telponnya membengkak, sekitar 200 Euro, dan ibunya harus menghukumnya. Si Blondy pun menyalahkan diriku yang tidak tahu apa-apa. Saking marahnya, anak laki-laki berinisial S itu sampai menuliskan sesuatu di akun Twitternya yang ditujukan padaku. Tulisan tersebut dalam bahasa Jerman dan google translator tidak membantu sama sekali.

Keesokan harinya, secara tidak sengaja aku menemukan buku pelajaran bahasa Jerman di perpustakaan SMA-ku. Awalnya aku membenci bahasa dan negara itu, karena si S marah kepadaku dan memutuskan hubungan kita. Namun, aku kemudian menemukan ketertarikan yang begitu dalam setelah berhasil menerjemahkan tulisan tersebut. Butuh waktu satu bulan untuk bisa memahaminya. Ternyata isinya hanya cacian dan amarah, karena tagihan telepon yang membengkak itu. Sejak memahami teks cacian itu aku pun tidak pernah berhenti belajar bahasa Jerman, hingg sekarang ini.

Ke Jerman Dengan Modal Ngeyel

Hari itu di luar hujan. Aku sedang ngambek dan enggan membantu Bapak jualan di warung. Lalu aku pun iseng-iseng mencari informasi di internet dengan kata kunci “How to go to Germany for free”. Siapa tahu, kali ini aku akan berhasil mendapat informasi program beasiswa atau undian jalan-jalan lainnya. Dan benar saja, kata kunci ajaib itulah yang membawaku sampai ke Jerman, hanya dengan modal ngeyel.

Seperti sudah aku bilang dari awal, kalau sekali gagal harus mencoba terus sampai berhasil. Sang penemu bola lampu pijar Thomas Alva Edison saja harus melakukan ratusan bahkan ribuan kali percobaan dan kegagalan, sampai akhirnya dia berhasil. Lah, aku yang pernah dapat nilai 10 dari 100 untuk mata pelajaran Matematika mau jadi apa kalau hanya bermental tahu? Jangan salahkan tempe terus-menerus; kasihan yang jualan!

Kembali ke persoalan tadi. Melalui Google aku menemukan sebuah program bernama Au-Pair. Untuk kalangan awam, kata ini memang masih terdengar asing. Program tersebut memungkinkan kita tinggal selama satu tahun bersama keluarga asuh di Jerman, termasuk fasilitas-fasilitas seperti: kamar pribadi, sepeda, atau bahkan mobil. Keluarga asuh juga memberikan kesempatan kepada kita untuk mengikuti kursus bahasa Jerman di kota tempat tinggal mereka.

Sebagai seorang Au-Pair, kita akan berperan sebagai kakak asuh dari anak-anak yang ada di rumah. Kita bertugas menjaga mereka dan bermain bersama mereka. Juga membantu membersihkan rumah. Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan ringan, karena seorang Au-Pair hanya diperbolehkan bekerja maksimal 30 jam/minggu. Selain itu, kita juga mendapatkan 260 Euro sebagai uang saku (di negara Jerman), berlibur selama 4 minggu dalam setahunnya, serta hari bebas pada akhir pekan.

Fasilitas tersebut dapat kita gunakan untuk menjelajahi negara lain, karena sebagian besar negara Eropa merupakan bagian dari wilahyah Schengen. Yang artinya, kita dapat menggunakan Visa Au-Pair untuk menjelajahi sebagian negara di Eropa.

Aku mempelajari program tersebut dan memutuskan akan ke sana setelah lulus kuliah nanti, karena orang tuaku masih enggan melepasku pada usia 18 tahun. Untung saja waku itu aku masih menurut. Rentang waktu empat tahun pun aku gunakan untuk mempelajari bahasa Jerman secara autodidak, baik melalui internet maupun buku. Buku yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah itu sampai sekarang belum aku kembalikan. Maafkan aku Bu dan Pak Guru! Aku pikir juga tidak akan ada yang menggunakannya, karena di sekolahku tidak ada pelajaran bahasa Jerman.

Bukan hal yang mudah selama empat tahun itu. Ketika aku menceritakan tentang impianku untuk pergi ke Jerman, banyak yang menertawakanku. Mereka pikir, aku sedang berkhayal saja karena kebanyakan menonton film animasi. Tetapi justru dari film-film animasi itulah aku juga menemukan keberanianku yang kudapatkan dari berbagai karakter Disney, seperti Pocahontas, Mulan, Belle, dan lain sebagainya.

Masih Tetap Ngeyel

Tiga tahun sudah berlalu dan aku sudah menginjak semester ke-6 di bangku kuliah jurusan Ilmu Komunikasi. Segala modal aku kumpulkan, baik melalui internet, belajar bahasa Jerman secara autodidak, mengumpulkan pundi-pundi uang dari hasil modeling, kerja part- time, maupun memberi les privat untuk anak-anak. Aku berpkir bahwa semua akan berjalan semulus kulit Syahrini. Aku sih belum pernah pegang kulitnya itu, tapi kelihatannya mulus.

Namun siapa sangka kalau akan banyak sekali kerikil di jalanan. Mungkin karena belum beraspal. Ya, sudahlah. Sekali lagi aku meyakinkan niatku kepada orang tuaku. Awalnya mereka berpikir bahwa setelah aku memasuki kuliah, impianku dari jaman SMA itu akan begitu mudah aku lupakan. Namun mereka salah.

Bapak selalu berkata “Ngopo kerjo adoh-adoh, ning kene yo akeh gawean.“ (Mengapa harus pergi kerja jauh-jauh, padahal di sini juga kann banyak pekerjaan). Wajarlah kalau seorang ayah merasa khawatir, jika anak perempuannya harus pergi jauh darinya. Tetapi ibuku selalu mendukung. Ia tahu bahwa anaknya tidak akan pernah menyerah. Namanya juga ngeyelan!

Aku pun tidak kehabisan akal. Aku mencoba melakukan couchsurfing www.couchsurfing.com Sebuah komunitas traveler (penjelajah) yang memberi kemungkinan kepada mereka untuk dapat tinggal dengan cuma-cuma sekaligus sambil merasakan kehidupan masayarakat lokal yang dikunjungi. Aku pun dengan senang hati menawarkan kamarku untuk menampung para bule dan mengajak mereka berkeliling kota, serta bertemu dengan teman-temanku. Keuntungannya adalah aku dapat melatih kemampuan bahasaku secara langsung dengan mereka.

Dengan menolong mereka, aku pun berhasil meyakinkan Bapak bahwa aku akan baik-baik saja di luar sana, karena aku punya banyak teman dari Eropa (Belanda, Prancis, dan Jerman) yang secara langsung aku kenalkan kepada keluargaku. Tetangga pun sampai heran, dari mana aku bisa menemukan mereka. Kadang aku merasa rumahku seperti Hostel di tengah kampung. Tetapi siapa sangka, justru mereka yang selalu mendukung dan meyakinkanku bahwa semua yang aku impikan tidaklah mustahil.

Proses Yang Tidak Menghianati Hasil

Setelah memasuki semester ke-7 aku mencoba membuat profil Au-Pair di www.aupairworld.com. Hanya dalam kurun waktu lima hari aku sudah mendapatkan tanggapan positif dari salah seorang calon keluarga asuh. Akun tersebut dapat kita buat secara cuma-cuma. Memang sekarang banyak agen yang bisa membantu kita, mulai dari proses belajar bahasa Jerman, mencari keluarga asuh di Jerman, hingga conseling pembuatan visa. Proses pembuatan visa memang harus melalui interview dalam bahasa Jerman. Dengan demikian bisa terlihat, seberapa jauh kemampuan bahasa Jerman kita. Apabila dirasa masih kurang mencukupi, penolakan pun bisa terjadi.

Aku menjalani semua proses tersebut dengan mandiri, supaya lebih murah. Mulai dari antri nomer sejak subuh-subuh di Kantor Imigrasi dalam rangka membuat paspor, hingga pergi ke Jakarta dengan naik bus selama 16 jam untuk mengambil visa, karena tak kebagian tiket kereta api. Setelah itu aku merasa kapok, karena sepanjang jalan cuma disajikan lagu semacam Sera satu album full, dari Kartasura sampai Jakarta. Rasanya seperti mau mati saja.Tetapi alhamdulillah, akhirnya aku pun sampai di tujuan dengan selamat.

Persyaratan Visa Au-Pair tergolong mudah. Namun bagiku hal itu bagaikan mencari permen Jagoan Neon. Pada tahun 2017 persyaratan-persyaratannya sebagai berikut:

  1. Vertrag atau Surat Kontrak Kerja yang dikirim oleh keluarga asuh dari Jerman. Waktu itu suratnya mungkin menyangkut di Samudra Atlantik, sehingga sampai tiga bulan tidak sampai juga. Akhirnya calon keluarga asuhku hendak mengirim ulang dan aku memiliki inisiatif untuk menititipkannya ke Franzi yang tinggal di München. Aku mengenal Franzi di Lombok dan kebetulan saat itu ia hendak datang ke Indonesia lagi untuk bekerja sebagai instruktur menyelam. Dia pun dengan senang hati membantuku*);
  2. Meldebescheinigung dari keluarga asuh. Semacam Kartu Keluarga. Waktu itu Meldebescheinigung-ku bermasalah, karena keluarga asuhku pindah rumah, sehingga pihak imigrasi setempat tidak dapat mengirimkan dokumenku kepada mereka;
  3. Sertifikat Bahasa dari Goethe Institute setingkat minimal A1. Waktu itu aku melakukan ujian A2 karena aku sudah belajar cukup lama**;
  4. Asuransi yang dibuat oleh calon keluarga asuh. Waktu itu keluarga asuhku tidak mengetahui tentang persyaratan tersebut dan Hayati sampai lelah menjelaskannya. Tetapi akhirnya mereka memahaminya juga dan mengirimkan surat asuransi dalam format PDF);
  5. Menentukan hari untuk pembuatan visa. Dengan percaya diri yang selangit aku pun menjadwalkan pembuatan visa dengan pihak instansi Jerman, padahal hasil ujian bahasa dari Goethe Institut belum keluar. Aku sudah duduk di kereta menuju Jakarta 15 menit sebelum mendapatkan e-mail hasil ujianku. Rasanya seperti mau bunge jumping mungkin ya. Karena jika aku tidak lulus ujuan, aku tidak akan bisa melamar visa. Tapi bersyukur, semua berjalan sesuai rencana;
  6. Foto biometris. Banyak foto studio di Jakarta yang sudah berpengalaman untuk negara tujuan Jerman;
  7. Formulir pendaftaran visa yang dapat diunggah di alamat link di bawah;
  8. Daftar Riwayat Hidup dalam format tabelaris dan surat motivasi tentang mengapa ingin menjadi Au-Pair di Jerman. Hindari menuliskan tujuan melakukan program tersebut untuk kuliah, karena penolakan bisa terjadi karenanya. Au-Pair adalah program pertukaran budaya antara Jerman – Indonesia yang seharusnya memberikan dampak positif bagi kedua pihak.
  9. Interview visa. Setelah dokumen persyaratan kita lengkap, kita akan menjalani interview di kedutaan besar dengan staf Jerman***;
  10. Menunggu. Ini yang paling menegangkan, karena semua jerih payah kita ditentukan di sini. Untuk kasusku, proses tersebut juga tidak semulus Autobahn di Jerman ataupun semulus kulit Syahrini. Surat verifikasi yang dikirim dari Kedutaan Jerman tidak pernah sampai ke keluarga asuhku, karena mereka pindah rumah saat aku melamar visa. Pihak kedutaan sampai menelpon berkali-kali menanyakan hal tersebut. Karena jika proses tersebut memakan waktu terlalu lama, kemungkinan besar visa pun akan ditolak. Aku memasrahkan diri saja setelah berusaha sejauh itu. Sampai pada suatu pagi pukul 9.13 WIB, tanggal 6 September 2016, akhirnya aku mendapatkan e-mail dari kedutaan Jerman bahwa visaku sudah jadi. Rasanya bagaikan bisul pecah, meskipun belum pernah bisulan. Aku puas!;
  11. Booking tiket pesawat. Saat berlibur di Bali, aku bertemu dengan Becci dari Dortmund. Dia menyarankanku untuk membeli tiket pesawat dari Eurowings via Bangkok. Saat itu hanya berharga sekitar 3,5 juta;
  12. Terbang ke Jerman.

* Beberapa minggu setelah Vertrag (Kontrak Kerja) dikirim, keluarga asuhku memutuskan untuk membatalkan kontrak tersebut, karena mereka sedang mengalami krisis. Aku pun terus berusaha dan berdoa sepanjang malam. Dua minggu kemudian, mereka memutuskan untuk tetap menerimaku di Jerman.

** Apabila nilai ujian hanya Ausreichend atau Cukup, kemungkinan akan sulit untuk menjalani proses interview Visa. Aku mendapatkan penilaian Gut (Bagus) waktu itu.

*** Pertanyaan wawancara hanya semacam pertanyaan dasar tentang keluarga asuh kita, misalnya: jumlah anak yang akan diasuh, tentang pekerjaan, dari mana kita belajar bahasa Jerman, alasan mengikuti program, rencana setelah program selesai, dan sebagainya.

Persyaratan visa Au-Pair secara lengkap tertera di website Kedutaan Jerman untuk Indonesia: http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3926234/Daten/5847667/D1_id__AuPair.pdf

Setelah semua masalah visa selesai, aku pun masih dihadapkan dengan masalah wisuda yang terancam mundur, karena batas waktu pendaftaran terlalu singkat. Aku berjuang mati-matian untuk bisa diwisuda bulan September, karena bulan Desember harus berangkat ke Jerman. Aku berinisiatif menghubungi salah satu dosen untuk mempercepat proses birokrasi. Namun ada yang justru menganggapku tidak sopan, karena menyangka aku ingin segera lulus (?).

Bayangkan, ketika kamu main Super Mario Bros dari level 1 sampai final, pas sudah tinggal lompat ke garis finish malah mati kesandung krikil. Kan nggak lucu. Mungkin aku memang harus bersakit-sakit dahulu untuk lebih bisa belajar tentang pahitnya perjuangan. Intinya, aku harus kerja keras dan jangan pernah menyerah. Sepatuku bahkan sampai putus waktu mengurus birokrasi wisuda, karena harus lari maraton dari fakultas – ke tempat fotokopi – ke biro administrasi – dan ke kawan-kawannya – selama tiga hari berturut-tutut.

Pada akhirnya, aku berangkat melalui Bangkok pada tanggal 28 November dan terbang ke Cologne (Köln) pada tanggal 31 November 2016. Pada hari yang sama, sekitar pukul 16.00 waktu setempat, aku tiba di sana. Ayah asuhku menjemputku di bandara. Semua tampak terasa di mimpi. Udara begitu dingin, sekitar 5 derajat Celcius. Namun aku tidak merasakan kedinginan sama sekali.

Processed with VSCO with hb1 preset

Weihnachtmarkt Hamm, Desember 2016

       
Processed with VSCO with hb1 preset

Kamar pribadi Au-Pairku di Hamm

       

Begitu banyak lika-liku yang harus aku alami hingga aku berhasil menapakkan kaki di negeri pencinta kentang ini. Begitupun dengan Thomas Alva Edison yang harus mengulang kegagalan sampai akhirnya karyanya dapat membantu seluruh manusia di muka bumi ini hingga sekarang. Mimpiku belum sejauh itu, Namun jika tujuanmu baik, alam akan membantumu dengan cara yang tidak terduga. Tidak terasa, kini sudah hampir satu tahun aku menjalani program tersebut. Kini aku berada di Hamburg untuk menjalani program kerja sosial secara sukarela. Aku pasti akan membagikan kisah berikutnya.

Processed with VSCO with  preset

Musim Panas di Jerman

       
Processed with VSCO with hb2 preset

Keluarga asuhku: Daniel, Astrid, Rainer, & Romeo

22489690_1591143737574824_5136199895604966063_n

Pertemuan IASI – Jerman dengan Perwakilan AFA – Indonesia di Jerman

(Oleh: Yanti Mirdayanti)
Pertemuan antara pengurus IASI dan lima orang perwakilan AFA – Indonesia di Jerman telah berlangsung pada hari Sabtu, 14 Oktober 2017, jam 12.00 – 15.00, Asien-Afrika-Institut, R. 233 – Universität Hamburg.
Grup AFA (singkatan dari: Au-Pair, FSJ, Azubi) merupakan kelompok diaspora muda Indonesia di Jerman, baik yang sedang bekerja sebagai Au-Pair, melakukan Kerja Sosial, maupun yang sedang mengikuti Sekolah Kejuruan Sistem Dual Jerman (pendidikan kejuruan/vokasi).
Adapun kelima orang perwakilan AFA yang hadir dalam pertemuan dengan IASI masing-masing ada yang sedang berkuliah di program S2, ada yang baru datang dan bekerja sebagai Au- Pair, ada yang baru menyelesaikan pendidikan Sistem Dual, ada yang sedang melakukan Kerja Sosial, dan ada yang sudah mendapat pekerjaan tetap.
Anggota AFA Indonesia di Jerman saat ini telah berjumlah ratusan orang. Belum diketahui jumlahnya yang pasti, karena belum dilakukan survei pengumpulan data dari seluruh Jerman. Kelompok diaspora muda yang sangat mandiri dan berpotensi ini tersebar di berbagai wilayah di Jerman. Di kota besar maupun kecil. Berkat adanya jaringan media sosial, kini diaspora AFA sudah bisa terhubung satu dengan yang lainnya dan bisa saling berbagi informasi.
Diaspora AFA selama ini belum berafiliasi ke ormas Indonesia mana pun di Jerman. Mereka mengakui bahwa selama ini tidak tahu percis harus berafiliasi ke ormas yang mana, sehingga sering merasa kesulitan untuk bisa turut serta menyalurkan bakat dan aspirasi ketika ingin berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan Indonesia di Jerman.
22406236_1591143874241477_3838703002264418417_n (1)
Pertemuan di adakan di ruangan 233, Asien-Afrika-Institut, Universität Hamburg
IASI segera merespon terhadap permasalah tersebut dan mengakui bahwa diaspora AFA Indonesia di Jerman merupakan kelompok diaspora Indonesia yang sangat berpotensi serta memiliki keahlian-keahlian tertentu yang sangat bervariasi. Diaspira AFA nerupakan aset yang sangat penting, baik untuk Jerman sendiri maupun untuk Indonesia. Pada saat ini maupun pada masa yang akan datang. Mereka datang ke Jerman pada usia produktif, penuh semangat serta optimisme akan masa depan yang baik, produktif, dan mandiri. Mereka bekerja sosial sambil terus mengasah bahasa Jerman mereka. Banyak dari mereka yang datang dari Indonesia sudah dengan mengantongi ijazah S1. Lalu setahun atau dua tahun kemudian, setelah melakukan kerja Au-Pair atau pun Kerja Sosial di Jerman mampu memulai program vokasi Sistem Dual secara penuh di perusahaan-perusahan sektor sosial maupun di industri-industri Jerman. Kemudian menjadi tenaga sangat profesional. Atau pun berlanjut ke program studi S2 di universitas di Jerman. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk terus sampai ke jenjang S3.
Dalam rangka turut mendukung dan menyukseskan program sekolah kejuruan/vokasi yang saat ini sedang digalakkan di Indonesia sebagai program pendidikan nasional, maka IASI pun hendak merangkul komunitas diaspora AFA di Jerman ini sebagai mitra. Juga sebagai nara sumber utama yang tepat dalam hal tukar menukar informasi dan pengalaman tentang pendidikan vokasi/sistem dual di Jerman.
Susunan program acara pertemuan IASI dan AFA meliputi:
  • Paparan tentang IASI oleh Ketua I dan II.
  • Pembagian formulir pendaftaran sebagai anggota IASI – Jerman.
  • Perkenalan diri kelima perwakilan AFA.
  • Perencanaan program acara AFA dari seluruh Jerman pada tanggal 3 Februari 2018 mendatang di Universität Hamburg.
  • Diskusi dan tukar menukar ide.
  • Makan/Minum.
  • Selesai.
Hal paling penting untuk acara IASI – AFA pada tanggal 3 Februari 2018 adalah akan dilakukannya forum panel dan tukar pikiran dari beberapa perwakilan AFA yang meliputi sektor:
  • Au-Pair
  • FSJ
  • Azubi
  • Bekerja
  • Kuliah
Adapun rencana AFA jangka panjang selanjutnya yang akan pula disokong oleh IASI, diantaranya:
  • AFA terbentuk sebagai ormas di Jerman.
  • AFA diperkenalkan kepada pihak-pihak perwakilan Rep. Indonesia di Jerman.
  • AFA menulis dan menerbitkan buku.
  • AFA aktif menjadi mitra pemerintah Indonesia dalam menyukseskan program pendidikan vokasi di tanah air.
Pertemuan/rapat IASI selanjutnya dengan perwakilan AFA direncanakan pada hari Sabtu, tanggal 20 Januari 2018.
Top