Menarik Minat Diaspora Indonesia di Jerman dan Tenaga Ahli Indonesia Lulusan Jerman Dalam Rangka Membangun Tanah Air, Indonesia

Penulis: Yudi Ardianto 
Editor : Yanti Mirdayanti 

Pada tanggal 13 Maret 2019 di KJRI – Hamburg telah diselenggarakan acara presentasi dan diskusi dengan topik “Menarik Minat Diaspora Indonesia di Jerman dan Tenaga Ahli Indonesia Lulusan Jerman Dalam Rangka Membangun Tanah Air”. Pembicara tunggal acara yang diselenggarakan oleh IASI – Jerman bekerjasama dengan KJRI – Hamburg ini adalah Makhdonal Anwar, Koordinator PMD (Program Migrasi dan Diaspora) GIZ – Indonesia (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusamenarbeit).

Hadir dalam acara ini berbagai kalangan dari diaspora Indonesia yang terdiri dari para tenaga profesional, praktisi industri, akademisi, perwakilan PPI dari beberapa kota di Hamburg utara, serta mahasiswa S2 dan S3 dari Universitas Hamburg.

Acara dibuka oleh ketua IASI, Yudi Ardianto dan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Konsul Jenderal RI di Hamburg, Dr. Bambang Susanto.

Dalam paparan singkatnya tentang GIZ, Makhdonal Anwar menjelaskan bahwa GIZ adalah lembaga BUMN milik pemerintah Jerman, yaitu Kementrian Federal untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan/BMZ – Bundes Ministerium für die Wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung yang merupakan lembaga pelaksana untuk memberikan bantuan teknis di 130 negara mitra,  salah satunya Indonesia. GIZ mendapatkan mandat dari BMZ untuk memberikan bantuan teknis yang didukung sekitar 18.000 karyawan dengan volume bisnis sebesar 2,4 milyar Euro (data 2016). Di Indonesia sendiri GIZ hadir sejak tahun 1975. Pada saat berdiri namanya adalah GTZ, Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit GmbH. Saat ini GIZ-Indonesia memiliki sekitar 300 karyawan dan bersama pemerintah Indonesia mengelola lebih dari 60 proyak yang bernilai 40 juta Euro.

Paparan yang kedua menyangkut topik yang sangat relevan dengan diaspora Indonesia, yaitu tentang empat komponen dalam cakupan program migrasi dan diaspora. Secara singkat komponen-komponen program tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Returning Experts / Tenaga Ahli Pulang Kampung (sejak 1986)

Target dari program ini adalah mahasiswa yang baru lulus atau profesional Indonesia yang telah kembali dan baru saja mendapatkan pekerjaan di Indonesia. GIZ memberikan subsidi gaji selama 2 tahun. Tujuan subsidi untuk membantu agar yang bersangkutan bisa lebih fokus menjalankan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa harus memikirkan penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Manfaat yang diharapkan dari program ini adalah sumber daya manusia berkualitas lulusan Jerman bisa melakukan proses transfer ilmu/sharing of knowledge yang mengacu ke perkembangan terbaru di Jerman. Akses dengan dunia internasional terutama Jerman juga menjadi nilai tambah.

  1. Short-Term Diaspora Experts / Program Jangka Pendek bagi Tenaga Ahli Diaspora Indonesia (sejak Agustus 2018)

Profesional Indonesia yang sedang bekerja di Jerman akan menjalankan masa penugasan di Indonesia selama minimum 3 minggu  dan maksimum  6 bulan di salah satu institusi di Indonesia. Bisa universitas, lembaga riset, perusahaan swasta maupun pemerintah daerah/provinsi. Program PMD memberikan fasilitas dengan mendatangkan tenaga ahli diaspora Indonesia. Pembiayaan tenaga ahli 100% diberikan oleh program PMD. Komponen kedua ini  bisa digunakan juga untuk skema Training of Trainers (pelatihan untuk pelatih). Pada bulan September 2018 lalu GIZ Indonesia telah mengumumkan daftar permintaan tenaga ahli dari berbagai instansi di Indonesia, data lengkap bisa dilihat di tautan IASI facebook page berikut: info_kebutuhan_tenaga_ahli

  1. Business Idea for Development / Ide Berbisnis untuk Pembangunan (sejak 2014)

Program PMD ketiga ini memberikan dukungan kepada diaspora Indonesia di Jerman yang baru pulang ke Indonesia dan berminat untuk membangun bisnis wiraswasta/menjadi entrepreneur. Setelah memulai proses seleksi dengan metode Pitch – Bootcamp – Mentoring, bagi yang terpilih akan mendapat dukungan senilai sampai 5000 Euro dalam bentuk mentoring/coaching dan juga biaya untuk pembuatan purwarupa/prototyping. PMD juga memberikan dukungan dengan memfasilitasi kontak dengan bank, calon partner bisnis dan investor.

  1. Migration Policy Advice / Masukan untuk Kebijakan Migrasi 

Program PMD yang ke-4 ini masih dalam proses persiapan. Mitra dari komponen program ini adalah KEMENLU yang sudah diinisiasi sejak tahun 2014. Tujuan dari program ini adalah untuk menjembatani diaspora Indonesia di Jerman supaya bisa memberikan masukan-masukannya dalam tataran kebijakan migrasi pemerintah RI.

Dalam sesi tanya jawab, para peserta yang hadir sangat antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan diskusi kemudian dilanjutkan sambil menyantap hidangan makan malam.

Dalam acara ini juga disepakati bahwa GIZ Indonesia bekerjasama dengan IASI akan menampung minat dari diaspora Indonesia dalam bentuk susunan daftar pool of experts dalam rangka mendukung program short term diaspora experts.  Untuk hal ini, selain data pribadi juga diperlukan deskripsi pendek keahlian, institusi yang akan didatangi (jika sudah ada) dan/atau daerah yang diminati, serta kapan rencana akan ke Indonesia. Sebagai informasi tambahan, sampai saat ini Indonesia bagian timur belum banyak memanfaatkan program ini dan diharapkan untuk ke depannya akan lebih banyak perserta yang berminat untuk ke sana.

Untuk informasi lebih lanjut bisa mengontak langsung GIZ Indonesia:

Makhdonal Anwar
E-mail: makhdonal.anwar@giz.de
Telp.:  +62 21 2358 7111
www.cimonline.de

 

Presentasi tentang GIZ dan program PMD bisa diunduh dari tautan berikut:

GIZ

PMD_halaman_1-6

PMD halaman_7-13

Seminar Interaktif ‘Kresna Duta’ 2019 – Jerman (Bremen – Hamburg – Berlin)

Penulis: Prasti Pomarius / Divisi Kebudayaan
Editor : Yanti Mirdayanti 

Seminar interaktif ini merupakan bagian dari rangkaian proyek 2019 ‘Kresna Duta’ dalam misi memperkenalkan kesenian Wayang Orang di Jerman.

Di Seminar ini dijelaskan tentang rangkuman sejarah Wayang Orang, perbedaan mendasar Wayang Orang dan Wayang Kulit, penjelasan tentang pemain Wayang Orang sebagai aktor multitalen yang harus menguasai berbagai macam hal, seperti beragam gerak karakter, tembang, suara, dan lain-lain.

Kami bersyukur telah mendapatkan umpan balik/feedback positif dan apresiasi yang sangat tinggi dari para peserta seminar yang hadir (warga Jerman, Indonesia, maupun warga internasional di Jerman).

Hadirin sangat berantusias menantikan pagelaran kami pada bulan September mendatang di beberapa kota di Jerman. Akan diselenggarakan diantaranya di Hamburg, Bremen, Berlin, dan beberapa fragmen di kota lainnya, seperti Kiel, dll. Informasi lebih detail lainnya akan menyusul.

Keseluruhan Pengurus IASI, e.V.- Jerman, keseluruhan tim panitia, serta khususnya dari Koordinator Divisi Kebudayaan – Prasti Pomarius, kami haturkan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada para narasumber/maestro Wayang Orang dari Indonesia: Mas Wasi Bantolo, Mas Ali Marsudi, Senthun Bima/Mas Didit dan seluruh tim Jerman.

Acara Seminar Interaktif 2019 berlangsung:

  • di Bremen, 6 Maret 2019, bertempat di Übersee-Museum
  • di Hamburg, 7 Maret 2019, bertempat di Konsulat Jenderal Republik Indonesia / KJRI
  • di Berlin, 8 Maret 2019, bertempat di Rumah Budaya Indonesia / Indonesisches Kulturhaus

Keseluruhan delegasi Wayang Orang yang akan didatangkan ke Jerman pada bulan September adalah sekitar 30 pemain Wayang Orang dan 13 pengrawit / penabuh gamelan.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia turut mendukung pelaksanaan program budaya Wayang Orang ‘Kresna Duta’ 2019 di Jerman ini.

Penelitian Tentang Katak Mengantar Umilaela Arifin Mencapai Gelar Doktor di Jerman

(Keterangan foto: Prof. Dr. Alexander Haas bersama Dr. rer. nat. Umilaela Arifin)

Penulis: Annisa Hidayat / Mahasiswi Program Master, Universität Hamburg

Editor: Yanti Mirdayanti

It is odd that we have so little relationship with nature, with the insects and the leaping frog and the owl that hoots among the hills calling for its mate. We never seem to have a feeling for all living things on the earth” – (Jiddu Krishnamurti)  

Banyak jenis hewan yang mungkin jarang terpikirkan oleh banyak orang untuk diteliti. Misalnya, dalam film drama My House in Umbria diceritakan tentang seorang profesor di salah satu universitas di Amerika Serikat, Thomas Riversmith (Chris Cooper) yang berpuluh tahun meneliti semut rangrang merah dan istrinya yang juga berprofesi sebagai profesor meneliti semut rangrang hitam. Pada majalah National Geographic edisi Juni 2015, fotografer Martin Oeggerli meneliti tampilan desain di dalam mata seekor lalat buah. Umilaela, seorang peneliti Indonesia di Jerman, pun memilih meneliti katak Sumatra sebagai fokus studinya untuk mencapai gelar doktornya baru-baru ini. Dalam bahasa Jerman disertasinya  berjudul „Phylogenetische Systematik, Diversität und Biogeographie von Fröschen mit gastromyzophoren Kaulquappen auf Sumatra, Indonesien“ (Bahasa Indonesia: „Sistematika filogenetik, keanekaragaman dan biogeografi katak dengan berudu gastromyzofora di Sumatra, Indonesia“). 

Mencapai gelar doktor di Jerman adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan, namun memberi banyak pengalaman hidup berharga bagi si peneliti. Umilaela Arifin, seorang mahasiswi program S3 di Universität Hamburg telah berhasil mempertahankan ujian disertasinya di hadapan empat orang profesor penguji (termasuk satu profesor pembimbing) untuk mencapai gelar doktor pada 25 Januari 2019 yang lalu. Doktor yang diselesaikan dalam lima tahun itu mendapat dukungan beasiswa studi dari DAAD-IGSP (German Academic Exchange Service–Indonesian German Scholarship Program).dan Merit Scholarship for International Students of University Hamburg, serta dana penelitian dari DFG (Deutsche Forschungsgemeinschaft). Sekitar 40 orang hadir di sebuah ruangan tertutup di Zoologisches Institut – Universitas Hamburg untuk menyaksikan Umilaela mempresentasikan hasil penelitiannya yang cukup unik, yaitu tentang katak Sumatra sebagai fokus penelitian. Mengapa katak Sumatra?

Pada awal presentasi Umilaela terlebih dahulu menjelaskan pulau Sumatra secara geografis, tempat utama ditemukannya berbagai spesies katak yang akan ditelitinya. Paparan Sunda, termasuk di dalamnya adalah Sumatra, dikenal sebagai wilayah dengan keanekaragaman hayati dan spesies endemik yang tinggi. Hal ini diperkirakan karena pengaruh sejarah geologi yang sangat kompleks di wilayah ini, misalnya keberadaan sungai purba pada jaman Pleistosen (dua juta tahun yang lalu). Topik disertasi Umilaela difokuskan untuk mengetahui keberadaan daerah aliran sungai (DAS) purba di Sumatra yang berkaitan erat dengan pola penyebaran spesies katak di pulau ini. Katak dengan tipe berudu gastromyzofora (yang memiliki semacam alat penghisap di bagian perutnya) dipilih karena penyebarannya yang luas di Sumatra dan fase larvanya sangat bergantung pada habitat sungai berarus deras. Hasil penelitian yang dilakukan Umilaela dengan metode integrative taxonomy membuktikan bahwa katak dengan tipe berudu unik ini memiliki keanekaragaman spesies yang lebih banyak daripada yang diketahui saat ini. Satu marga katak (Sumaterana) dan dua spesies baru (S. montana, S. dabulescens), serta dua kandidat spesies (marga Huia) berhasil ditemukan melalui penelitian ini. Selain itu, pola penyebaran spesies katak marga Huia dan Sumaterana diperkirakan tidak dipengaruhi oleh keberadaan DAS purba karena nenek moyang kedua marga katak tersebut muncul lebih awal (25-27 juta tahun yang lalu) dibandingkan DAS purba tersebut (dua juta tahun yang lalu). Lebih menarik lagi, hasil penelitian Umilaela menunjukan bahwa penyebaran kedua marga katak tersebut mungkin dapat dibagi menjadi dua, yaitu di bagian utara dan bagian selatan pulau Sumatra. Dengan mempelajari keanekaragaman spesies dan pola penyebarannya, maka hasilnya diharapkan dapat menjadi bahan yang bermanfaat untuk mendesain sebuah metode konservasi yang tepat untuk spesies tersebut.

Selepas ujian yang cukup menegangkan, semua orang berkumpul di depan pintu untuk mendengarkan pengumuman resmi dari hasil ujiannya. Umilaela dinyatakan predikat Magna Cum Laude (sangat baik). Profesor pembimbing dari Umilaela kemudian menganugerahkan sebuah topi wisuda yang sangat unik yang menceritakan perjalanan Umilaela selama penelitian mencari katak Sumatra. Topi wisuda ditempeli dengan foto-foto Umilaela. Misalnya ketika menyeberangi sungai dengan perahu, atau ketika sedang berjalan dengan tas penuh katak. „Di tas kantong putih foto ini isinya katak“, jawab Umilaela ketika ditanya seorang teman. Ada seratus lebih jenis katak yang dikumpulkan Umilaela untuk diteliti sepanjang perairan Sumatra, yang pada akhirnya menemukan tiga jenis katak yang berbeda dan unik. Tiga jenis katak ini pada fase berudunya memiliki bentuk perut yang membantu menempel pada bebatuan sehingga tidak hanyut terbawa arus sungai yang deras tempat mereka hidup.

Selepas upacara penyerahan topi sarjana, para rekan mahasiswa dari berbagai negara dan profesor penguji, beserta teman-teman Indonesia yang hadir dipersilakan menyantap hidangan nasi kuning dan sebuah tumpeng. Sebelum upacara pemotongan tumpeng, Umilaela terlebih dahulu menjelaskan makna tumpeng dalam budaya tradisi Jawa. Tumpeng adalah simbol kesuburan dan kehidupan yang harmonis, ucap Umilaela.  Melambangkan kehidupan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa. Bentuk kerucut dari Nasi Kuning melambangkan gunung sebagai tempat Yang Maha Kuasa berada, sedangkan unsur di bawahnya, seperti urab toge, tempe, telur, ayam, dll. melambangkan kesuburan dan kehidupan yang selaras. Umilaela memotong tumpeng dan memberikannya kepada para profesor yang telah mengujinya itu sebagai simbol untuk berbagi kebahagiaan karena sudah berhasil melewati ujian disertasi dengan sukses. Semua yang datang terlihat begitu menikmati hidangan Nasi Kuning dan makanan kecil Indonesia lainnya.

Segenap pengurus dan anggota IASI – Jerman dengan ini mengucapkan Selamat untuk Dr. rer. nat. Umilaela Arifin atas keberhasilan disertasinya dan juga atas diperolehnya tiga tahun Postdoc Marie Curie EU Fellowship!!!

 

„I would kiss a frog even if there was no promise of a Prince Charming popping out of fit. I love frogs“  – (Cameron Diaz)

Mengapa Tidak Banyak Orang Indonesia Mengenal Wiji Thukul?

Penulis: Annisa Hidayat / Mahasiswi Program Master, Universität Hamburg

Editor: Yanti Mirdayanti / Ketua II & Divisi Pendidikan – IASI, e.V. - Jerman

“Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu”
(Wiji Thukul, “Aku Ingin Jadi Peluru)

Sebelumnya saya tidak benar-benar mengenal figur seorang Wiji Thukul, sampai kemudian pada suatu hari seorang teman dekat memperkenalkannya kepada saya. Kami berdua memang sangat menyukai dunia sastra, khususnya puisi. Komunikasi kami pun sering dilakukan lewat puisi. Teman saya itu sangat mengagumi Wiji Thukul, suatu hal yang kemudian menggiring saya untuk pula mengenal Wiji Thukul lebih dekat lagi. Akhirnya, saya pun membaca puisi-puisi karya penyair yang juga aktivis pergerakan reformasi Indonesia ini. Saya ingin mencari tahu lebih jauh, siapa sebenarnya Wiji Thukul dan karya seperti apa yang sangat dikagumi oleh teman dekat yang saya sukai itu. Demikianlah awal perkenalan saya dengan Wiji Thukul, seorang penyair Indonesia yang luar biasa dan sangat kritis serta jeli terhadap kepincangan-kepincangan yang terjadi di sekitarnya.

Saat ini, setiap kali saya membaca tulisan Wiji Thukul, maka memori masa lalu ketika masih bersahabat dekat dengan teman itu akan muncul lagi di ingatan. Saya pun harus berterimakasih kepadanya, karena dia jugalah  yang telah  memperkenalkan saya kepada novel “Cantik itu Luka”, karya hebat penulis muda Indonesia kelahiran Tasikmalaya, Eka Kurniawan. Waktu itu tahun 2012, pada saat saya belum membaca karya-karya Eka. Sebenarnya saya sudah sering melihat bukunya di toko buku, tetapi waktu itu belum ada ketertarikan untuk membacanya. Namun akhirnya saya pun membacanya, karena ingin mengenal teman saya itu dengan lebih dekat lagi melalui buku-buku  yang dibacanya. Saat itu kami saling berkirim pesan setiap hari melalui Yahoo Messenger. Betapa klasiknya masa itu, saat belum banyak aplikasi media sosial seperti saat ini!

Saya harus menceritakan hal-hal tersebut karena beberapa malam lalu  muncul beberapa pertanyaan pada sebuah diskusi setelah menonton pemutaran film Wiji Thukul, “Istirahatlah Kata-Kata” di Univeristas Hamburg, Jerman. Pemutaran film tersebut dikoordinir oleh Ikatan Masyarakat Jerman – Indonesia di Hamburg (disingkat: DIG – Hamburg) yang berkolaborasi dengan Jurusan Asia Tenggara, Universitas Hamburg. Ini merupakan film terakhir yang diputar dalam rangka program seri film Indonesia di Jurusan Asia Tenggara untuk Semester Musim Dingin 2018/2019. Pada setiap pemutaran film selalu ada tamu yang diundang untuk menjadi pembicara dalam sesi diskusi (tanya jawab) tentang topik film dan seluk beluk latar belakang ceritanya.

Pada Selasa malam, tanggal 15 Januari 2019 lalu, tamu yang menjadi pembicara pada pemutaran film di Universitas Hamburg adalah Peter Sternagel, seorang penerjemah beberapa karya sastra modern Indonesia, termasuk kumpulan puisi Wiji Thukul. Terjemahan dilakukannya dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman. Sesuatu yang spesial juga dari acara malam pemutaran film yang diselenggarakan di aula kampus Ethnologi itu adalah keterlibatan para mahasiswa  Program Studi Indonesia /Melayu. Mereka ikut pentas membacakan puisi – puisi Wiji Thukul dalam versi Bahasa Indonesia. Pembacaan versi Bahasa Jerman dilakukan oleh sang penerjemah sendiri, Peter Sternagel.

Di antara sekian pertanyaan yang muncul pada acara diskusi adalah: “Mengapa tidak banyak orang Indonesia yang mengenal Wiji Thukul?”. Beberapa mahasiswa yang menyatakan bahwa mereka mengenal cerita Wiji Thukul adalah mereka yang hampir semuanya pernah tinggal di kota Yogyakarta. Di kota ini budaya seni dan sastra memang selalu aktif, sehingga banyak orang, khususnya para mahasiswa, yang mengenal Wiji Thukul melalui kegiatan aktivismenya maupun karya-karyanya puisinya. Maka bukan suatu kebetulan, teman dekat saya itu juga tinggal di Yogyakarta dan berkuliah di sana.

Wiji Thukul tidak asing bagi mereka yang menyukai sastra dan mereka para aktivis mahasiswa. Mengapa sastra? Selama jaman Orde Baru (1967 – 1998) telah terjadi pengekangan terhadap hak-hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat yang kritis dan dianggap berbeda dari versi penguasa. Keadaan ini membuat orang-orang menyampaikan pesan-pesan tersembunyi melalui sastra yang banyak dibalut dengan metafora-metafora. Pesan-pesan yang kritis dan terbuka dianggap sangat berbahaya bagi yang menyuarakannya. Pramoedya Ananta Toer misalnya adalah salah seorang penulis legendaris yang berani menyuarakan hal-hal yang berhubungan dengan pelanggaran hak-hak azasi manusia, tentang sejarah yang ditutupi dan fakta yang diputarbalikkan. Pramoedya kemudian dijebloskan ke penjara, dikirim ke Pulau Buru sebagai tahanan politik, dan buku-buku karyanya dibakar oleh militer Orde Baru.

Sastra adalah  salah satu jalan yang dipilih Wiji Thukul untuk menyampaikan kritik-kritiknya kepada pemerintah Orde Baru. Mereka yang tidak tertarik dengan sastra memang akan jarang mendengar nama Wiji Thukul. Apalagi yang tidak aktif secara langsung dalam pergerakan reformasi, maka tidak akan mengenal siapa itu Wiji Thukul.

Wiji Thukul adalah Pram, adalah Rendra, adalah mereka yang berani mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Kata-kata yang dilahirkan bukan kata-kata yang selalu bersembunyi di balik metafora. Mereka orang-orang sunyi yang berbicara tentang kemanusiaan. Dan sepanjang sejarahnya, orang-orang yang sepi adalah mereka yang selalu berbicara tentang kebenaran.

 

“Jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan,
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang,
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding,
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan tetes darah!”

(Wiji Thukul, “Penyair”)

Interreligious Dialogue: Religious Tolerance in a Multicultural Society

Oleh:  Maraike J.B. Bangun - Mahasiswi PhD Bidang Teologi di Universitas Hamburg

 

Pada tanggal 1 Desember 2018 telah berlangsung kegiatan dialog antaragama yang diselenggarakan oleh Dimension Journal for Humanities and Social Sciences (DJHSS) yang berkolaborasi dengan Departemen Studi Asia Tenggara di bawah Universitas Hamburg dan Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI). Kegiatan yang mengambil tempat di Missionsakademie-Universitas Hamburg mengundang Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama Sulawesi Utara (BKSAUA-Sulut) dan turut didukung oleh Pemerintah Daerah Sulawesi Utara.

Delegasi dari BKSUA diwakili oleh 10 orang.  Juga hadir perwakilan dari Konsulat Jenderal RI di Hamburg,  Perhimpunan Jerman – Indonesia (DIG – Hamburg), para mahasiswa Jurusan Asia Tenggara – Universitas Hamburg, perwakilan Missionsakademie  – Universitas Hamburg, dan berbagai tamu lainnya dari beberapa institusi di Jerman.

Dialog antaragama ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan dialog antaragama pada tanggal 13 Juni 2018 di Asien-Afrika-Institut, Universitas Hamburg. Acara dimulai dengan kata sambutan dari Dr. Uta Andree, Direktur Program Missionakademia-Universitas Hamburg, dengan memperkenalkan Missionsakademie sebagai sebuah institusi di bawah naungan Universitas Hamburg yang menekankan pentingnya dialog antar umat beragama dan budaya pada level akademis. Sesudah sambutan, kegiatan dibuka dengan doa berantai oleh perwakilan enam agama di Indonesia serta satu perwakilan dari gereja di Jerman.

Pembicara pertama dalam kegiatan ini adalah Prof. Werner Kahl, salah satu pimpinan di Missionsakademie-Universitas Hamburg, dengan tema makalah “Jews, Christians, and Muslims as Faith Relatives within the Same Monotheistic Family.”  Sebagai pembicara yang mewakili Missionsakademie, Prof. Kahl menekankan pengertian misi Kristen pada masa kini, yaitu misi dialog interkultural dan keagamaan. Misalnya dengan adanya perjumpaan antara Kristen dan Islam di Jerman yang semakin nyata yang salah satu pendorongnya adalah karena kedatangan banyak pengungsi di Jerman. Pengalaman ini mendorong gereja di Jerman untuk kemudian membangun sebuah hubungan yang positif dengan mereka yang memeluk agama Islam. Salah satu pendekatan yang dipaparkan Prof. Kahl adalah pentingnya untuk mendengarkan secara saksama, sabar, dan kritis, serta dengan mengeksplorasi berbagai kesamaan antara Islam dan Kristen. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Prof. Kahl misalnya dengan menelusuri hubungan diakronis antara agama-agama Abraham, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam, dengan membandingkan bahasa Arab pada abad ke-17 dengan teks Alkitab dalam bahasa Siria. Ia menyimpulkan bahwa Islam merupakan sebuah upaya refleksi kritis atas tradisi Yahudi dan Kristen yang telah ada sebelumnya. Oleh sebab itu, Allah yang dituju adalah Allah yang sama yang secara kritis direfleksikan dalam kisah Abraham, Yesus, dan tokoh-tokoh lainnya. Sebagai contoh konkret, alasan Abraham untuk meninggalkan keluarganya tidak diberikan di dalam Alkitab, tetapi ada di dalam Al-Quran, yaitu karena politeisme. Salah satu kesamaan lainnya adalah dua perintah Allah, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama makhlukNya. Oleh sebab itu, menurutnya, orang Kristen perlu menyadari secara serius bahwa umat Islam percaya kepada Allah yang sama yang disembah oleh orang Yahudi dan orang Kristen.

Pembicara kedua adalah Dr. Richard Siwu yang mewakili BKSAUA-Sulut dengan judul makalah “Religious Tolerance and Harmony in a Plural Society.” Berbeda dengan pendekatan Prof. Kahl yang menggunakan pendekatan teologis dalam mencari landasan bagi dialog antaragama monoteistik, Dr. Siwu menggunakan pendekatan sosiologis dengan memaparkan istilah “Torang Semua Basudara” (Kita Semua Bersaudara). Dr. Siwu memulai dengan memaparkan perkembangan keagamaan secara global yang dipengaruhi oleh globalisasi yang membuat kita menjadi warga dunia, sehingga kita perlu menyadari pentingnya hidup bersama secara inklusif, terbuka, dan harmonis. Demi mewujudkan hal ini, para tokoh agama di Sulawesi Utara menggunakan kearifan lokal “Torang Semua Basudara” sebagai landasan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Salah satu contoh konkretnya adalah posisi Ketua BKSAUA yang digilir berdasarkan enam agama resmi yang diakui di Indonesia. Kepemimpinan yang ada tidak ditentukan oleh “mayoritas-minoritas.” Lebih lanjut lagi, Dr. Siwu menjelaskan bahwa istilah “Torang Semua Basudara” pun mengalami perluasan makna menjadi “Torang Samua Ciptaan Tuhan.” Implikasinya tidak hanya mencakup seluruh manusia yang berbeda-beda, tetapi juga mencakup ciptaan Tuhan lainnya, seperti alam dan hewan. Dengan demikian salah satu tugas umat beragama bukan hanya hidup secara rukun, tetapi juga merawat ciptaan Tuhan lainnya. Secara umum, BKSAUA yang dibentuk oleh Gubernung H. V. Worang pada 25 Juli 1969, merupakan mitra pemerintah daerah Sulawesi Utara dalam mengatasi masalah-masalah antaragama.

Pembicara ketiga adalah Mu’ammar Zayn Qadafy, M.A., seorang cendikiawan Islam yang sedang mengambil program Doktor di Universitas Freiburg, Jerman. Judul presentasinya adalah “Building the Interfaith Trust in Indonesia: Combining Synchrony and Diachrony in the Quranic Prohibition to Ally with People from Other Religion” yang berangkat dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau “Ahok” atas Surat Al-Maida 51. Pertanyaan mendasar yang dikaji oleh Qaddafi adalah apakah orang Islam tidak dapat bekerja sama dengan penganut agama lainnya. Berbeda dengan berbagai pendekatan yang selama ini digunakan dalam membaca surat ini, Qaddafi menggunakan Pendekatan Semantik Historis (Historical Semantic Approach). Ia menghitung berapa banyak penggunaan kata Awlia (pemimpin/teman), Ansor (pendukung) dan A’da (musuh) di dalam Alquran secara umum untuk memperlihatkan bahwa penekanan Alquran secara umum terletak pada  Awlia, Ansor dan barulah A’da. Selain itu, ia memperlihatkan pergeseran penggunaan kata Awlia dan A’da dalam sejarah Islam pada periode Mekkah dan Medinah. Salah satu kesimpulan inti dari makalah pembicara ketiga ini adalah bahwa dalam worldview Al-Qur’an, yang dijadikan musuh utama adalah setan. Sementara permusuhan terhadap kelompok-kelompok tertentu sangat sedikit jumlahnya dan sangat terikat dengan konteks historis periode Madinah.

Setelah para pembicara selesai memaparkan presentasi mereka pada sesi pagi hari, acara dilanjutkan dengan istirahat makan siang. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama. Para peserta sangat antusias dalam bertanya dan memberikan pendapat-pendapat pribadi mereka tentang isu-isu tertentu, seperti tentang terjemahan Alkitab, tafsiran atas Surat Al-Maida 51, relasi Islam dan Kristen di Jerman dalam konteks banyaknya pengungsi yang datang, pandangan MUI tentang agama-agama lainnya, termasuk Ahmadiyah, dan pertanyaan-pertanyaan serta pendapat-pendapat lain-lainnya. Salah satu masukan peserta yang sangat penting dalam dialog ini adalah saran untuk diberikannya porsi dan kesempatan bagi perwakilan-perwakilan agama selain Islam dan Kristen, untuk turut mempresentasikan makalah mereka, agar percakapan yang ada tidak hanya didominasi oleh diskusi antara Islam dan Kristen. Bahkan juga disarankan bahwa untuk ke depannya ruang lingkup dialog agar dapat diperluas dengan menyuarakan semua perwakilan agama yang resmi diakui di negara Indonesia.

Akhir dari kegiatan ini ditutup dengan foto bersama.

Koordinator acara:
1) Dr. Margaretha Liwoso (Dimension Journal of Humanities and Social Sciences)

2) Yanti Mirdayanti, M.A. (Indonesian/Malay Studies, Universität Hamburg)

3) Yudi Ardianto, MSc. (Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia IASI e.V.)

Mahasiswa Student Exchange FIB Ikuti Program Ekskursi ke Berlin

Oleh: Kukuh Yudha Karnata (Guest Lecturer, Uni Airlangga – Surabaya), Sumber: http://fib.unair.ac.id/Eng/2018/11/23/mahasiswa-student-exchange-fib-ikuti-program-ekskursi-ke-berlin/

Cindy Belinda (jilbab merah), bersama direktur Watchindonesia, Pipit Kartawidajaja (baju hitam), dan rombongan dari University Hamburg.

Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Cindy Belinda, yang kini mengikuti program student exchange di University Hamburg, aktif mengikuti Konferensi Law and Justice: Indonesia 20 Years after Reformasi yang diadakan WatchIndonesia 9-11 November 2018. Konferensi itu diikuti para intelektual dan aktivis dari Indonesia dan Eropa. Membahas beragam topik dan isu-isu aktual dari hak asasi manusia hingga konflik agraria, lima belas mahasiswa tingkat sarjana dan magister dari Languages and Cultures of Southeast Asia University Hamburg ikut berpartisipasi aktif.

Reformasi 1998 tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia. Semangat zaman para mahasiswa di Indonesia saat itu bersatu dengan satu tujuan bersama yakni menurunkan rezim pemerintah Suharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun dan berharap kondisi Indonesia membaik di masa yang selanjutnya.

“Bagi kami yang sudah cukup dewasa, Reformasi Mei sangat membekas dalam ingatan. Namun bagi mahasiswa yang saat itu sebagian besar belum lahir, apakah mereka juga memahami kondisi batin mahasiswa Indonesia saat itu? Inilah tujuan kami ekskursi ke Berlin,” ujar Yanti, Koordinator ekskursi sekaligus pengajar Bahasa Indonesia di Asien African Institute University of Hamburg. Perempuan kelahiran Tasikmalaya, Indonesia ini lantas berusaha memberikan ‘warna’ dalam kuliah Bahasa yang diampunya. Tidak sekadar belajar tata bahasa, Yanti juga ingin memberi dimensi wawasan sejarah dalam materi yang diajarkannya.

“Mahasiswa saya beri tugas untuk membuat poster tentang bagaimana reformasi Indonesia saat itu, sesuai dengan paparan yang diberikan oleh pembicara,” lanjutnya.

Ide Yanti lantas ditanggapi dengan antusias oleh mahasiswanya. Tidak hanya mahasiswa sarjana, melainkan juga mahasiswa magister, ingin turut serta dalam program ekskursi selama tiga hari itu. Total terdapat lima belas mahasiswa, termasuk mahasiswa program student exchange dari Magister Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Cindy Belinda.

Konferensi yang digelar di Berlin Global Village itu menghadirkan sejumlah pembicara yang sangat kompeten di topiknya masing-masing. Dede Utomo, aktivis GAYa Nusantara dan pengajar di Universitas Airlangga memaparkan Persecution of Sexual Minorities in The Media; Ratna Saptari yang mengajar di Leiden University dalam paparannya berjudul Persecution through Denial of Citizenship: Indonesians in Forced Exile Post-1965; Yunantyo Adi S, aktivis dan jurnalis dari Semarang memaparkan pengalamannya saat menelusuri dan menandai kuburan massal korban persekusi tragedi 1965 dalam paparannya berjudul Identity conflicts in Semarang and its transformation.

Ragil, mahasiswa University Hamburg, ikut berbagi pengalamannya saat aktif dengan beberapa komunitas LGBT di Yogyakarta, dan meminta saran pada Dede Utomo tentang strategi agar komunitas LGBT bisa tetap eksis meski masih banyak tantangan dan tentangan dari kelompok masyarakat tertentu.

Beberapa pembicara dari Jerman juga turut serta di antaranya Irina Grimm, yang memaparkan tema serupa yakni Indonesian Student in Republic Federal Germany 1965-1998: Between Repression and Opposition; Willem van der Muur memaparkan Land conflicts and the indigenous movement in Indonesia: from resistance to rights?; Gero Simone, peneliti dari Universitas Bonn, memaparkan Mass Violence in Indonesia 1965 – 1966 and Transitional Justice Since 1998; Eku Wand, profesor bidang media di Braunschweig University of Art memaparkan Transparency and trust is the currency of social interaction — #SaveBangkaIsland Supportive successful impact of a social media campaign in the fight for justice in North Sulawesi.

Di sesi plenary seusai diskusi bersama seluruh peserta konferensi, Feri, mahasiswa dari University Hamburg didaulat untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Feri menjelaskan bahwa freedom of speech dan penggunaan media internet merupakan salah satu capaian positif dalam 20 tahun Reformasi 1998.

“Meski demikian, memang masih ada beberapa hal seperti bullying, persekusi, dan lainnya, yang terjadi,” ujar mahasiswa asal Jakarta tersebut.

Pipit Kartawidjaja, senior aktivis Indonesia di Berlin sekaligus tokoh di WatchIndonesia mengapresiasi rombongan dari University Hamburg. “Wah, kami tidak menyangka akan sebanyak itu yang datang. Mereka sangat aktif dan baguslah untuk menambah wawasan mereka,” ujar Pak Pipit.

Rencana Pagelaran Wayang Orang di Berbagai Kota di Jerman Pada Tahun 2019

http://www.thejakartapost.com/life/2018/11/17/human-puppets-to-promote-indonesian-culture-in-germany.html

https://www.jpnn.com/news/kemendikbud-bawa-wayang-orang-ke-jerman

http://m.harianjogja.com/news/read/2018/11/15/500/953028/kemendikbud-gelar-pertunjukan-wayang-orang-di-hadapan-orang-jerman

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wayang-orang-kresna-duta-menuju-jerman/

http://m.rri.co.id/post/berita/598599/budaya_dan_wisata/sebelum_jerman_wayang_orang_kresna_duta_tampil_di_jakarta.html

http://m.bisnis.com/amp/read/20181115/230/860033/wayang-orang-pentas-di-beberapa-kota-jerman

http://www.beritasatu.com/hiburan/522753-pergelaran-seni-wayang-orang-kembali-tampil-di-jerman.html

Jawa Restaurant – Hamburg/Jerman Terpilih Hadiri Konferensi Gastronomi

Jawa Restaurant - Hamburg/Jerman Terpilih Hadiri Konferensi Gastronomi -                 Forum Restoran Diaspora Indonesia Sedunia di Jakarta

Oleh: Anang Bonk

Perwakilan dari Jawa Restaurant, Alysa, menghadiri undangan khusus dari Kementerian Pariwisata Indonesia pada acara Conference Wonderful Indonesia Gastronomy Forum Diaspora Restaurants” di Hotel Aryaduta Jakarta, 22-23 November 2018.

Jawa Restaurant menjadi salah satu dari 100 restaurant Indonesia di seluruh dunia yang diundang dalam forum bergengsi ini. Adapun jumlah pendaftar dari forum ini adalah sebanyak 500 restaurant Indonesia di dunia. Penilaian yang dilakukan berdasarkan makanan yang disajikan, letak restoran yang strategis, dan penilaian pelanggan dari berbagai situs website ternama di dunia.

Jawa Restaurant sangat berterimakasih kepada Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pariwisata yang terlah menunjukkan dukungan kepada kami selalu promotor kuliner Indonesia di Jerman.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh pelanggan kam, baik di Jerman maupun di luar Jerman, yang setia mengunjungi restaurant kami dan memberikan respon positif terhadap layanan kami. Hal ini akan menjadi penyemangat bagi kami untuk memberikan pelayanan yang lebih baik sebagai duta kuliner Indonesia di dunia.

Top