Melanjutkan S2 di Jerman Setelah Program Au-pair

girin

(Oleh: G. Wiratni Puspa)

Pembentukan AFA-Indonesia di Jerman (Au-pair, FSJ & BFD, Azubi) pada tanggal 14 Oktober 2017 lalu merupakan awal dari munculnya potensi-potensi pemuda Indonesia yang tinggal di Jerman melalui program Au-pair.

Sejak tahun 2005 Jerman membuka kesempatan bagi warga Non-EU untuk menjadi Au-pair di Jerman. Sejak itu juga Au-pair Indonesia yang kebanyakan kemudian berlanjut menjadi sukarelawan, atau menempuh pendidikan vokasi, maupun kuliah, belum mempunyai organisasi khusus untuk menampung aspirasi.

Saya sendiri datang ke Jerman melalui program Au-pair, karena kesempatan mengejar mimpi di Eropa dengan menjadi Au-pair lebih mudah dan lebih murah, dibandingkan melalui kuliah atau bekerja. Terbukti, dengan mengurus semua persian sendiri, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar 3 juta rupiah. Yaitu, mulai dari mengurus paspor, mengikuti les bahasa Jerman selama 3 minggu dengan guru SMA (waktu itu saya bayar Rp. 500.000, untuk persiapan test A1) sampai mengurus visa. Tiket keberangkatan dibayar dulu oleh host family (keluarga tempat bekerja), lalu setengahnya saya bayar setelah sampai dan bekerja di Jerman.

Setelah satu tahun menjadi Au-pair, saya melihat kesempatan lain untuk mengejar cita-cita kuliah S2 di Eropa. Yakni dengan menjadi sukarelawan (FSJ). Setelah satu tahun sebagai Au-pair dan 18 bulan sebagai FSJ, saya bisa kuliah di Universitas Hamburg, Jurusan International Master Programme: Language and Cultures of Southeast Asia (Indonesian and Malay Studies).

Berikut pengalaman perjalanan saya dan beberapa penjelasan singkat tentang Au-pair dan FSJ yang saya tempuh sebelum kuliah:

Kata Au-pair berasal dari bahasa Perancis yang berarti ‘by mutual agreement‘ atau pasangan/perjanjian. Jika kita memaknai kata pasangan, mungkin akan terbayang di benak kita kata simbiosis. Ya, simbiosis mutualisme, pasangan yang saling menguntungkan. Di sini kata Au-pair tidak akan saya bahas secara harfiah. Oleh karena itu, saya hanya akan menjelaskan makna Au-pair dari pengalaman yang saya ketahui saja.

Menjadi Au-pair berarti menjadi seorang warga asing di negara tertentu, demi mempelajari bahasa dan budaya ,dengan tinggal di sebuah keluarga (host family) dan membantu mereka mengasuh anak. Ada juga Au-pair yang tinggal bersama host family yang tidak mempunyai anak, namun memiliki orang tua yang sudah berusia tua sekali (manula).

Program Au-pair sangat populer di Eropa sejak tahun 90-an dan banyak remaja yang mulai berumur 18 tahun melakukannya. Program yang disediakan pemerintah di berbagai negara di dunia ini sangat membantu para keluarga yang membutuhkan bantuan untuk mengurus anak. Para Au-pair juga mempelajari bahasa asing.

Selain diberi uang saku setiap bulan, pihak keluarga WAJIB memberi kursus bahasa kepada Au-pair. Jam kerja Au-pair juga sangat dibatasi, yakni 30 jam per minggu. Jika lebih dari itu, pihak keluarga akan memberi gaji tambahan (sesuai kesepakatan bersama). Selain itu, Au-pair juga dianggap sebagai bagian dari keluarga, seperti: ikut makan di meja makan yang sama dan kadang juga diajak liburan bersama. Tak jarang pihak keluarga dan Au-pair akan menjadi seperti saudara, teman, atau bahkan ada keluarga yang mengunjungi negara asal Au-pair.

Siapa Yang Bisa Menjadi Au-pair?

Program Au-pair dikhususkan untuk para pemuda di seluruh dunia. Tak hanya para pemuda di Asia yang ingin belajar bahasa lalu menjadi Au-pair di Eropa. Banyak sekali juga remaja dari Amerika, Inggris, Jepang, yang aku temui saat menjadi Au-pair di Jerman dulu. Tak ada yang menganggap Au-pair itu pekerjaan seperti TKW atau babysitter, karena banyak anak yang notabene berasal dari keluarga cukup kaya di Jerman rela menjadi Au-pair di Australia atau Amerika, demi memperbaiki bahasa Inggris mereka, atau sebaliknya. Meski pekerjaan utamanya adalah mengurus anak, bukan berarti program Au-pair dikhususkan untuk anak perempuan saja. Banyak keluarga yang malah ingin punya Au-pair laki-laki, karena anak-anaknya juga laki-laki dan mereka ingin Au-pairnya bisa jadi kakak bagi mereka.

Kapan Bisa Menjadi Au-pair?

Batasan usia untuk menjadi Au-pair adalah antara 18-30 tahun. Tergantung dari peraturan pemerintah di masing-masing negara penerima Au-pair. Di masing-masing negara kita hanya bisa menjadi Au-pair maksimal satu tahun saja. Misalnya, tahun ini di Jerman, yang masih ingin tinggal di Jerman dan memperbaiki bahasa Jerman, tidak bisa memperpanjang visa Au-pair. Kalau tidak ingin menjadi sukarelawan (FSJ) dan betah menjadi Au-pair, maka cara satu-satunya adalah pindah keluarga yang berada di negara berbahasa Jerman, contohnya Austria atau Swiss (di Swiss jangan di kota yang berbahasa Prancis atau Italia ya! :)

Di mana kita bisa jadi Au-pair?

Seorang remaja dari Indonesia bisa menjadi Au-pair di sebagian besar negara Eropa. Misalnya: di Jerman, Austria, Belanda, Prancis, dsb. Namun tidak bisa menjadi Au-pair di Inggris, Amerika Serikat, atau di Australia. Kalaupun ada yang bisa, mereka harus membuat visa Non-Au-pair. Contohnya: visa travel and working untuk Australia. Sebaiknya kita cek dulu negara yang kita inginkan di website masing-masing kedutaan besarnya. Pastikan negara-negara mana yang menerima Au-pair dari Indonesia. Kalau tidak, maka akan menyesal nantinya. Jangan sampai sudah melamar ke keluarga sana dan sini dan lamaran kita sudah diterima oleh mereka, tetapi saat hendak melamar visa ternyata negara asal keluarga tersebut tidak menerima Au-pair dari Indonesia.

Setelah menjadi Au-pair di Jerman (atau negara-negara EU), kita masih bisa menjadi Au-pair di mana saja. Bahkan ada juga yang menjadi Au-pair di Indonesia. Prinsipnya, Au-pair itu bukan pekerja yang berasal dari negara miskin atau negara berkembang yang lalu mencari uang di negara kaya. Banyak juga anak muda Eropa yang tertantang untuk menjadi Au-pair di Jepang, Korea, bahkan Indonesia, karena mereka ingin bertukar budaya dan mempelajari bahasa.

Mengapa Au-pair?

Program Au-pair bagi saya adalah sebuah program batu loncatan untuk meloncat ke mimpi berikutnya. Menjadi Au-pair adalah cara paling mudah untuk bisa pergi ke Eropa dengan modal yang sangat minimum dan tanpa perlu beasiswa. Selain itu, ada banyak sekali pertimbangan mengapa mau menjadi Au-pair, misalnya:

  • Mendapat uang saku. Memang tidak besar. Di Jerman hanya memperoleh 260 Euro per bulan. Dengan uang sebanyak itu tentunya sangat tidak cukup untuk hidup di Eropa, tetapi kan selama masa tinggal dijamin oleh host-family. Jadi, kalau kita bisa sangat berhemat, maka kita bisa menabung untuk jalan-jalan keliling Eropa. Atau bahkan bisa menabung untuk mimpi kuliah di Eropa nantinya. Selain uang saku, kita juga bisa mendapat tambahan uang, jika kita bekerja lebih dari jam yang ditentukan di dalam kontrak kerja. Dulu saya diberi tambahan 15 Euro dari pekerjaan pagi hari dan 30 Euro dari bantu-bantu membersihkan rumah selama 3 jam. Salah seorang teman Au-pair di Hamburg mendapat uang saku 260 Euro, uang makan 100 Euro (karena dia tinggal di apartemen terpisah), uang transport per-bulan 50 Euro, dan uang pulsa 20 Euro. Ditambah, dia bekerjanya hanya dari jam 14.00 sampai 18.00. Jadi, kalau pagi-pagi, dengan ijin keluarganya, dia bisa bekerja sambilan (sebagai baby sitter atau pembersih rumah di tempat lain).
  • Belajar bahasa. Dengan tinggal bersama orang asing mau tidak mau kita harus mendengar dan menimpali pembicaraan dengan bahasa mereka atau bahasa Inggris.
  • Bisa travelling keliling Eropa. Sesuai perjanjian dengan host family, sebelum berangkat melakukan perjalanan, saya meminta jatah libur satu bulan penuh selama bulan Desember untuk berkeliling Eropa. Saat menjadi Au-pair selama satu tahun, saya bisa menjelajahi lebih dari 40 kota dari 9 negara Eropa.
  • Menambah pengetahuan tentang keanekaragaman kebudayaan. Mana mungkin tidak, kalau kita tinggal di sebuah keluarga, kita pasti akan berdaptasi dengan pola dan budaya dari keluarga tersebut. Contohnya: tatacara saat makan, saat berbicara, dan sebagainya. Dulu, saya sering dianggap tidak sopan, karena suatu hal yang biasa dilakukan saat di Indonesia, yaitu: menggunting kuku di depan TV. Orang Jerman hanya menggunting kuku di kamar mandi.
  • Awal dari segala mimpi. Bersyukurlah kalian yang masih diberi kesehatan dan mendapatkan keluarga yang baik yang mau menanggung biaya pendidikan di luar negeri. Atau kalian yang mempunyai otak cemerlang dan bisa mendapatkan beasiswa setelah lolos dari seleksi yang amat ketat. Namun, bagi kami-kami ini hanya mimpilah yang dimiliki. Jadi, hanya dengan bermodal mimpi dan usaha yang keras. Menjadi Au-pair adalah salah satu cara untuk mewujudkan impian kuliah serta tinggal di Eropa.

Bagaimana Untuk Bisa Menjadi Au-pair?

a. Daftar sendiri

Ada puluhan situs pencari Au-pair dengan lokasi keluarga yang begitu tersebar.

Saya dulu mendaftar melalui situs berikut: https://www.aupairworld.com Situs ini gratis. Meskipun begitu, kita juga bisa mendaftar sebagai premium member. Situs ini sangat relevant dan anti spam.

b. Lewat agen

Mantan Au-pair yang sudah berpengalaman tinggal di Eropa dan memiliki koneksi beberapa keluarga host family biasanya membuka agen penyedia informasi, baik tentang Au-pair, host family, maupun pelatihan bahasa. Dengan membayar sejumlah uang tertentu, kita bisa menjadi Au-pair melalui agen ini.

c. Melalui kenalan

Jangan segan-segan menambah teman. Bukankah banyak teman, banyak rezeki?. Banyak keluarga yang ingin terus mendapat Au-pair yang berasal dari Indonesia. Jadi, mereka biasanya bertanya kepada Au-pairnya, apakah mempunyai kenalan di Indonesia yang mau menjadi Au-pair mereka? Nah, kalau rajin mencari informasi dan dengan sopan berkenalan dengan beberapa Au-pair yang sudah tinggal di Eropa, maka calon Au-pair bisa mendapat link tentang keluarga yang ingin menjadi host family.

Banyak Au-pair yang beruntung mendapatkan host family yang bersedia menjadi penjamin (Verpflichtungserklärung) saat Au-pairnya ingin melanjutkan kuliah di Jerman. Host family saya termasuk salah satunya. Pada bulan ketiga, saat saya mengutarakan niat untuk kuliah S2 di Jerman, mereka segera mencari informasi tentang bagaimana caranya saya bisa kuliah di Jerman dengan nama mereka sebagai penjamin. Yang saya pikirkan saat itu adalah kemampuan bahasa Jerman saya yang masih sangat minim yang membuat saya kesulitan mencari pekerjaan sambilan di Jerman. Surat penjamin dari host family tersebut hanyalah hitam di atas putih yang bisa saya gunakan untuk memperpanjang visa dan menetap di Jerman selama studi berlangsung. Namun untuk membiayai kebutuhan hidup di Jerman, termasuk menyewa apartemen yang sangat mahal, untuk makan, serta kebutuhan kuliah, harus saya usahakan sendiri. Meskipun kuliah di Jerman terbilang gratis, tetapi para mahasiswa tetap harus mengeluarkan biaya kuliah, seperti uang administrasi 300 Euro per semester, membeli buku-buku, biaya fotokopi, biaya mencetak, dan lain sebagainya.

Akhirnya, menginjak tahun kedua saya memutuskan untuk menjadi sukarelawan di Jerman. Program sukarelawan ini populer dengan nama FSJ dan BFD. Berikut ini penjelasannya: Di Jerman, ada dua istilah untuk sukarelawan, yakni FSJ (Freiwilligendienst Soziales Jahr) dan BFD (Bundesfreiwilligendienst). Sukarelawan FSJ adalah berusia antara 16-27 tahun, sedangkan sukarelawan BFD berusia lebih dari 27 tahun (sampai umur 99 tahun).

Mengapa Memutuskan Untuk Menjadi Sukarelawan?

Why not? Menjadi sukarelawan di Jerman bukanlah benar-benar menjadi tenaga kerja sosial yang tidak difasilitasi oleh pemerintah. Setiap bulannya juga kita diberi uang saku. Uang saku yang didapat tergantung dari Träger (pemberi kerja) dan kota tempat kita menjadi sukarelawan. Contohnya, saat masih di München, saya mencari informasi tentang berapa gaji yang didapat para FSJ München. Untuk Träger yang sama (IB atau Internationaler Bund), mereka memberi gaji sebesar maksimal 300 Euro per bulan. Tetapi juga diberi tunjangan akomodasi. Teman saya yang bekerja sebagai FSJ di panti jompo di München mendapat gaji sebesar 625 Euro tanpa tunjangan akomodasi. Saya yang saat itu ingin sekali pindah dari München (karena ingin belajar Bahasa Jerman dengan lebih baik), memutuskan untuk pindah ke Hamburg, dengan alasan:

  • Gaji FSJ di Hamburg dari Träger yang sama (IB) lebih besar daripada di München, yaitu 400 Euro per bulan dan ditambah kalau bekerja di Yayasan Penyandang Cacat (Leben mit Behinderung Hamburg) bisa kita dapatkan Wohngeld (uang tunjangan akomodasi) sebesar 223 Euro per bulan.

  • Orang Jerman di Hamburg berbicara Hochdeutsch (bahasa Jerman stndar), tidak seperti di München yang kental dengan dialeknya.

  • I wanted to experience new things and new culture. Saya menyukai sekali kota München; kenangannya, keindahan alamnya, budayanya, dan Bretzelnya (roti kepang ala München). Tetapi saya adalah tipe petualang yang kala itu masih ingin mengenal kota-kota di Jerman. Meskipun banyak orang yang berkata bahwa di Hamburg itu tidak ada musim panas, melainkan hanya angin dan rasa dingin, tetapi saya tetap bersikukuh untuk pindah ke Hamburg.

Dengan menjadi FSJ atau BFD, kita bisa memperlancar bahasa Jerman. Menjadi sukarelawan artinya bekerja full-time dengan orang Jerman. Mau tidak mau, kita harus belajar berbahasa Jerman juga. Saat mulai menjadi FSJ, level Bahasa Jerman saya masih A2. Satu setengah tahun berikutnya, saat saya mengikuti placement test di salah satu lembaga kursus bahasa Jerman, saya disarankan untuk masuk level lebih atas, yaitu level C1.

Selain mendapatkan tunjangan uang saku dan akomodasi yang saya sebutkan di atas, kita sebagai sukarelawan juga mendapatkan seminar dari Träger dan dari tempat kita bekerja. Untuk FSJ, terdapat 25 kali seminar dalam setahun, sedangkan untuk BFD 12 kali dalam setahun. Ada juga Seminar-Reise yang mengharuskan kita menginap selama beberapa hari (bisa juga di luar kota dengan biaya ditanggung Träger) sambil dibekali informasi dan pengetahuan positif selama seminar berlangsung. Seminar selama menjadi sukarelawan itu menurut saya seperti hiburan yang diberikan Träger kepada mereka yang telah bersedia menjadi tenaga sukarelawan di Jerman. Seminar tidak hanya duduk di ruangan (seperti yang aku pikir sebelumnya), namun juga dengan diberi ilmu lain. Kadang diajak juga bermain bowling, naik perahu atau segeln, mengunjungi pameran Dialog im Dunkeln, dan program-program seru lainnya.

Kapan Kita Bisa Menjadi Sukarelawan?

Seperti yang sudah aku sebutkan, kita bisa menjadi FSJ antara umur 16-27 dan BFD mulai umur 27-99 tahun, dengan jangka waktu dari 6 sampai 18 bulan. Tetapi kita bisa mengundurkan diri kapan saja jika tidak merasa betah atau tidak cocok dengan bidang yang digeluti. Atau bisa juga pindah ke tempat lain, karena misalnya pekerjaan dirasakan terlalu berat, dsb. Kalau ingin pindah, atau metrasa tidak cocok, atau pun hendak mengundurkan diri, dan sebagainya, maka kita harus menghubungi Träger, agar merekalah yang membantu mengurusi penguduran diri atau pindah kerja kita.

Kapan memulainya? Biasanya, FSJ dan BFD dimulai pada bulan September dan Maret. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang mengundurkan diri dari program ini pada bulan lain, sehingga ada lowongan pada bulan tersebut.

Di mana Kita Bisa Menjadi Sukarelawan?

Kalau bertanya tentang di mana, sejauh yang saya ketahui sampai saat ini, program FSJ/BFD ini ada di Jerman dan sebagian wilayah Austria. Untuk orang Jerman, mereka bisa mendaftar menjadi sukarelawan yang ditempatkan di dalam dan di luar negeri, contohnya seorang kenalan orang jerman yang baru lulus Gymnasium tahun 2015 lalu mendaftar FSJ kepada Träger di Jerman untuk menjadi sukarelawan di Bali. Untuk warga asing, kita bisa mencari tempat FSJ atau BFD di seluruh negara bagian Jerman. Banyak Träger yang siap membantu mencarikan tempat FSJ atau BFD.

Siapa Saja Yang Bisa Menjadi Sukarelawan?

Siapapun, tanpa terkecuali. Bahkan penyadang cacat dan penderita epilepsi pun bisa. Orang Jerman yang saya temui sebagai sukarelawan rata-rata pemuda fresh graduate dari Ggymnasium (SMA) dan pensiun dini. Tetapi untuk orang asing seperti saya misalnya, mereka rata-rata berusia 23-26 tahun dan mempunyai pemikiran sama, yaitu: setelah Au-pair masih ingin tinggal di Jerman, karena ingin memperlancar bahasa Jerman, melakukan sekolah dual sistem Ausbildung, atau kuliah di universitas.

Setelah satu tahun setengah menjadi sukarelawan, saya tidak perlu lagi meminta jaminan kepada host family untuk menandatangani Verpflichtungserklärung selama kuliah di Jerman. Awal pergantian visa dari FSJ ke Student saya dijamin oleh tunangan saya yang kebetulan orang Jerman dan sudah bekerja sebagai konsultan di salah satu perusahaan IT di Hamburg. Karena saya bekerja sambil kuliah, slip gaji dan kontrak kerja di instansi tempat saya (yang mencantumkan bahwa saya bekerja dan menghasilkan minimal 650 Euro per bulan) saya lampirkan untuk perpanjangan visa tersebut. Saya mendapat tawaran kerja di Leben mit Behinderung (tempat saya FSJ dulu) dan satu instansi serupa (Das Rauhes Haus) untuk menunjang kebutuhan hidup selama kuliah di Jerman.

Selection_737

Fun saat Bekerja

girin

Saat seminar bersama relawan lainnya

Top