PERJALANANKU KE JERMAN SEBAGAI AU-PAIR

Processed with VSCO with hb2 preset

(Oleh: Lita Rengga Asmara)

Prolog

Pagi itu aku terbangun di ruangan serba putih dengan temperatur yang sangat hangat. Aku kira, aku masih bermimpi, sehingga aku mendegar suara seorang pria dan anak laki-lakinya. Mereka berbicara dalam bahasa Jerman dan hari itu adalah hari pertamaku merasakan mimpi itu adalah sebuah kenyataan.

Melihat benua Eropa tentunya merupakan merupakan mimpi dari hampir semua orang. Bagiku, hanya melihat gambar menara Eifel dari film, tv, hiasan gelas, atau poster saja pun su sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Namun, jika burung ditakdirkan untuk terbang setinggi langit, manusia pun bisa menggapai mimpinya setiggi-tingginya. Baiklah, sekarang aku akan bercerita tentang bagaimana awalnya aku bisa pergi ke Jerman dengan hanya modal „ngeyel“. Kalau nekad saja sudah biasa, sekali-kali belajar mengeyel bolehlah!

Processed with VSCO with hb2 preset

Hamm, Nordrhein-Westfalen

       

Awal Dibalik Impian

Siang itu aku duduk di parkir kantin sekolah. Waktu itu aku masih duduk di kelas 12 SMA. Tiba-tiba sahabatku yang bernama Ayu datang dan bercerita: “Eh Lit, aku denger dari temenku, sekolah di Jerman itu gratis lho! Mungkin kamu bisa coba. Kamu kan bisa bahasa Inggris dan tertarik buat belajar Bahasa Jerman.“

Seketika bumi berputar dan aku membayangkan diriku bisa berada di Berlin, sedang memakai jaket berlipat-lipat. Aku berpikir bahwa setelah lulus SMA aku bisa kuliah di luar negeri semudah mencari tikus di dapur. Di rumahku memang banyak tikusnya sih!

Setelah itu, aku mencari informasi tentang kuliah di Jerman. Bahkan sampai mendatangi sebuah seminar. Memang benar, sekolah di Jerman itu gratis, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Tetapi… ada tetapinya! Kita hidup di dunia yang untuk ke WC saja harus membayar, bukan? Jadi, secara teoritis memang tidak ada yang gratis di dunia ini.

Untuk mahasiswa dari luar Jerman, apabila ingin kuliah di Jerman harus memiliki uang tabungan sekitar 8640 Euro. Uang tersebut adalah rekening beku yang nantinya akan kita terima sebagai deposit bulanan selama kita menempuh kuliah. Namun, setelah aku jelaskan keinginanku kepada orang tuaku, malah mereka menjawab “Mbok pikir duit jiglok seko uwit? (Kamu pikir uang itu jatuh begitu saja dari pohon, anakku?)”. Yah, yang namanya ngeyel, sekali ditolak harus mencari cara lain, sampai berhasil!

Setelah akhirnya menyerah karena keinginanku terhalang oleh dana, aku mencoba mencari berbagai kesempatan beasiswa program Bachelor (S1) di Jerman melalui internet. Namun sayangnya, scholarship di negara yang terkenal dengan Bratwurst-nya (sosis) itu, hanya diperuntukan mulai dari jenjang Master. Segala keyword pun aku ketik di kolom Google. Siapa tahu, aku bisa mendapat informasi atau hadiah undian jalan-jalan ke Jerman. Demikian pikirku saat itu.

Bermula Dari Bully-an

Aku belajar bahasa Jerman pun justru jauh sebelum temanku, Ayu, memberi informasi tentang gratisnya sekolah di Jerman. Saat itu, aku masih duduk di akhir kelas 11 dan masih gencarnya bermain Twitter. Melalu Twitter itu pula aku mengenal seorang laki-laki muda Jerman. Kita berdua masih berumur 16 tahun. Setelah kita sering berkomunikasi, timbulah cinta monyet diantara jarak yang begitu jauh itu.

Dia berinisiatif menelponku setiap malam. Saat itu belum ada WhatsApp seperti sekarang dan kita belum mengenal Skype atau semacamnya. Suatu hari, hubungan yang hanya berlangsung selama liburan sekolah itu pun mulai renggang, karena ia mendapatkan masalah dari ibunya. Tagihan telponnya membengkak, sekitar 200 Euro, dan ibunya harus menghukumnya. Si Blondy pun menyalahkan diriku yang tidak tahu apa-apa. Saking marahnya, anak laki-laki berinisial S itu sampai menuliskan sesuatu di akun Twitternya yang ditujukan padaku. Tulisan tersebut dalam bahasa Jerman dan google translator tidak membantu sama sekali.

Keesokan harinya, secara tidak sengaja aku menemukan buku pelajaran bahasa Jerman di perpustakaan SMA-ku. Awalnya aku membenci bahasa dan negara itu, karena si S marah kepadaku dan memutuskan hubungan kita. Namun, aku kemudian menemukan ketertarikan yang begitu dalam setelah berhasil menerjemahkan tulisan tersebut. Butuh waktu satu bulan untuk bisa memahaminya. Ternyata isinya hanya cacian dan amarah, karena tagihan telepon yang membengkak itu. Sejak memahami teks cacian itu aku pun tidak pernah berhenti belajar bahasa Jerman, hingg sekarang ini.

Ke Jerman Dengan Modal Ngeyel

Hari itu di luar hujan. Aku sedang ngambek dan enggan membantu Bapak jualan di warung. Lalu aku pun iseng-iseng mencari informasi di internet dengan kata kunci “How to go to Germany for free”. Siapa tahu, kali ini aku akan berhasil mendapat informasi program beasiswa atau undian jalan-jalan lainnya. Dan benar saja, kata kunci ajaib itulah yang membawaku sampai ke Jerman, hanya dengan modal ngeyel.

Seperti sudah aku bilang dari awal, kalau sekali gagal harus mencoba terus sampai berhasil. Sang penemu bola lampu pijar Thomas Alva Edison saja harus melakukan ratusan bahkan ribuan kali percobaan dan kegagalan, sampai akhirnya dia berhasil. Lah, aku yang pernah dapat nilai 10 dari 100 untuk mata pelajaran Matematika mau jadi apa kalau hanya bermental tahu? Jangan salahkan tempe terus-menerus; kasihan yang jualan!

Kembali ke persoalan tadi. Melalui Google aku menemukan sebuah program bernama Au-Pair. Untuk kalangan awam, kata ini memang masih terdengar asing. Program tersebut memungkinkan kita tinggal selama satu tahun bersama keluarga asuh di Jerman, termasuk fasilitas-fasilitas seperti: kamar pribadi, sepeda, atau bahkan mobil. Keluarga asuh juga memberikan kesempatan kepada kita untuk mengikuti kursus bahasa Jerman di kota tempat tinggal mereka.

Sebagai seorang Au-Pair, kita akan berperan sebagai kakak asuh dari anak-anak yang ada di rumah. Kita bertugas menjaga mereka dan bermain bersama mereka. Juga membantu membersihkan rumah. Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan ringan, karena seorang Au-Pair hanya diperbolehkan bekerja maksimal 30 jam/minggu. Selain itu, kita juga mendapatkan 260 Euro sebagai uang saku (di negara Jerman), berlibur selama 4 minggu dalam setahunnya, serta hari bebas pada akhir pekan.

Fasilitas tersebut dapat kita gunakan untuk menjelajahi negara lain, karena sebagian besar negara Eropa merupakan bagian dari wilahyah Schengen. Yang artinya, kita dapat menggunakan Visa Au-Pair untuk menjelajahi sebagian negara di Eropa.

Aku mempelajari program tersebut dan memutuskan akan ke sana setelah lulus kuliah nanti, karena orang tuaku masih enggan melepasku pada usia 18 tahun. Untung saja waku itu aku masih menurut. Rentang waktu empat tahun pun aku gunakan untuk mempelajari bahasa Jerman secara autodidak, baik melalui internet maupun buku. Buku yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah itu sampai sekarang belum aku kembalikan. Maafkan aku Bu dan Pak Guru! Aku pikir juga tidak akan ada yang menggunakannya, karena di sekolahku tidak ada pelajaran bahasa Jerman.

Bukan hal yang mudah selama empat tahun itu. Ketika aku menceritakan tentang impianku untuk pergi ke Jerman, banyak yang menertawakanku. Mereka pikir, aku sedang berkhayal saja karena kebanyakan menonton film animasi. Tetapi justru dari film-film animasi itulah aku juga menemukan keberanianku yang kudapatkan dari berbagai karakter Disney, seperti Pocahontas, Mulan, Belle, dan lain sebagainya.

Masih Tetap Ngeyel

Tiga tahun sudah berlalu dan aku sudah menginjak semester ke-6 di bangku kuliah jurusan Ilmu Komunikasi. Segala modal aku kumpulkan, baik melalui internet, belajar bahasa Jerman secara autodidak, mengumpulkan pundi-pundi uang dari hasil modeling, kerja part- time, maupun memberi les privat untuk anak-anak. Aku berpkir bahwa semua akan berjalan semulus kulit Syahrini. Aku sih belum pernah pegang kulitnya itu, tapi kelihatannya mulus.

Namun siapa sangka kalau akan banyak sekali kerikil di jalanan. Mungkin karena belum beraspal. Ya, sudahlah. Sekali lagi aku meyakinkan niatku kepada orang tuaku. Awalnya mereka berpikir bahwa setelah aku memasuki kuliah, impianku dari jaman SMA itu akan begitu mudah aku lupakan. Namun mereka salah.

Bapak selalu berkata “Ngopo kerjo adoh-adoh, ning kene yo akeh gawean.“ (Mengapa harus pergi kerja jauh-jauh, padahal di sini juga kann banyak pekerjaan). Wajarlah kalau seorang ayah merasa khawatir, jika anak perempuannya harus pergi jauh darinya. Tetapi ibuku selalu mendukung. Ia tahu bahwa anaknya tidak akan pernah menyerah. Namanya juga ngeyelan!

Aku pun tidak kehabisan akal. Aku mencoba melakukan couchsurfing www.couchsurfing.com Sebuah komunitas traveler (penjelajah) yang memberi kemungkinan kepada mereka untuk dapat tinggal dengan cuma-cuma sekaligus sambil merasakan kehidupan masayarakat lokal yang dikunjungi. Aku pun dengan senang hati menawarkan kamarku untuk menampung para bule dan mengajak mereka berkeliling kota, serta bertemu dengan teman-temanku. Keuntungannya adalah aku dapat melatih kemampuan bahasaku secara langsung dengan mereka.

Dengan menolong mereka, aku pun berhasil meyakinkan Bapak bahwa aku akan baik-baik saja di luar sana, karena aku punya banyak teman dari Eropa (Belanda, Prancis, dan Jerman) yang secara langsung aku kenalkan kepada keluargaku. Tetangga pun sampai heran, dari mana aku bisa menemukan mereka. Kadang aku merasa rumahku seperti Hostel di tengah kampung. Tetapi siapa sangka, justru mereka yang selalu mendukung dan meyakinkanku bahwa semua yang aku impikan tidaklah mustahil.

Proses Yang Tidak Menghianati Hasil

Setelah memasuki semester ke-7 aku mencoba membuat profil Au-Pair di www.aupairworld.com. Hanya dalam kurun waktu lima hari aku sudah mendapatkan tanggapan positif dari salah seorang calon keluarga asuh. Akun tersebut dapat kita buat secara cuma-cuma. Memang sekarang banyak agen yang bisa membantu kita, mulai dari proses belajar bahasa Jerman, mencari keluarga asuh di Jerman, hingga conseling pembuatan visa. Proses pembuatan visa memang harus melalui interview dalam bahasa Jerman. Dengan demikian bisa terlihat, seberapa jauh kemampuan bahasa Jerman kita. Apabila dirasa masih kurang mencukupi, penolakan pun bisa terjadi.

Aku menjalani semua proses tersebut dengan mandiri, supaya lebih murah. Mulai dari antri nomer sejak subuh-subuh di Kantor Imigrasi dalam rangka membuat paspor, hingga pergi ke Jakarta dengan naik bus selama 16 jam untuk mengambil visa, karena tak kebagian tiket kereta api. Setelah itu aku merasa kapok, karena sepanjang jalan cuma disajikan lagu semacam Sera satu album full, dari Kartasura sampai Jakarta. Rasanya seperti mau mati saja.Tetapi alhamdulillah, akhirnya aku pun sampai di tujuan dengan selamat.

Persyaratan Visa Au-Pair tergolong mudah. Namun bagiku hal itu bagaikan mencari permen Jagoan Neon. Pada tahun 2017 persyaratan-persyaratannya sebagai berikut:

  1. Vertrag atau Surat Kontrak Kerja yang dikirim oleh keluarga asuh dari Jerman. Waktu itu suratnya mungkin menyangkut di Samudra Atlantik, sehingga sampai tiga bulan tidak sampai juga. Akhirnya calon keluarga asuhku hendak mengirim ulang dan aku memiliki inisiatif untuk menititipkannya ke Franzi yang tinggal di München. Aku mengenal Franzi di Lombok dan kebetulan saat itu ia hendak datang ke Indonesia lagi untuk bekerja sebagai instruktur menyelam. Dia pun dengan senang hati membantuku*);
  2. Meldebescheinigung dari keluarga asuh. Semacam Kartu Keluarga. Waktu itu Meldebescheinigung-ku bermasalah, karena keluarga asuhku pindah rumah, sehingga pihak imigrasi setempat tidak dapat mengirimkan dokumenku kepada mereka;
  3. Sertifikat Bahasa dari Goethe Institute setingkat minimal A1. Waktu itu aku melakukan ujian A2 karena aku sudah belajar cukup lama**;
  4. Asuransi yang dibuat oleh calon keluarga asuh. Waktu itu keluarga asuhku tidak mengetahui tentang persyaratan tersebut dan Hayati sampai lelah menjelaskannya. Tetapi akhirnya mereka memahaminya juga dan mengirimkan surat asuransi dalam format PDF);
  5. Menentukan hari untuk pembuatan visa. Dengan percaya diri yang selangit aku pun menjadwalkan pembuatan visa dengan pihak instansi Jerman, padahal hasil ujian bahasa dari Goethe Institut belum keluar. Aku sudah duduk di kereta menuju Jakarta 15 menit sebelum mendapatkan e-mail hasil ujianku. Rasanya seperti mau bunge jumping mungkin ya. Karena jika aku tidak lulus ujuan, aku tidak akan bisa melamar visa. Tapi bersyukur, semua berjalan sesuai rencana;
  6. Foto biometris. Banyak foto studio di Jakarta yang sudah berpengalaman untuk negara tujuan Jerman;
  7. Formulir pendaftaran visa yang dapat diunggah di alamat link di bawah;
  8. Daftar Riwayat Hidup dalam format tabelaris dan surat motivasi tentang mengapa ingin menjadi Au-Pair di Jerman. Hindari menuliskan tujuan melakukan program tersebut untuk kuliah, karena penolakan bisa terjadi karenanya. Au-Pair adalah program pertukaran budaya antara Jerman – Indonesia yang seharusnya memberikan dampak positif bagi kedua pihak.
  9. Interview visa. Setelah dokumen persyaratan kita lengkap, kita akan menjalani interview di kedutaan besar dengan staf Jerman***;
  10. Menunggu. Ini yang paling menegangkan, karena semua jerih payah kita ditentukan di sini. Untuk kasusku, proses tersebut juga tidak semulus Autobahn di Jerman ataupun semulus kulit Syahrini. Surat verifikasi yang dikirim dari Kedutaan Jerman tidak pernah sampai ke keluarga asuhku, karena mereka pindah rumah saat aku melamar visa. Pihak kedutaan sampai menelpon berkali-kali menanyakan hal tersebut. Karena jika proses tersebut memakan waktu terlalu lama, kemungkinan besar visa pun akan ditolak. Aku memasrahkan diri saja setelah berusaha sejauh itu. Sampai pada suatu pagi pukul 9.13 WIB, tanggal 6 September 2016, akhirnya aku mendapatkan e-mail dari kedutaan Jerman bahwa visaku sudah jadi. Rasanya bagaikan bisul pecah, meskipun belum pernah bisulan. Aku puas!;
  11. Booking tiket pesawat. Saat berlibur di Bali, aku bertemu dengan Becci dari Dortmund. Dia menyarankanku untuk membeli tiket pesawat dari Eurowings via Bangkok. Saat itu hanya berharga sekitar 3,5 juta;
  12. Terbang ke Jerman.

* Beberapa minggu setelah Vertrag (Kontrak Kerja) dikirim, keluarga asuhku memutuskan untuk membatalkan kontrak tersebut, karena mereka sedang mengalami krisis. Aku pun terus berusaha dan berdoa sepanjang malam. Dua minggu kemudian, mereka memutuskan untuk tetap menerimaku di Jerman.

** Apabila nilai ujian hanya Ausreichend atau Cukup, kemungkinan akan sulit untuk menjalani proses interview Visa. Aku mendapatkan penilaian Gut (Bagus) waktu itu.

*** Pertanyaan wawancara hanya semacam pertanyaan dasar tentang keluarga asuh kita, misalnya: jumlah anak yang akan diasuh, tentang pekerjaan, dari mana kita belajar bahasa Jerman, alasan mengikuti program, rencana setelah program selesai, dan sebagainya.

Persyaratan visa Au-Pair secara lengkap tertera di website Kedutaan Jerman untuk Indonesia: http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3926234/Daten/5847667/D1_id__AuPair.pdf

Setelah semua masalah visa selesai, aku pun masih dihadapkan dengan masalah wisuda yang terancam mundur, karena batas waktu pendaftaran terlalu singkat. Aku berjuang mati-matian untuk bisa diwisuda bulan September, karena bulan Desember harus berangkat ke Jerman. Aku berinisiatif menghubungi salah satu dosen untuk mempercepat proses birokrasi. Namun ada yang justru menganggapku tidak sopan, karena menyangka aku ingin segera lulus (?).

Bayangkan, ketika kamu main Super Mario Bros dari level 1 sampai final, pas sudah tinggal lompat ke garis finish malah mati kesandung krikil. Kan nggak lucu. Mungkin aku memang harus bersakit-sakit dahulu untuk lebih bisa belajar tentang pahitnya perjuangan. Intinya, aku harus kerja keras dan jangan pernah menyerah. Sepatuku bahkan sampai putus waktu mengurus birokrasi wisuda, karena harus lari maraton dari fakultas – ke tempat fotokopi – ke biro administrasi – dan ke kawan-kawannya – selama tiga hari berturut-tutut.

Pada akhirnya, aku berangkat melalui Bangkok pada tanggal 28 November dan terbang ke Cologne (Köln) pada tanggal 31 November 2016. Pada hari yang sama, sekitar pukul 16.00 waktu setempat, aku tiba di sana. Ayah asuhku menjemputku di bandara. Semua tampak terasa di mimpi. Udara begitu dingin, sekitar 5 derajat Celcius. Namun aku tidak merasakan kedinginan sama sekali.

Processed with VSCO with hb1 preset

Weihnachtmarkt Hamm, Desember 2016

       
Processed with VSCO with hb1 preset

Kamar pribadi Au-Pairku di Hamm

       

Begitu banyak lika-liku yang harus aku alami hingga aku berhasil menapakkan kaki di negeri pencinta kentang ini. Begitupun dengan Thomas Alva Edison yang harus mengulang kegagalan sampai akhirnya karyanya dapat membantu seluruh manusia di muka bumi ini hingga sekarang. Mimpiku belum sejauh itu, Namun jika tujuanmu baik, alam akan membantumu dengan cara yang tidak terduga. Tidak terasa, kini sudah hampir satu tahun aku menjalani program tersebut. Kini aku berada di Hamburg untuk menjalani program kerja sosial secara sukarela. Aku pasti akan membagikan kisah berikutnya.

Processed with VSCO with  preset

Musim Panas di Jerman

       
Processed with VSCO with hb2 preset

Keluarga asuhku: Daniel, Astrid, Rainer, & Romeo

     

Rasanya tidaklah mudah berpisah, setelah kita melalui berbagai musim dan mengalami hal-hal indah bersama. Namun, hidup terus berjalan dan cita-cita harus tetap diraih. Meskipun terkadang terasa tidak mungkin, selama kita masih memiliki keberanian untuk mencoba, impian itu tidak akan lebih jauh dari genggaman tanganmu.

Aku menempelkan sebuah quote di tembok kamarku di Kartasura yang berbunyi: “Wenn Du an dich glaubst, kannst Du alles schaffen“. Jika kamu percaya pada dirimu sendiri, pasti kamu dapat mencapai apapun yang kamu impikan. Karena hidupmu bagaikan kapal dan kamu nahkodanya. Hanya nahkoda yang dapat menggerakkan kapal tersebut sampai ke tujuan. Badai dan rintangan pasti akan selalu ada. Namun jika kata “menyerah” tidak ada dalam kamusmu, semua akan berakhir indah.

Terimakasih untuk semua yang telah mendukungku dan juga menertawakanku. Setiap kali mereka merendahkanmu, jadikan itu semangat untuk membuktikan bahwa suatu saat mereka akan terkejut ketika kamu berhasil. Buktikanlah dengan hasil, mereka tak perlu tahu tentang proses yang kamu jalani. Serta jadikan dukungan orang terkasihmu sebagai pengingat bahwa harapan selalu ada, meskipun dari cara yang tidak terduga.

****

Top