Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)

22448505_1588515207837677_5229176939773546057_n
(Oleh: Yanti Mirdayanti)
IASI – Jerman telah berkolaborasi dengan DIG – Hamburg dan Bidang Studi Indonesia/Melayu, Universitas Hamburg menyelenggarakan acara ceramah dan diskusi tentang tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).
Acara yang sangat informatif dan telah membuka mata para hadirin itu diselenggarakan di Asien-Afrika-Institut, Universität Hamburg, pada hari Sabtu siang sampai sore, pada tanggal 7 Oktober 2017.
Sebelum acara diskusi berlangsung, para hadirin diberi kesempatan untuk melakukan uji coba tes bahasa Indonesia. Kisi-kisi soalnya dirangkum dari beberapa contoh pertanyaan UKBI yang telah dibuat oleh Lembaga Pengembangan Bahasa di Jakarta.
Pembicara/penyaji utama selama kegiatan ceramah dan diskusi UKBI tersebut adalah Sdr. Jan Budweg. Dia seorang mahasiswa Jerman yang sudah ahli dalam topik-topik yang berhubungan dengan bahasa Indonesia. Dia juga sedang merampungkan program Masternya yang kedua di Universitas Hamburg, serta telah terdaftar sebagai mahasiswa S3 di Universitas Frankfurt. Jan Budweg juga telah berpengalaman beberapa kali mengikuti tes UKBI di Jakarta, serta telah dengan rajin mengikuti perkembangan topik UKBI maupun UKBIPA selama beberapa tahun terakhir.
Penyaji mengungkapkan bahwa Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) merupakan sarana untuk mengevaluasi mutu penggunaan bahasa Indonesia seseorang, baik penutur asli maupun penutur asing. UKBI sendiri diresmikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2006. Sekarang UKBI sedang mengalami proses implementasinya di kalangan masyarakat sebagai sistem peraturan yang berlaku di Indonesia.
Yang sudah pasti, siapa pun yang hendak bekerja di Lembaga Pengembangan Bahasa di Indonesia diwajibkan untuk mengikuti tes UKBI. Namun ada pula beberapa institusi negeri, swasta, dan asing yang telah menerapkan peraturan mengikuti tes UKBI. Untuk ke depannya peraturan mengikuti tes UKBI ini tampaknya akan wajib dilaksanakan oleh semua institusi negeri maupun asing yang berada di Indonesia.
Selama ceramah diperkenalkan paparan umum tentang UKBI, mulai dari sejarah perkembangannya, format ujian dan kisi-kisi soalnya, sampai sistem skor penilaian dan tafsiran peringkat/level bahasanya. Presentasi lisan dilakukan sepenuhnya dalam bahasa Jerman. Sedangkan presentasi materi aslinya dilakukan dalam bahasa Indonesia. Tanggapan dari para peserta setelah mengikuti uji coba tes: “Aduh, ternyata bahasa Indonesia yang baik dan benar itu tidak mudah. Kami melakukan banyak kesalahan. Tidak ada bedanya dengan melakukan tes TOEFL bahasa Inggris!”
Setelah mengikuti keseluruhan acara, maka para hadirin yang kebanyakan warga diaspora Indonesia itu pun semakin disadarkan bahwa tugas untuk memelihara bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah tugas warga negara Indonesia sendiri. Kalau terus menerus membiasakan memakai bahasa gaul (lisan maupun tulisan) dengan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah bahasa baku sama sekali, maka lama kelamaan si penutur tidak akan mampu lagi membedakan mana bahasa Indonesia yang benar dan mana yang salah. Apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar (Bahasa Indonesia baku yang sesuai EYD – Ejaan Yang Disempurnakan) akan terus mampu bertahan sebagai bahasa tuan rumah di negara Republik Indonesia sendiri? Hal ini tentunya seutuhnya terletak di pundak para pemakainya. Dalam hal ini terutama di pundak warga negara Indonesia sendiri sebagai penutur asli.
Pada kesempatan ini kami mengucakan terima kasih kepada pihak Atdikbud – KBRI Berlin atas dukungannya, sehingga acara ini bisa berlangsung dengan baik. Juga ucapan terima kasih untuk Mbak Fanny dan Mbak Djohanna yang telah turut meramaikan acara, yaitu dengan menyediakan makanan icip-icip jajanan khas Indonesia. Telah membantu mengisi perut-perut yang kelaparan bersamaan dengan turunnya hujan di luar yang cukup deras.
Tentunya ucapan terima kasih disampaikan pula kepada para peserta yang hadir dan telah berpartisipasi mengikuti tes yang lumayan tidak mudah itu.

Top