sesi2-1

Laporan Lengkap: Diskusi Panel, Sabtu, 30 Juli 2018

(Oleh: Yudi Ardianto / Ketua I IASI – Jerman)

Panel diskusi sehari pada hari Sabtu, 30 Juli 2018, berlangsung dengan lancar. Terselenggara atas kerjasama antara IASI dan AAI-Universität Hamburg, dengan menyajikan dua tema, yaitu: 1) Kerukunan beragama dalam masyarakat multikultur dan 2) „Peluang diaspora Indonesia berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia melaluai program SES“.

Sesi pagi atau sesi pertama, berlangsung pagi sampai siang hari.

Pertama, acara dibuka oleh pembawa acara, Yanti Mirdayanti, yang juga merupakan Ketua-II IASI dan dosen tetap di Universitas Hamburg. Kemudian dilanjutkan dengan kata pembuka oleh Ketua-1 IASI, Yudi Ardianto.

Selanjutnya, Kepala Bidang Studi Indonesia/Melayu (Austronesistik), Prof. Jan van der Putten, memberi sambutan pembuka. Ditekankannya bahwa topik diskusi ini sangat relevan saat ini, baik dalam konteks global maupun nasional, di negara Jerman maupun Indonesia.

Pada sesi pertama ini, Dr. Bambang Susanto selaku Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hamburg juga berkenan memberi sambutannya. Diungkapkannya tentang kegembiraannya dengan banyaknya kegiatan masyarakat Indonesia di Hamburg dan sekitarnya.

Tepat jam 11.30 memasuki acara inti, yaitu paparan dari tiga pembicara yang masing-masing disampaikan selama 20 menit.

Pembicara pertama adalah Prof. Dr. Margaretha Liwoso dari Universitas Sam Ratulangi. Dipaparkannya tentang peran dan pengaruh media sosial dalam kerukunan beragama di Sulawesi Utara. Salah satu kearifan lokal dari masyarakat Manado adalah memandang dan menerima perbedaan-perbedaan dalam masyarakat sebagai sesuatu yang alami. Hal ini terlihat dengan moto kota Manado: “Torang samua basudara kong baku-baku sayang” (Kita semua adalah saudara). Warga kota Manado terdiri dari 67% umat Kristen/Katolik, 31% umat Islam, dan sisanya agama-agama lain. Di antara mereka terdapat tradisi hidup yang sangat rukun satu sama lain dan tradisi bekerja sama (gotong royong) yang kuat. Kota Manado pun termasuk salah satu dari 10 kota di Indonesia yang menyandang predikat sebagai “Kota Toleransi”.

Selanjutnya, tampil Mu’ammar Zayn Qadafy sebagai pembicara yang mewakili organisasi Nahdlatul Ulama di Jerman. Master lulusan UIN Jogyakarta yang saat ini sedang menjalani program Doktor di Albert-Ludwig University Freiburg ini menyoroti dua cara pendekatan pemahaman kitab suci, yaitu pendekatan kontekstual dan tekstual dalam rangka menggali pemahaman Islam tentang dukungannya terhadap toleransi beragama di antara umat manusia di seluruh dunia. Presentasi ditutup dengan kesimpulan bahwa Indonesia adalah rumah untuk semua, tanpa ada yang terpinggirkan.

sesi1

Foto bersama di akhir sesi pertama

Pembicara ketiga, Pdt. Dr. R.A.D. Siwu, MA, Ph.D, dalam presentasinya menyoroti kerukunan umat beragama pada masyarakat majemuk di Minahasa. Dr. Siwu yang merupakan Ketua Presidium BKSAU (Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama) di Sulawesi Utara dan juga Rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) ini menggarisbawahi beberapa hal penting yang akan menjamin terjadinya kerukuman umat beragama dalam masyarakat yang multikultural.

Sesi pertama/sesi pagi ditutup dengan acara tanya jawab dengan para hadirin. Forum bersepakat bahwa pada intinya Indonesia bisa menjadi contoh dalam hal kerukunan umat beragama dan meyakini hal ini bisa sebagai perekat persatuan bangsa.

Sebelum sesi kedua pada sore hari dimulai, ada sesi istirahat dan makan siang selama 45 menit. Dalam kesempatan ini, para peserta, pembicara dan para tamu undangan berkesempatan untuk bisa saling berbincang satu sama lain sambil mencicipi jajanan khas Indonesia.

Tepat pukul 14:30 sesi kedua/sesi sore dimulai.

Prof. Jan van der Putten kembali menyampaikan sambutannya dengan menyentuh tema kerja sama Jerman-Indonesia dan pentingnya diaspora Indonesia untuk terlibat aktif dalam pembangunan negara Indonesia. Lembaga SES (Senior Experts Service), lembaga nirlaba Jerman yang bernaung di bawah BMZ (Bundes Ministerium für Wirschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklun/ Kementrian Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi) bisa menjembatani hal tersebut.

Duta besar Indonesia untuk Jerman Dr. Arif Havas Oegroseno dalam sambutan pembukaannya menyampaikan aparan perkembangan ekonomi Indonesia saat ini yang sangat positif. Namun diakuinya pula bahwa tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang kejuruan khusus yang siap pakai di industri-industri di Indonesia jumlahnya masih kurang. Oleh karena itu, kerjasama bilateral Jerman-Indonesia dalam bidang pendidikan kejuruan menjadi prioritas utama.

Pada sesi sore/sesi kedua ini juga dihadirkan 3 pembicara.

Pembicara pertama, Adam Pamma, selaku perwakilan SES di Indonesia, memaparkan kegiatan-kegiatan SES sejak tahun 2014 sampai saat ini. Jumlah tenaga ahli Jerman yang dikirim ke Indonesia terus meningkat. Dari tahun 2014 sampai dengan 2017 sudah ada 178 orang. Untuk tahun 2018 ini yang sudah berjalan ditambah dengan yang sedang dalam persiapan mencapai sekitar 200 senior experts. Bidang-bidang keahlian itu meliputi pelatihan guru di bidang design kapal, pembuatan roti dan kue kering khas Jerman, produksi jendela standar Jerman (kaca berlapis dan kedap suara), otomotif, pengembangan kurikulum bidang pariswisata dan perhotelan, peternakan dan pendidikan sistem ganda (dual system). Khusus untuk bidang pendidikan kejuruan, pada tahun 2014 telah ada kesepakatan antara pemerintah RI dengan SES untuk menyiapkan 600 tenaga ahli di bidang kejuruan. Sampai saat ini SES sudah menyiapkan sejumlah tenaga ahli itu, tetapi realisasi dari program ini masih terhambat birokrasi. Pihak KBRI sebagai wakil pemerintah Indonesia di Jerman diharapkan bisa mendorong pelaksanaan program ini mengingat bidang pendidikan kejuruan adalah salah satu tema yang disepakati dari pertemuan bilateral Indonesia-Jerman 2016 lalu. Laporan khusus mengenai program nyata pendidikan kejuruan / vokasi antara Jerman dan Indonesia yang sudah berjalan bisa dilihat dalam artikel lain di website IASI:

sesi1

Para peserta menyimak paparan dari para pembicara.

http://iasi-germany.de/blog/2018/03/30/laporan-ses-jerman-tentang-program-nyata-kerjasama-pendidikan-vokasi-antara-indonesia-dan-jerman-sejak-2016-sampai-2018/ Dalam kesempatan ini Adam Pamma juga menyampaikan kegiatan kerjasama yang sangat baik antara SES dengan 17 UIN (Universitas Islam Negeri) yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada sedikit cerita menarik, di awal program, yaitu adanya keengganan dari tenaga ahli Jerman untuk dikirim ke UIN mengingat ini adalah institusi pendidikan agama. Mereka khawatir kedua belah pihak akan susah beradaptasi. Tetapi seiring degan berjalannya waktu, para tenaga ahli Jerman ini menyampaikan feedback bahwa civitas akademika di lingkungan UIN sangat ramah dan berpikiran terbuka. “Mahasiswi perempuan pun tidak sungkan meminta untuk berswafoto (selfie) dengan kami”, ujar salah satu tenaga ahli. Pada akhir presentasinya Adam Pamma menyampaikan program baru dari SES yang diluncurkan sejak Januari 2017 yang bernama “weltdienst 30+”. Program baru ini diperuntukkan bagi para profesional yang masih aktif bekerja. Tentunya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Info lebih lengkap bisa dilihat di https://www.ses-bonn.de/en/startseite.html).

Penyaji kedua, Prof. Dr.-Ing. Hendro Wicaksono dari Jacob University – Bremen, berbagi pengalamannya saat mengikuti program SES di Indonesia. Hendro Wicaksono adalah salah satu pionir program “Welt dienst 30+” yang pada Desember 2017 lalu mengunjungi UIN Sunan Kalijaga – Jogyakarta dan ikut berkontribusi dalam mengembangkan kurikulum di Fakultas Sains dan Teknologi UIN. Pesan penting dalam salah satu slidenya adalah berupa sebuah kutipan yang menekankan moto ”Be Part of the Solution!” Jadilah bagian dari pencari solusi!).

Paparan terakhir disampaikan oleh Prof. emiritus Friedhelm Eicker, seorang ahli yang banyak berkecimpung dalam pengembangan kurikulum sekolah kejuruan. Profesor yang dahulu mengajar di universitas Rockstock ini menyampaikan pengalamannya selama mengikuti program SES di SMK Tunas Harapan kota Pati, Jawa Tengah. Pesan penting dari Prof. Eicker adalah bahwa program pelatihan guru-guru SMK dan juga pengembangan kurikulum modern harus direncanakan secara berkelanjutan. Program TTT (Training The Trainer) harus digalakkan. Selain itu, belajar dari pengalaman proyek yang sama di negara-negara Sub-Sahara Afrika dan China, network atau jaringan antar SMK-SMK di seluruh Indonesia harus dikembangkan sehingga masing-masing SMK bisa saling berbagi pengalaman dan kompetensi.

Di penghujung acara sesi kedua, sebelum memasuki sesi tanya jawab, ada kejutan dari panitia yaitu tampilnya dua mahasiswa Jerman, Leon dan Alard, yang menyanyikan satu lagu berbahasa Indonesia dengan cukup fasih. Kabarnya mereka ini baru belajar bahasa Indonesia dua semester. Leon baru saja memenangkan lomba pidato berbahasa Indonesia di KBRI Berlin dan diundang untuk hadir dalam acara kenegaraan peringatan Hari Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 2018 di Istana Negara, Jakarta.

Sebelum keseluruhan acara ditutup oleh pembawa acara, dilakukan penyerahan buku tentang program kegiatan-kegiatan SES di 17 UIN Indonesia. Serah terima disampaikan oleh Adam Pamma (SES) kepada Dubes RI untuk Jerman.

Sesuai dengan program yang telah direncanakan, acara diskusi panel sehari ini ditutup tepat jam 17.00, setelah sesi akhir tanya jawab dan kemudian dilanjutkan dengan sesi berfoto bersama.

(Editor: Yanti Mirdayanti / Ketua II – IASI / Divisi Pendidikan)

FB_IMG_1531114948144

Pertemuan AFA dengan Konsulat Jendral Dr. Bambang Susanto

(Oleh: Lita Rengga Asmara / AFA)

Tema seputar program Au Pair, Freiwillig Soziales Jahr (FSJ) dan Ausbildung di Jerman semakin menarik banyak minat kaula muda Indonesia.

Untuk itu, sebuah komunitas di Jerman bernama AFA (Au Pair, FSJ dan Ausbildung) sebagai wadah organisasi yang menampung pendapat serta informasi seputar program tersebut, ingin lebih melebarkan sayapnya, baik di Jerman maupun di Indonesia.

Tujuannya adalah agar organisasi AFA – Jerman semakin banyak dikenal masyarakat luas, terutama untuk membantu anak muda Indonesia mendapatkan akses informasi tentang tema-tema terkait. Juga sebagai wadah untuk saling bertukar pendapat, serta saling bertanya dan merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Maka, belum lama ini satu langkah berikutnya telah dilakukan oleh AFA – Jerman. Pada hari Jum’at, 29 Juni 2018, tiga orang perwakilan AFA, yaitu Girindra Puspa, Lita Asmara dan Fatima Tuzzaroh berkunjung ke Konsulat Jenderal Republik Indoensia (KJRI) di Hamburg untuk mengadakan pertemuan dengan Konsul Jenderal, Dr. Bambang Susanto. Maksud dan tujuan dari diadakannya pertemuan ini adalah untuk memperkenalkan organisasi AFA kepada perwakilan pemerintah Republik Indonesia di Jerman. Juga untuk membagikan pengalaman tentang kegiatan AFA selama ini, serta saling bertukar pikiran dengan pihak perwakilan RI, khususnya di Hamburg.

Pertemuan yang berlangsung selama dua jam tersebut juga dihadiri dan didampingi oleh dua orang perwakilan dari Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI), yaitu Ketua I, Bapak Yudi Ardianto, dan Ketua II, Ibu Yanti Mirdayanti. Sejak pembentukan organisasi AFA hingga saat ini peran dan dukungan IASI – Jerman memang sangat penting.

Perwakilan AFA memperkenalkan organisasi yang baru dibentuk dan diresmikan pada Januari 2019 tersebut, agar organisasi ini nantinya mendapatkan pengakuan resmi dari perwakilan pemerintah Indonesia yang bertugas di Jerman.

Dalam pertemuan tersebut, pihak AFA dan IASI menyalurkan pendapat mereka tentang pentingnya AFA sebagai organisasi besar yang anggotanya kini telah tersebar di berbagai peloksok di Jerman. Juga dibicarakan tentang bagaimana perwakilan pemerintah Indonesia di Jerman dapat bekerjasama memberikan dukungannya terhadap kegiatan-kegiatan maupun kebutuhan-kebutuhan yang mungkin diperlukan para kaula muda diaspora AFA – Jerman.

Diharapkan, pertemuan AFA dan IASI berikutnya bisa berlangsung dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman di KBRI – Berlin.

(Editor: Y. Mirdayanti, Ketua II IASI – Jerman / Divisi Pendidikan)

44489212_403

Panel Diskusi “Kerukunan Beragama di Sulawesi Utara” dan “Program SES di Indonesia”

Suasana Acara Panel Diskusi “Kerukunan Beragama di Sulawesi Utara” dan “Program SES di Indonesia” di Universität Hamburg, pada hari Sabtu, 30 Juni 2018.

Penyelenggara:

IASI – Jerman dan Austronesistik – Uni Hamburg. Berkolaborasi dengan UNSRAT – Menado, UKI – Tomohon/Minahasa, PCINU – Jerman dan SES – Indonesia.

Diskusi panel sehari IASI yang telah berlangsung hari Sabtu 30 Juni 2018 lalu juga dikunjungi oleh Deutsche Welle. Simak liputannya!

https://www.dw.com/id/fokus-indonesia-di-uni-hamburg-toleransi-beragama-dan-kerjasama-bilateral-pendidikan-vokasi/a-44488848

http://news.detik.com/read/2018/07/03/084213/4095183/1779/toleransi-beragama-indonesia-jadi-sorotan-di-universitas-hamburg

Dokumentasi:


36603031_1869773679711827_2783337037728579584_n

36641800_1869773616378500_5899148485977964544_n

36639866_1869773469711848_6180968026439942144_n

36451504_10156271380781590_121226078994825216_n
36137090_1853240318031830_4699347220061749248_o

IASI dan BUGI menampilkan Paramabira dan Angklung Hamburg

Universitas Hamburg, Sabtu, 23 Juni 2018 13:30-17:00

Acara pertunjukan musik koor Paramabira dari Jakarta yang berkolaborasi dengan Angklung Hamburg Orchestra (AHO) berlangsung sukses. Tapi siang itu kita tidak hanya bermusik saja, Program kerjasama BUGI (Bildung und Gesundheit fuer Indonesien, Pendidikan dan Kesehatan untuk Indonesia) dan IASI dengan institusi di Indonesiapun juga dipresentasikan. Diharapkan, siapapun yang ingin ikut berkontribusi terhadap program-program IASI dan BUGI bisa disampaikan ke kotak sumbangan yang sudah disediakan. Kontribusi lain dalam bentuk keterlibatan proyek langsung pun juga sangat diharapkan.

Sesuai jadwal, pintu ruangan dibuka resmi pukul 13:30 dan pengunjung bisa memulai mencicipi menu makan siang dan jajanan khas Indonesia. Tepat jam 14 acara dibuka oleh MC kita mBak Yanti My yang juga merupakan dosen bahasa Indonesia di Uni hamburg sekaligus menjabat sebagai ketua 2 IASI. Acara dilanjutkan dengan kata pembuka yang disampaikan oleh Prof. Jan van der Putten selaku Kepala bidang studi Indonesia/Melayu Universitas Hamburg. Sambutan kedua disampaikan oleh Pak Gudadi Bambang Sasongko mewakili pihak KJRI. Mas Tommy Pratomo Adi Nugroho dari fungsi Pensosbud-KJRI pun juga menyempatkan diri untuk hadir.

Acara intipun dimulai dengan penampilan beberapa lagu oleh grup Angklung Hamburg yang mulai menghangatkan suasana ditengah cuaca gerimis dan sedikit berangin itu.

Yudi Ardianto, ketua 1 IASI dalam kesempatan ini kemudian mempresentasikan rencana proyek pemberdayaan masyarakat di desa Merabu, Kalimantan Timur. Proyek ini bertujuan memberdayakan dan membentuk teknisi-teknisi dan wirausaha handal desa khususnya dalam mengelola sumber energi terbarukan/ panel tenaga surya.

Seusai paparan IASI, para pengunjung diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati jajanan khas Indonesia.

Selepas istirahat, mas Aci Siddharta selaku ketua BUGI memaparkan proyek di Semarang yang bekerja sama dengan organisasi setempat LPUBTN (Lembaga Pendamping Usaha Tani dan nelayan) yang bertujuan untuk membangun MCK (Mandi, Cuci, Kakus) komunal dan reaktor biogas untuk warga Tambak Lorok, Semarang.

Di sesi terakhir tampillah Paramabira. Meskipun datang hanya dengan 10 personil, berkat pembagian suara yang tepat, musik a capella dan sesekali diiringi dengan 1 alat perkusi, mereka bisa menampilkan alunan lagu yang memukau penonton. Sesuai dengan tema hari ini yaitu Bhineka tunggal ika, lagu-lagu bernuansa religi, satu lagu tua berbahasa plat deutsh Jerman dan ditutup dengan lagu khas dari pulau Flores sangat indah dilantunkan.

Diujung acara, lagu “When You Believe” diampilkan bersama oleh Paramabira dan AHO. Meskipan kabarnya mereka belum pernah latihan bersama, kolaborasi dadakan inipun sangat indah dibawakan.

IASI dan BUGI mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mensuskseskan acara ini: AAI Uni Hamburg, KJRI Hamburg dan tentu saja Paramabira dan AHO.

Selection_201

Dalam Keragaman bersama PARAMABIRA

(oleh. Y. Mirdayanti / Ketua II IASI – Jerman)

Luar biasa!

Merinding mendengarkan lagu ini.

Bunyi “Allahu Akbar” begitu agung dan memesona, indah dan berwibawa, saat tim Paramabira dari Jakarta membawakannya.

Perlu diketahui bahwa dari kesepuluh anggota paduan suara Paramabira yang tampil ini: satu orang beragama Islam, satu orang beragama Hindu, dan sisanya yang delapan orang beragama Katolik.

Dalam acara ‘Bhinneka Tungal Ika – Kebersamaan dalam Keberagaman’ yang sukses dikoordinasi oleh BUGI – IASI – dan Austronesistik/Uni Hamburg itu, paduan suara dari Jakarta ini menyanyikan beberapa lagu yang bernafaskan jiwa keragaman agama di Indonesia, sebagai simbol salah satu aspek keragaman Nusantara.

Selain itu, ada pula lagu-lagu dari kategori lainnya. Diantaranya, sebuah lagu ceria dari Flores dan sebuah lagu berbahasa Jerman tua dari daerah utara (juga dipakai di Belanda), bernama bahasa ‘Plattdeutsch’ atau ‘Niederdeutsch’.

Yang lagu ‘Allahu Akbar’ berikut ini adalah salah satu lagu yang ditampilkan di antara sekian lagu yang diaransemen dengan luar biasa jeniusnya.

Simaklah penampilan grup Paramabira yang kemarin dipimpin oleh Agnis Hapsari dari Hannover ini!

Merinding sekali para hadirin dibuatnya!

– Universitas Hamburg, 23 Juni 2018 –

Kerjasama Kolaborasi:

#BUGI, e.V.

#IASI, e.V.

#AustronesianStudies

https://www.bugi-ev.org/

http://iasi-germany.de/de/

Video di FB fanpage IASI: https://www.facebook.com/441502822538927/videos/1852960094726519/
34704439_1831011983587997_1375080659382435840_n

Panel Discussion: “New Program of SES (Senior Experts Service) Germany in Indonesia”

Panel Discussion

Saturday, 30th June 2018

Asien-Afrika-Institut, Room 121 (Ost-Flügel), Universität Hamburg

Edmund-Siemers-Alle No. 1, 21046 Hamburg

Open to Public !

14.30 – 17.00

“New Program of SES (Senior Experts Service) Germany in Indonesia: A Professional Opportunity for Indonesian Diaspora in Germany”

Speakers:

- Adam Pamma, SES Representative in Indonesia

- Prof. Dr.-Ing Hendro Wicaksono, Jacobs University, Bremen

- Prof. em. Dr. Friedhelm Eicker, bbw – Beruf Bildung Wissenschaft, Ostseebad Nienhagen

Organised by:

Indonesian/Malay Studies (Austronesistik), Universität Hamburg

Association of Indonesian Professionals and Scholars in Germany (IASI, e.V.)

In cooperation with:

SES (Senior Experts Service) Bonn

34756944_1830988883590307_4459680704845840384_n

Panel Discussion: “Religious Harmony in Multicultural Societies”

Panel Discussion

=============

Saturday, 30th June 2018

Asien-Afrika-Institut, Room 121 (Ost-Flügel), Universität Hamburg

Edmund-Siemers-Alle No. 1, 21046 Hamburg

Open to Public !

11.00 – 13.30

“Religious Harmony in Multicultural Societies: An Indonesian View from North Sulawesi Experience”

Speakers:

Dr. Richard A.D. Siwu, Ph.D, Christian University of Indonesia in Tomohon

Prof. Dr. Margaretha Liwoso, Sam Ratulangi University – Manado

Mu’ammar Zayn Qadafy, M.A., Doctoral Study at Albert-Ludwig University – Freiburg

Organised by:

Indonesian/Malay Studies (Austronesistik), Universität Hamburg

Association of Indonesian Professionals and Scholars in Germany (IASI, e.V.)

In cooperation with:

Sam Ratulangi University – Manado

Christian University of Indonesia in Tomohon – UKIT

Nahdlatul Ulama (NU) Special Branch of Germany

34875726_1830848776937651_3530670254994751488_n

Musikalische Darbietung: Gemeinsam in Vielfalt

BUGI – Bildung und Gesundheit für Indonesien und IASI-Germany präsentieren:

MUSIKALISCHE DARBIETUNG: GEMEINSAM IN VIELFALT (BHINNEKA TUNGGAL IKA)

Samstag, den 23. Juni 2018

Ort: Westflügel Gebäude, Raum 221, Universität Hamburg

Edmund-Siemers-Allee 1, 20146 Hamburg

Einlass ab 13:30 Uhr

Eintritt frei, um Spende für die Entwicklungsprojekte in Indonesien wird gebeten

Programm:

13:30 – 14:00 Einlass

14:00 – 14:10 Eröffnung (MC)

14:10 – 14:20 Begrüßung (Uni Hamburg – Prof. Jan van der Putten)

14:20 – 14:30 Begrüßung (KJRI Hamburg – Generalkonsul, t.b.c)

14:30 – 14:40 Kurze Vorstellung über PARAMABIRA

14:40 – 15:10 PARAMABIRA Choir aus Jakarta

15:10 – 15:30 Pause (Köstlichkeiten mit sehr günstigem Preis sind vorhanden; Getränke ist frei)

15:30 – 15:45 Begrüßung und Presentation (IASI – Yudi Ardianto)

15:45 – 16:00 Begrüßung und Presentation (BUGI – Anindya Siddharta)

16:00 – 16:10 kurze Vorstellung über ANGKLUNG HAMBURG ORCHESTRA 16:10 – 16:40 ANGKLUNG HAMBURG ORCHESTRA

16:40 – 17:00 PARAMABIRA und AHO

17:30 ENDE

Top