pens2

IASI merintis kerjasama dengan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Prio Adhi Setiawan, S.T, M.Sc., mewakili divisi ISTT (industri Strategis dan teknologi Tinggi) IASI – Jerman, diundang oleh PTG (Prodi Teknologi Game) sebagai pembicara alam kuliah umum mengenai “Digital Transformasi Revolusi Industri 4.0 dan IoT” yang didampingi oleh Prof. Dr. -Ing Hendro Wicaksono (Jacob University – Bremen) yang mewakili diaspora akademisi di Jerman.

Kuliah umum tersebut diadakan di gedung Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Dalam kesempatan itu, Prio Adhi juga berjumpa dengan Direktur PENS Dr. Zainal Arief, ST, MT untuk menjajagi kemungkinan kerjasama dengan IASI di masa datang.

IASI siap untuk menjadi partner dalam menyiapkan dan membangun kompetensi penguasaan teknologi tinggi di Indonesia.

Zainal Arief menanggapi rencana kerjasama ini dengan positif dan menanti lngkah-langkah konkret berikutnya.

Berita terkait bisa dilihat dalam tautan berikut.

https://www.pens.ac.id/2018/07/23/prodi-teknologi-game-adakan-kuliah-tamu-mengenai-revolusi-industri-4-0-dan-iot/

Selection_536

Program Pertukaran Pelajar SMA Jawa Tengah/Indonesia dengan SMA di Hamburg/Jerman

Student Exchange Program between High Schools in Central Java/Indonesia and Gymnasium in Hamburg/Germany.

(By: Dyah Vollyati)

The Student Exchange program between Indonesia and Germany was first carried out in 2015 involving 18 high school students from SMA Negeri 1 Salatiga, Indonesia and 18 high school students from Gymnasium Ohlstedt Hamburg, Germany. Since then, the student exchange program is conducted in an annual basis.

This student exchange program was initiated by Mr. Harald Ploss who is a member of school committee of Gymnasium Ohlstedt Hamburg (GO), Germany. In a school committee meeting in the end of 2014 which discussed about student activity program, Mr. Harald Ploss proposed a student exchange program between Gymnasium Ohlstedt Hamburg and a school in Indonesia to give new insights to GO students who had only held student exchanges with schools in America and other European countries. Finally, the school committee approved Mr. Harald Ploss’ proposal and asked him to look for partners in Indonesia to work with and implement the program.

In short, he appointed Mrs. Dyah Vollyati (Mrs. Yeti) and discussed how this program could be implemented as a part of Indonesia promotion. During intensive discussions, both agreed to hold the first student exchange program between GO and a school in Indonesia by sharing responsibilities. Mr. Harald Ploss took care of all permits and documents needed by the German government as well as became the sponsor for this student exchange while Mrs. Yeti prepared the required documents, choose the school who would become the partner for the student exchange, selected potential students, socialized and communicated this program to the school, students, and parents as well as provide intensive training to strengthen students’ communication skill in supporting their visit in Germany. Eighteen students of SMA Negeri 1 Salatiga were finally selected to join this program in 2015 and YETI English Course Salatiga became the mediating partner between GO and SMA Negeri 1 Salatiga.

Until today, we have worked to promote 5 schools with total 89 participants joining this program. Most students graduated from Dream Team are currently studying in several countries such as: Germany, China and some are also accepted to study in prestigious University such as: Gajah Mada University; Bandung Institute Technology; Brawijaya University; and Diponegoro University. They are shaped to compete globally within returning to home country after joining this program.

All students who have been participating in the student exchange program between Indonesia and Germany are joining to ASTU EXSA which stands for Alumni of Student Exchange Indonesia.

For further information, please take a look at the PDF file below.

The Brief History of Indonesia Germany student exchange
File Size: 1,9 MB
File Type: pdf
Download File
IASI-default-ind

Aircraft Engineering Center (AEC)

(Oleh: Prio Adhi Setiawan & Yudi Ardianto)

Pengembangan dan penguasaan kemandirian industri berteknologi tinggi merupakan salah satu pondasi yang sangat penting dalam percepatan perekonomian, yang juga menjadi salah satu pilar dalam prioritas pembangunan yang tercakup dalam Nawacita ke-6 yaitu meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saingnya sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa lainnya. Indonesia memiliki potensi daya saing di pasar internasional ini yaitu salah satunya di bidang industri dirgantara.

Strategic Partnership, yaitu kerjasama kemitraan strategis bisa menjadi salah satu kunci sehingga ekosistem yang kuat antara seluruh stakeholder dirgantara (MRO, aero manufaktur, R&D, operator dan regulator) bisa terbangun dalam kesatuan pandangan akan kemajuan dirgantara Indonesia ke depan.

AEC sebagai salah satu ide wahana dalam Kerjasama Kemitraan Strategis ini untuk menguasai ruh dari pengembangan state-of-the-art dirgantara terkini dengan ikut terlibat dalam pengembangan industri teknologi dirgantara besar dunia.

Sinergisitas yg kokoh dalam ekosistem dirgantara Indonesia yang kuat, dengan kehadiran AEC salah satunya, akan membuat Indonesia bisa mensejajarkan kemampuan industri dirgantaranya secara internasional. Adapun kajian detail Aircraft Engineering Center ini terlampir dalam Executive Summary dan Preliminary Concept yang bisa diunduh dari tautan berikut.

Aircraft Engineering Center Diaspora Dirgantara IASI
File Size: 389,1 kb
File Type: pdf
Download File
41089656_1969290929760101_1297646023987953664_o

Pengalaman Selama Program Apresiasi Pemenang Lomba Pidato 2018

(Oleh: Leon Woltermann)

Saya seorang mahasiswa Jerman yang sedang belajar Bahasa Indonesia di Universitas Hamburg. Pada saat ini saya baru menyelesaikan semester kedua.

Sekitar empat bulan yang lalu, yaitu bulan Mei 2018, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin mengadakan Lomba Pidato dan Lomba Bercerita dalam Bahasa Indonesia untuk para penutur asing.

Saya adalah salah satu pemenang babak pertama di Berlin tersebut. Oleh karena itu, kemudian pada bulan Agustus saya diundang ke Jakarta untuk mengikuti babak final.

Pada tanggal 13 Agustus 2018 saya berangkat dari Hamburg, karena program Apresiasi Pemenang Lomba Pidato di Jakarta dimulai keesokan harinya, tanggal 14 Agustus.

Pada malam pertama di Jakarta, semua peserta lomba mengikuti acara makan malam bersama dan saling memperkenalkan diri satu sama lain.

Hari berikutnya kami mengikuti tes UKBI (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Untuk tes UKBI tersebut saya berada di peringkat kesembilan dari keseluruhan 34 peserta.

Kemudian sebanyak 12 peserta dengan nilai tertinggi dipilih untuk berpartisipasi di dalam Lomba Debat.

Dalam Lomba Debat saya mampu mencapai babak semi final. Topiknya bagi saya terasa cukup sulit. Yaitu: “Di Era Globalisasi Setiap Warga Negara Diwajibkan Menguasai Minimal Satu Bahasa Asing”. Selama berdebat, saya harus berada di dalam kelompok penentang (artinya, kelompok yang tidak setuju).

Kemudian, setelah Lomba Debat selesai, enam peserta dipilih oleh tim juri untuk bercerita dan berpidato di depan Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan). Saya adalah salah satu pesertanya.

Pada malam harinya semua peserta diundang makan malam bersama di Museum Nasional. Sebelum acara makan dimulai, tim juri memberikan penghargaan kepada para pemenang. Saya menjadi juara pertama Lomba Pidato babak final itu dan mendapatkan medali serta sertifikat.

Hari berikutnya kami melakukan jalan-jalan dan mengunjungi Kampung Betawi, sebuah tempat yang merepresentasikan budaya Betawi. Di sana kami juga belajar cara membuat kue Kembang Goyang atau Batik Betawi. Pada sore harinya kami mengunjungi Gereja Katedral dan Mesjid Istiqlal.

Hari Jumat bertepatan dengan hari 17 Agustus, yaitu hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kami wajib bangun pagi, karena harus berangkat ke Taman Mini pagi-pagi. Setelah jalan-jalan di sana dan belajar tentang budaya-budaya seluruh Indonesia, kami mengganti baju. Semua peserta membawa baju yang formal, karena pada hari itu kami diundang ke Istana Negara untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-73 dan mengikuti Upacara Penurunan Bendera Merah Putih.

Saya merasa sangat terhormat bisa mengikuti upacara penurunan bendera itu dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama Pak Jokowi, Presiden Republik Indonesia.

Setelah semua kegiatan di Jakarta selesai, kami berangkat ke kota Padang, Sumatera Barat. Selama di Padang kami mencicipi masakan Padang yang sangat terkenal di seluruh dunia dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, seperti: Istana Pagaruyung di Padang Panjang dan Lubang Jepang di Bukittinggi.

Setelah seminggu mengikuti kegiatan-kegiatan bersama, kami semua sudah menjadi teman baik. Sesampainya di Jakarta kami harus berpisah. Suasana pun menjadi melankolis, karena semua akan merindukan satu sama lain. Tetapi kami juga sangat menikmati waktu kebersamaan kami.

Akhir kata, saya merasa bersyukur bisa mengikuti program ini, karena saya bisa memperdalam pelajaran saya tentang Indonesia. Juga bisa mendapatkan banyak teman dari seluruh dunia yang juga sama-sama berbagi cinta kepada Indonesia.

Saya sangat berterima kasih kepada Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, Mbak-Mbak, dan Mas-Mas di Kemendikbud yang telah memungkinkan penyelenggaraan program ini dan membantu kami selama di Indonesia.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada guru Bahasa Indonesia saya, Ibu Yanti Mirdayanti di Universitas Hamburg dan teman-teman lainnya yang selalu mendukung proses pembelajaran saya.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan sebuah moto yang sering digunakan selama program kami, yaitu: “Cintaku Pada Indonesia Seluas Samudra”

** Keterangan foto-foto:

  1. Tarian Minangkabau
  2. Indonesian Art Institute of Padang Panjang
  3. Pemberian Penghargaan di Museum Nasional
  4. Rumah Gadang – Rumah Tradisional Minangkabau
  5. Panorama Bukittinggi
  6. Mesjid Istiqlal – Jakarta
  7. Bendera Jerman dan Bendera Bukittinggi (mirip!!!)
  8. Makan Bajamba – Upacara Minangkabau

(Artikel ditulis saat penulis berada di Pontianak/Indonesia, 3 September 2018)

** Foto-foto adalah koleksi penulis pribadi.

Image may contain: one or more people, people standing and hat
41080597_1969144546441406_1025691314735284224_n

Menjelang Hari Jadi ke-100 Universität Hamburg

Menjelang Hari Jadi ke-100 Universität Hamburg

=====================================

(Oleh: Yanti Mirdayanti)

Jalur Sepeda dan Jalur Pejalan Kaki yang baru direnovasi di depan Universität Hamburg selama musim panas ini siap menyambut mahasiswa baru dan mahasiswa lama pada Semester Musim Dingin mendatang ini, bulan Oktober 2018.

Saat semester berlangsung, kedua jalur ini akan kembali dipenuhi para mahasiswa Uni Hamburg yang berjalan kaki maupun bersepeda menuju kelas perkuliahan masing-masing. Demikian pula para dosen dan para staf civitas academica Uni Hamburg yang menyimpan kendaraan pribadinya di rumah masing-masing turut memanfaatkan kedua jalur sibuk ini.

Menginjak Musim Gugur, mulai minggu kedua bulan Oktober, kedua jalur ini pun akan kembali dipenuhi dengan daun-daun berwarna-warni yang berjatuhan dari pohon-pohon tinggi yang membentuk sebuah ‘Boulevard’ sepanjang jalan raya Edmund-Siemers-Alle, sebuah nama yang telah berkontribusi besar terhadap pendirian Universität Hamburg di kota pelabuhan dan perdagangan nomor satu di Jerman ini.

Pada tanggal 10 Mei 2019 Universität Hamburg akan genap berusia 100 tahun. Hari Ulang Tahun yang sangat berarti bagi perjalanan dunia ilmu pengetahuan di Jerman, khususnya di kawasan Jerman Utara.

Telah sejak satu abad inilah Universität Hamburg mengemban dan menjalankan mottonya:

“Der Forschung, Der Lehre, Der Bildung” (untuk Penelitian, Pengajaran, dan Pendidikan).

Dan sejak satu abad ini pulalah “Bidang Studi Indonesia dan Melayu” (Departemen Asia Tenggara) telah turut memberi warna dan dedikasi keilmuan uniknya di bumi Jerman Utara.

Hamburg, September 2018

40263500_1959255384096989_1076674174266638336_n

Sosialisasi IASI dan Pasar Hamburg 2018

Einladung/Undangan!

Bitte weiterleiten!

Sosialisi IASI dan Pasar Hamburg 2018

—————-

Tanggal 8 September ini (Sabtu), mulai jam 13.00 s/d jam 16.00 akan ada acara program IASI dengan Pasar Hamburg.

Kita akan mengadakan program sosialisasi seputar program IASI mendatang dan program festival budaya Pasar Hamburg 2018 yang akan datang (6/7 Okt).

Dimohon terutama yang berada di Hamburg dan sekitarnya hadir. Acara akan dilaksanakan di AAI – Uni Hamburg, Ruang 221.

Mb Juli dari Pasar Hamburg akan mempresentasikan hal seputar Pasar Hamburg mendatang. Lalu dari IASI misalnya paparan tentang program pagelaran Wayang Orang di Jerman 2019, dll.

Juga IASI akan meresmikan Satzung/ADART yang baru. Untuk ini diperlukan kehadiran diaspora Indonesia.

Ditunggu yah!

#IASI #PasarHamburg

bipa

Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dalam konteks “Soft Diplomacy” Perkenalkan Indonesia ke Dunia Luar

Berikut adalah tulisan tentang Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai medium utama perkenalkan Indonesia ke dunia luar.

Paparan ini ditulis oleh Yanti Mirdayanti, M.A, dosen Bahasa Indonesia Prodi Indonesia/Melayu Departemen Asia Tenggara Universitas Hamburg yang juga Ketua II IASI merangkap koordinator Divisi Pendidikan.

Tulisan ini dimuat di laman tabloid “Diplomasi” yang diterbitkan oleh Direktorat Diplomasi Publik, Direktorat Jenderal IDP Kementerian Luar Negeri R.I.

http://www.tabloiddiplomasi.org/pengajaran-bahasa-indonesia-penutur-asing-bipa-sebagai-medium-utama-perkenalkan-indonesia-ke-dunia-luar/

Salam,

Tim Kerja IASI, e.V. 2017 – 2019

sesi2-1

Laporan Lengkap: Diskusi Panel, Sabtu, 30 Juli 2018

(Oleh: Yudi Ardianto / Ketua I IASI – Jerman)

Panel diskusi sehari pada hari Sabtu, 30 Juli 2018, berlangsung dengan lancar. Terselenggara atas kerjasama antara IASI dan AAI-Universität Hamburg, dengan menyajikan dua tema, yaitu: 1) Kerukunan beragama dalam masyarakat multikultur dan 2) „Peluang diaspora Indonesia berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia melaluai program SES“.

Sesi pagi atau sesi pertama, berlangsung pagi sampai siang hari.

Pertama, acara dibuka oleh pembawa acara, Yanti Mirdayanti, yang juga merupakan Ketua-II IASI dan dosen tetap di Universitas Hamburg. Kemudian dilanjutkan dengan kata pembuka oleh Ketua-1 IASI, Yudi Ardianto.

Selanjutnya, Kepala Bidang Studi Indonesia/Melayu (Austronesistik), Prof. Jan van der Putten, memberi sambutan pembuka. Ditekankannya bahwa topik diskusi ini sangat relevan saat ini, baik dalam konteks global maupun nasional, di negara Jerman maupun Indonesia.

Pada sesi pertama ini, Dr. Bambang Susanto selaku Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hamburg juga berkenan memberi sambutannya. Diungkapkannya tentang kegembiraannya dengan banyaknya kegiatan masyarakat Indonesia di Hamburg dan sekitarnya.

Tepat jam 11.30 memasuki acara inti, yaitu paparan dari tiga pembicara yang masing-masing disampaikan selama 20 menit.

Pembicara pertama adalah Prof. Dr. Margaretha Liwoso dari Universitas Sam Ratulangi. Dipaparkannya tentang peran dan pengaruh media sosial dalam kerukunan beragama di Sulawesi Utara. Salah satu kearifan lokal dari masyarakat Manado adalah memandang dan menerima perbedaan-perbedaan dalam masyarakat sebagai sesuatu yang alami. Hal ini terlihat dengan moto kota Manado: “Torang samua basudara kong baku-baku sayang” (Kita semua adalah saudara). Warga kota Manado terdiri dari 67% umat Kristen/Katolik, 31% umat Islam, dan sisanya agama-agama lain. Di antara mereka terdapat tradisi hidup yang sangat rukun satu sama lain dan tradisi bekerja sama (gotong royong) yang kuat. Kota Manado pun termasuk salah satu dari 10 kota di Indonesia yang menyandang predikat sebagai “Kota Toleransi”.

Selanjutnya, tampil Mu’ammar Zayn Qadafy sebagai pembicara yang mewakili organisasi Nahdlatul Ulama di Jerman. Master lulusan UIN Jogyakarta yang saat ini sedang menjalani program Doktor di Albert-Ludwig University Freiburg ini menyoroti dua cara pendekatan pemahaman kitab suci, yaitu pendekatan kontekstual dan tekstual dalam rangka menggali pemahaman Islam tentang dukungannya terhadap toleransi beragama di antara umat manusia di seluruh dunia. Presentasi ditutup dengan kesimpulan bahwa Indonesia adalah rumah untuk semua, tanpa ada yang terpinggirkan.

sesi1

Foto bersama di akhir sesi pertama

Pembicara ketiga, Pdt. Dr. R.A.D. Siwu, MA, Ph.D, dalam presentasinya menyoroti kerukunan umat beragama pada masyarakat majemuk di Minahasa. Dr. Siwu yang merupakan Ketua Presidium BKSAU (Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama) di Sulawesi Utara dan juga Rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) ini menggarisbawahi beberapa hal penting yang akan menjamin terjadinya kerukuman umat beragama dalam masyarakat yang multikultural.

Sesi pertama/sesi pagi ditutup dengan acara tanya jawab dengan para hadirin. Forum bersepakat bahwa pada intinya Indonesia bisa menjadi contoh dalam hal kerukunan umat beragama dan meyakini hal ini bisa sebagai perekat persatuan bangsa.

Sebelum sesi kedua pada sore hari dimulai, ada sesi istirahat dan makan siang selama 45 menit. Dalam kesempatan ini, para peserta, pembicara dan para tamu undangan berkesempatan untuk bisa saling berbincang satu sama lain sambil mencicipi jajanan khas Indonesia.

Tepat pukul 14:30 sesi kedua/sesi sore dimulai.

Prof. Jan van der Putten kembali menyampaikan sambutannya dengan menyentuh tema kerja sama Jerman-Indonesia dan pentingnya diaspora Indonesia untuk terlibat aktif dalam pembangunan negara Indonesia. Lembaga SES (Senior Experts Service), lembaga nirlaba Jerman yang bernaung di bawah BMZ (Bundes Ministerium für Wirschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklun/ Kementrian Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi) bisa menjembatani hal tersebut.

Duta besar Indonesia untuk Jerman Dr. Arif Havas Oegroseno dalam sambutan pembukaannya menyampaikan aparan perkembangan ekonomi Indonesia saat ini yang sangat positif. Namun diakuinya pula bahwa tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang kejuruan khusus yang siap pakai di industri-industri di Indonesia jumlahnya masih kurang. Oleh karena itu, kerjasama bilateral Jerman-Indonesia dalam bidang pendidikan kejuruan menjadi prioritas utama.

Pada sesi sore/sesi kedua ini juga dihadirkan 3 pembicara.

Pembicara pertama, Adam Pamma, selaku perwakilan SES di Indonesia, memaparkan kegiatan-kegiatan SES sejak tahun 2014 sampai saat ini. Jumlah tenaga ahli Jerman yang dikirim ke Indonesia terus meningkat. Dari tahun 2014 sampai dengan 2017 sudah ada 178 orang. Untuk tahun 2018 ini yang sudah berjalan ditambah dengan yang sedang dalam persiapan mencapai sekitar 200 senior experts. Bidang-bidang keahlian itu meliputi pelatihan guru di bidang design kapal, pembuatan roti dan kue kering khas Jerman, produksi jendela standar Jerman (kaca berlapis dan kedap suara), otomotif, pengembangan kurikulum bidang pariswisata dan perhotelan, peternakan dan pendidikan sistem ganda (dual system). Khusus untuk bidang pendidikan kejuruan, pada tahun 2014 telah ada kesepakatan antara pemerintah RI dengan SES untuk menyiapkan 600 tenaga ahli di bidang kejuruan. Sampai saat ini SES sudah menyiapkan sejumlah tenaga ahli itu, tetapi realisasi dari program ini masih terhambat birokrasi. Pihak KBRI sebagai wakil pemerintah Indonesia di Jerman diharapkan bisa mendorong pelaksanaan program ini mengingat bidang pendidikan kejuruan adalah salah satu tema yang disepakati dari pertemuan bilateral Indonesia-Jerman 2016 lalu. Laporan khusus mengenai program nyata pendidikan kejuruan / vokasi antara Jerman dan Indonesia yang sudah berjalan bisa dilihat dalam artikel lain di website IASI:

sesi1

Para peserta menyimak paparan dari para pembicara.

http://iasi-germany.de/blog/2018/03/30/laporan-ses-jerman-tentang-program-nyata-kerjasama-pendidikan-vokasi-antara-indonesia-dan-jerman-sejak-2016-sampai-2018/ Dalam kesempatan ini Adam Pamma juga menyampaikan kegiatan kerjasama yang sangat baik antara SES dengan 17 UIN (Universitas Islam Negeri) yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada sedikit cerita menarik, di awal program, yaitu adanya keengganan dari tenaga ahli Jerman untuk dikirim ke UIN mengingat ini adalah institusi pendidikan agama. Mereka khawatir kedua belah pihak akan susah beradaptasi. Tetapi seiring degan berjalannya waktu, para tenaga ahli Jerman ini menyampaikan feedback bahwa civitas akademika di lingkungan UIN sangat ramah dan berpikiran terbuka. “Mahasiswi perempuan pun tidak sungkan meminta untuk berswafoto (selfie) dengan kami”, ujar salah satu tenaga ahli. Pada akhir presentasinya Adam Pamma menyampaikan program baru dari SES yang diluncurkan sejak Januari 2017 yang bernama “weltdienst 30+”. Program baru ini diperuntukkan bagi para profesional yang masih aktif bekerja. Tentunya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Info lebih lengkap bisa dilihat di https://www.ses-bonn.de/en/startseite.html).

Penyaji kedua, Prof. Dr.-Ing. Hendro Wicaksono dari Jacob University – Bremen, berbagi pengalamannya saat mengikuti program SES di Indonesia. Hendro Wicaksono adalah salah satu pionir program “Welt dienst 30+” yang pada Desember 2017 lalu mengunjungi UIN Sunan Kalijaga – Jogyakarta dan ikut berkontribusi dalam mengembangkan kurikulum di Fakultas Sains dan Teknologi UIN. Pesan penting dalam salah satu slidenya adalah berupa sebuah kutipan yang menekankan moto ”Be Part of the Solution!” Jadilah bagian dari pencari solusi!).

Paparan terakhir disampaikan oleh Prof. emiritus Friedhelm Eicker, seorang ahli yang banyak berkecimpung dalam pengembangan kurikulum sekolah kejuruan. Profesor yang dahulu mengajar di universitas Rockstock ini menyampaikan pengalamannya selama mengikuti program SES di SMK Tunas Harapan kota Pati, Jawa Tengah. Pesan penting dari Prof. Eicker adalah bahwa program pelatihan guru-guru SMK dan juga pengembangan kurikulum modern harus direncanakan secara berkelanjutan. Program TTT (Training The Trainer) harus digalakkan. Selain itu, belajar dari pengalaman proyek yang sama di negara-negara Sub-Sahara Afrika dan China, network atau jaringan antar SMK-SMK di seluruh Indonesia harus dikembangkan sehingga masing-masing SMK bisa saling berbagi pengalaman dan kompetensi.

Di penghujung acara sesi kedua, sebelum memasuki sesi tanya jawab, ada kejutan dari panitia yaitu tampilnya dua mahasiswa Jerman, Leon dan Alard, yang menyanyikan satu lagu berbahasa Indonesia dengan cukup fasih. Kabarnya mereka ini baru belajar bahasa Indonesia dua semester. Leon baru saja memenangkan lomba pidato berbahasa Indonesia di KBRI Berlin dan diundang untuk hadir dalam acara kenegaraan peringatan Hari Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 2018 di Istana Negara, Jakarta.

Sebelum keseluruhan acara ditutup oleh pembawa acara, dilakukan penyerahan buku tentang program kegiatan-kegiatan SES di 17 UIN Indonesia. Serah terima disampaikan oleh Adam Pamma (SES) kepada Dubes RI untuk Jerman.

Sesuai dengan program yang telah direncanakan, acara diskusi panel sehari ini ditutup tepat jam 17.00, setelah sesi akhir tanya jawab dan kemudian dilanjutkan dengan sesi berfoto bersama.

(Editor: Yanti Mirdayanti / Ketua II – IASI / Divisi Pendidikan)

Top