Mengapa Tidak Banyak Orang Indonesia Mengenal Wiji Thukul?

(Oleh: Annisa Hidayat, Mahasiswi Program Master – Universität Hamburg)

“Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu”
(Wiji Thukul, “Aku Ingin Jadi Peluru)

Sebelumnya saya tidak benar-benar mengenal figur seorang Wiji Thukul, sampai kemudian pada suatu hari seorang teman dekat memperkenalkannya kepada saya. Kami berdua memang sangat menyukai dunia sastra, khususnya puisi. Komunikasi kami pun sering dilakukan lewat puisi. Teman saya itu sangat mengagumi Wiji Thukul, suatu hal yang kemudian menggiring saya untuk pula mengenal Wiji Thukul lebih dekat lagi. Akhirnya, saya pun membaca puisi-puisi karya penyair yang juga aktivis pergerakan reformasi Indonesia ini. Saya ingin mencari tahu lebih jauh, siapa sebenarnya Wiji Thukul dan karya seperti apa yang sangat dikagumi oleh teman dekat yang saya sukai itu. Demikianlah awal perkenalan saya dengan Wiji Thukul, seorang penyair Indonesia yang luar biasa dan sangat kritis serta jeli terhadap kepincangan-kepincangan yang terjadi di sekitarnya.

Saat ini, setiap kali saya membaca tulisan Wiji Thukul, maka memori masa lalu ketika masih bersahabat dekat dengan teman itu akan muncul lagi di ingatan. Saya pun harus berterimakasih kepadanya, karena dia jugalah  yang telah  memperkenalkan saya kepada novel “Cantik itu Luka”, karya hebat penulis muda Indonesia kelahiran Tasikmalaya, Eka Kurniawan. Waktu itu tahun 2012, pada saat saya belum membaca karya-karya Eka. Sebenarnya saya sudah sering melihat bukunya di toko buku, tetapi waktu itu belum ada ketertarikan untuk membacanya. Namun akhirnya saya pun membacanya, karena ingin mengenal teman saya itu dengan lebih dekat lagi melalui buku-buku  yang dibacanya. Saat itu kami saling berkirim pesan setiap hari melalui Yahoo Messenger. Betapa klasiknya masa itu, saat belum banyak aplikasi media sosial seperti saat ini!

Saya harus menceritakan hal-hal tersebut karena beberapa malam lalu  muncul beberapa pertanyaan pada sebuah diskusi setelah menonton pemutaran film Wiji Thukul, “Istirahatlah Kata-Kata” di Univeristas Hamburg, Jerman. Pemutaran film tersebut dikoordinir oleh Ikatan Masyarakat Jerman – Indonesia di Hamburg (disingkat: DIG – Hamburg) yang berkolaborasi dengan Jurusan Asia Tenggara, Universitas Hamburg. Ini merupakan film terakhir yang diputar dalam rangka program seri film Indonesia di Jurusan Asia Tenggara untuk Semester Musim Dingin 2018/2019. Pada setiap pemutaran film selalu ada tamu yang diundang untuk menjadi pembicara dalam sesi diskusi (tanya jawab) tentang topik film dan seluk beluk latar belakang ceritanya.

Pada Selasa malam, tanggal 15 Januari 2019 lalu, tamu yang menjadi pembicara pada pemutaran film di Universitas Hamburg adalah Peter Sternagel, seorang penerjemah beberapa karya sastra modern Indonesia, termasuk kumpulan puisi Wiji Thukul. Terjemahan dilakukannya dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman. Sesuatu yang spesial juga dari acara malam pemutaran film yang diselenggarakan di aula kampus Ethnologi itu adalah keterlibatan para mahasiswa  Program Studi Indonesia /Melayu. Mereka ikut pentas membacakan puisi – puisi Wiji Thukul dalam versi Bahasa Indonesia. Pembacaan versi Bahasa Jerman dilakukan oleh sang penerjemah sendiri, Peter Sternagel.

Di antara sekian pertanyaan yang muncul pada acara diskusi adalah: “Mengapa tidak banyak orang Indonesia yang mengenal Wiji Thukul?”. Beberapa mahasiswa yang menyatakan bahwa mereka mengenal cerita Wiji Thukul adalah mereka yang hampir semuanya pernah tinggal di kota Yogyakarta. Di kota ini budaya seni dan sastra memang selalu aktif, sehingga banyak orang, khususnya para mahasiswa, yang mengenal Wiji Thukul melalui kegiatan aktivismenya maupun karya-karyanya puisinya. Maka bukan suatu kebetulan, teman dekat saya itu juga tinggal di Yogyakarta dan berkuliah di sana.

Wiji Thukul tidak asing bagi mereka yang menyukai sastra dan mereka para aktivis mahasiswa. Mengapa sastra? Selama jaman Orde Baru (1967 – 1998) telah terjadi pengekangan terhadap hak-hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat yang kritis dan dianggap berbeda dari versi penguasa. Keadaan ini membuat orang-orang menyampaikan pesan-pesan tersembunyi melalui sastra yang banyak dibalut dengan metafora-metafora. Pesan-pesan yang kritis dan terbuka dianggap sangat berbahaya bagi yang menyuarakannya. Pramoedya Ananta Toer misalnya adalah salah seorang penulis legendaris yang berani menyuarakan hal-hal yang berhubungan dengan pelanggaran hak-hak azasi manusia, tentang sejarah yang ditutupi dan fakta yang diputarbalikkan. Pramoedya kemudian dijebloskan ke penjara, dikirim ke Pulau Buru sebagai tahanan politik, dan buku-buku karyanya dibakar oleh militer Orde Baru.

Sastra adalah  salah satu jalan yang dipilih Wiji Thukul untuk menyampaikan kritik-kritiknya kepada pemerintah Orde Baru. Mereka yang tidak tertarik dengan sastra memang akan jarang mendengar nama Wiji Thukul. Apalagi yang tidak aktif secara langsung dalam pergerakan reformasi, maka tidak akan mengenal siapa itu Wiji Thukul.

Wiji Thukul adalah Pram, adalah Rendra, adalah mereka yang berani mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Kata-kata yang dilahirkan bukan kata-kata yang selalu bersembunyi di balik metafora. Mereka orang-orang sunyi yang berbicara tentang kemanusiaan. Dan sepanjang sejarahnya, orang-orang yang sepi adalah mereka yang selalu berbicara tentang kebenaran.

 

“Jika tak ada mesin ketik

aku akan menulis dengan tangan,

jika tak ada tinta hitam

aku akan menulis dengan arang,

jika tak ada kertas

aku akan menulis pada dinding,

jika aku menulis dilarang

aku akan menulis dengan tetes darah!”

 

(Wiji Thukul, “Penyair”)

Interreligious Dialogue: Religious Tolerance in a Multicultural Society

Sabtu, 1 Desember 2018

di Missionsakademie-Universitas Hamburg

 

(Oleh:  Maraike J.B. Bangun – Mahasiswi PhD Bidang Teologi di Universitas Hamburg)

 

Pada tanggal 1 Desember 2018 telah berlangsung kegiatan dialog antaragama yang diselenggarakan oleh Dimension Journal for Humanities and Social Sciences (DJHSS) yang berkolaborasi dengan Departemen Studi Asia Tenggara di bawah Universitas Hamburg dan Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI). Kegiatan yang mengambil tempat di Missionsakademie-Universitas Hamburg mengundang Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama Sulawesi Utara (BKSAUA-Sulut) dan turut didukung oleh Pemerintah Daerah Sulawesi Utara.

Delegasi dari BKSUA diwakili oleh 10 orang.  Juga hadir perwakilan dari Konsulat Jenderal RI di Hamburg,  Perhimpunan Jerman – Indonesia (DIG – Hamburg), para mahasiswa Jurusan Asia Tenggara – Universitas Hamburg, perwakilan Missionsakademie  – Universitas Hamburg, dan berbagai tamu lainnya dari beberapa institusi di Jerman.

Dialog antaragama ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan dialog antaragama pada tanggal 13 Juni 2018 di Asien-Afrika-Institut, Universitas Hamburg. Acara dimulai dengan kata sambutan dari Dr. Uta Andree, Direktur Program Missionakademia-Universitas Hamburg, dengan memperkenalkan Missionsakademie sebagai sebuah institusi di bawah naungan Universitas Hamburg yang menekankan pentingnya dialog antar umat beragama dan budaya pada level akademis. Sesudah sambutan, kegiatan dibuka dengan doa berantai oleh perwakilan enam agama di Indonesia serta satu perwakilan dari gereja di Jerman.

Pembicara pertama dalam kegiatan ini adalah Prof. Werner Kahl, salah satu pimpinan di Missionsakademie-Universitas Hamburg, dengan tema makalah “Jews, Christians, and Muslims as Faith Relatives within the Same Monotheistic Family.”  Sebagai pembicara yang mewakili Missionsakademie, Prof. Kahl menekankan pengertian misi Kristen pada masa kini, yaitu misi dialog interkultural dan keagamaan. Misalnya dengan adanya perjumpaan antara Kristen dan Islam di Jerman yang semakin nyata yang salah satu pendorongnya adalah karena kedatangan banyak pengungsi di Jerman. Pengalaman ini mendorong gereja di Jerman untuk kemudian membangun sebuah hubungan yang positif dengan mereka yang memeluk agama Islam. Salah satu pendekatan yang dipaparkan Prof. Kahl adalah pentingnya untuk mendengarkan secara saksama, sabar, dan kritis, serta dengan mengeksplorasi berbagai kesamaan antara Islam dan Kristen. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Prof. Kahl misalnya dengan menelusuri hubungan diakronis antara agama-agama Abraham, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam, dengan membandingkan bahasa Arab pada abad ke-17 dengan teks Alkitab dalam bahasa Siria. Ia menyimpulkan bahwa Islam merupakan sebuah upaya refleksi kritis atas tradisi Yahudi dan Kristen yang telah ada sebelumnya. Oleh sebab itu, Allah yang dituju adalah Allah yang sama yang secara kritis direfleksikan dalam kisah Abraham, Yesus, dan tokoh-tokoh lainnya. Sebagai contoh konkret, alasan Abraham untuk meninggalkan keluarganya tidak diberikan di dalam Alkitab, tetapi ada di dalam Al-Quran, yaitu karena politeisme. Salah satu kesamaan lainnya adalah dua perintah Allah, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama makhlukNya. Oleh sebab itu, menurutnya, orang Kristen perlu menyadari secara serius bahwa umat Islam percaya kepada Allah yang sama yang disembah oleh orang Yahudi dan orang Kristen.

Pembicara kedua adalah Dr. Richard Siwu yang mewakili BKSAUA-Sulut dengan judul makalah “Religious Tolerance and Harmony in a Plural Society.” Berbeda dengan pendekatan Prof. Kahl yang menggunakan pendekatan teologis dalam mencari landasan bagi dialog antaragama monoteistik, Dr. Siwu menggunakan pendekatan sosiologis dengan memaparkan istilah “Torang Semua Basudara” (Kita Semua Bersaudara). Dr. Siwu memulai dengan memaparkan perkembangan keagamaan secara global yang dipengaruhi oleh globalisasi yang membuat kita menjadi warga dunia, sehingga kita perlu menyadari pentingnya hidup bersama secara inklusif, terbuka, dan harmonis. Demi mewujudkan hal ini, para tokoh agama di Sulawesi Utara menggunakan kearifan lokal “Torang Semua Basudara” sebagai landasan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Salah satu contoh konkretnya adalah posisi Ketua BKSAUA yang digilir berdasarkan enam agama resmi yang diakui di Indonesia. Kepemimpinan yang ada tidak ditentukan oleh “mayoritas-minoritas.” Lebih lanjut lagi, Dr. Siwu menjelaskan bahwa istilah “Torang Semua Basudara” pun mengalami perluasan makna menjadi “Torang Samua Ciptaan Tuhan.” Implikasinya tidak hanya mencakup seluruh manusia yang berbeda-beda, tetapi juga mencakup ciptaan Tuhan lainnya, seperti alam dan hewan. Dengan demikian salah satu tugas umat beragama bukan hanya hidup secara rukun, tetapi juga merawat ciptaan Tuhan lainnya. Secara umum, BKSAUA yang dibentuk oleh Gubernung H. V. Worang pada 25 Juli 1969, merupakan mitra pemerintah daerah Sulawesi Utara dalam mengatasi masalah-masalah antaragama.

Pembicara ketiga adalah Mu’ammar Zayn Qadafy, M.A., seorang cendikiawan Islam yang sedang mengambil program Doktor di Universitas Freiburg, Jerman. Judul presentasinya adalah “Building the Interfaith Trust in Indonesia: Combining Synchrony and Diachrony in the Quranic Prohibition to Ally with People from Other Religion” yang berangkat dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau “Ahok” atas Surat Al-Maida 51. Pertanyaan mendasar yang dikaji oleh Qaddafi adalah apakah orang Islam tidak dapat bekerja sama dengan penganut agama lainnya. Berbeda dengan berbagai pendekatan yang selama ini digunakan dalam membaca surat ini, Qaddafi menggunakan Pendekatan Semantik Historis (Historical Semantic Approach). Ia menghitung berapa banyak penggunaan kata Awlia (pemimpin/teman), Ansor (pendukung) dan A’da (musuh) di dalam Alquran secara umum untuk memperlihatkan bahwa penekanan Alquran secara umum terletak pada  Awlia, Ansor dan barulah A’da. Selain itu, ia memperlihatkan pergeseran penggunaan kata Awlia dan A’da dalam sejarah Islam pada periode Mekkah dan Medinah. Salah satu kesimpulan inti dari makalah pembicara ketiga ini adalah bahwa dalam worldview Al-Qur’an, yang dijadikan musuh utama adalah setan. Sementara permusuhan terhadap kelompok-kelompok tertentu sangat sedikit jumlahnya dan sangat terikat dengan konteks historis periode Madinah.

Setelah para pembicara selesai memaparkan presentasi mereka pada sesi pagi hari, acara dilanjutkan dengan istirahat makan siang. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama. Para peserta sangat antusias dalam bertanya dan memberikan pendapat-pendapat pribadi mereka tentang isu-isu tertentu, seperti tentang terjemahan Alkitab, tafsiran atas Surat Al-Maida 51, relasi Islam dan Kristen di Jerman dalam konteks banyaknya pengungsi yang datang, pandangan MUI tentang agama-agama lainnya, termasuk Ahmadiyah, dan pertanyaan-pertanyaan serta pendapat-pendapat lain-lainnya. Salah satu masukan peserta yang sangat penting dalam dialog ini adalah saran untuk diberikannya porsi dan kesempatan bagi perwakilan-perwakilan agama selain Islam dan Kristen, untuk turut mempresentasikan makalah mereka, agar percakapan yang ada tidak hanya didominasi oleh diskusi antara Islam dan Kristen. Bahkan juga disarankan bahwa untuk ke depannya ruang lingkup dialog agar dapat diperluas dengan menyuarakan semua perwakilan agama yang resmi diakui di negara Indonesia.

Akhir dari kegiatan ini ditutup dengan foto bersama.

Koordinator acara:
1) Dr. Margaretha Liwoso (Dimension Journal of Humanities and Social Sciences)

2) Yanti Mirdayanti, M.A. (Indonesian/Malay Studies, Universität Hamburg)

3) Yudi Ardianto, MSc. (Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia IASI e.V.)

Mahasiswa Student Exchange FIB Ikuti Program Ekskursi ke Berlin

Oleh: Kukuh Yudha Karnata (Guest Lecturer, Uni Airlangga – Surabaya), Sumber: http://fib.unair.ac.id/Eng/2018/11/23/mahasiswa-student-exchange-fib-ikuti-program-ekskursi-ke-berlin/

Cindy Belinda (jilbab merah), bersama direktur Watchindonesia, Pipit Kartawidajaja (baju hitam), dan rombongan dari University Hamburg.

Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Cindy Belinda, yang kini mengikuti program student exchange di University Hamburg, aktif mengikuti Konferensi Law and Justice: Indonesia 20 Years after Reformasi yang diadakan WatchIndonesia 9-11 November 2018. Konferensi itu diikuti para intelektual dan aktivis dari Indonesia dan Eropa. Membahas beragam topik dan isu-isu aktual dari hak asasi manusia hingga konflik agraria, lima belas mahasiswa tingkat sarjana dan magister dari Languages and Cultures of Southeast Asia University Hamburg ikut berpartisipasi aktif.

Reformasi 1998 tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia. Semangat zaman para mahasiswa di Indonesia saat itu bersatu dengan satu tujuan bersama yakni menurunkan rezim pemerintah Suharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun dan berharap kondisi Indonesia membaik di masa yang selanjutnya.

“Bagi kami yang sudah cukup dewasa, Reformasi Mei sangat membekas dalam ingatan. Namun bagi mahasiswa yang saat itu sebagian besar belum lahir, apakah mereka juga memahami kondisi batin mahasiswa Indonesia saat itu? Inilah tujuan kami ekskursi ke Berlin,” ujar Yanti, Koordinator ekskursi sekaligus pengajar Bahasa Indonesia di Asien African Institute University of Hamburg. Perempuan kelahiran Tasikmalaya, Indonesia ini lantas berusaha memberikan ‘warna’ dalam kuliah Bahasa yang diampunya. Tidak sekadar belajar tata bahasa, Yanti juga ingin memberi dimensi wawasan sejarah dalam materi yang diajarkannya.

“Mahasiswa saya beri tugas untuk membuat poster tentang bagaimana reformasi Indonesia saat itu, sesuai dengan paparan yang diberikan oleh pembicara,” lanjutnya.

Ide Yanti lantas ditanggapi dengan antusias oleh mahasiswanya. Tidak hanya mahasiswa sarjana, melainkan juga mahasiswa magister, ingin turut serta dalam program ekskursi selama tiga hari itu. Total terdapat lima belas mahasiswa, termasuk mahasiswa program student exchange dari Magister Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Cindy Belinda.

Konferensi yang digelar di Berlin Global Village itu menghadirkan sejumlah pembicara yang sangat kompeten di topiknya masing-masing. Dede Utomo, aktivis GAYa Nusantara dan pengajar di Universitas Airlangga memaparkan Persecution of Sexual Minorities in The Media; Ratna Saptari yang mengajar di Leiden University dalam paparannya berjudul Persecution through Denial of Citizenship: Indonesians in Forced Exile Post-1965; Yunantyo Adi S, aktivis dan jurnalis dari Semarang memaparkan pengalamannya saat menelusuri dan menandai kuburan massal korban persekusi tragedi 1965 dalam paparannya berjudul Identity conflicts in Semarang and its transformation.

Ragil, mahasiswa University Hamburg, ikut berbagi pengalamannya saat aktif dengan beberapa komunitas LGBT di Yogyakarta, dan meminta saran pada Dede Utomo tentang strategi agar komunitas LGBT bisa tetap eksis meski masih banyak tantangan dan tentangan dari kelompok masyarakat tertentu.

Beberapa pembicara dari Jerman juga turut serta di antaranya Irina Grimm, yang memaparkan tema serupa yakni Indonesian Student in Republic Federal Germany 1965-1998: Between Repression and Opposition; Willem van der Muur memaparkan Land conflicts and the indigenous movement in Indonesia: from resistance to rights?; Gero Simone, peneliti dari Universitas Bonn, memaparkan Mass Violence in Indonesia 1965 – 1966 and Transitional Justice Since 1998; Eku Wand, profesor bidang media di Braunschweig University of Art memaparkan Transparency and trust is the currency of social interaction — #SaveBangkaIsland Supportive successful impact of a social media campaign in the fight for justice in North Sulawesi.

Di sesi plenary seusai diskusi bersama seluruh peserta konferensi, Feri, mahasiswa dari University Hamburg didaulat untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Feri menjelaskan bahwa freedom of speech dan penggunaan media internet merupakan salah satu capaian positif dalam 20 tahun Reformasi 1998.

“Meski demikian, memang masih ada beberapa hal seperti bullying, persekusi, dan lainnya, yang terjadi,” ujar mahasiswa asal Jakarta tersebut.

Pipit Kartawidjaja, senior aktivis Indonesia di Berlin sekaligus tokoh di WatchIndonesia mengapresiasi rombongan dari University Hamburg. “Wah, kami tidak menyangka akan sebanyak itu yang datang. Mereka sangat aktif dan baguslah untuk menambah wawasan mereka,” ujar Pak Pipit.

Rencana Pagelaran Wayang Orang di Berbagai Kota di Jerman Pada Tahun 2019

http://www.thejakartapost.com/life/2018/11/17/human-puppets-to-promote-indonesian-culture-in-germany.html

https://www.jpnn.com/news/kemendikbud-bawa-wayang-orang-ke-jerman

http://m.harianjogja.com/news/read/2018/11/15/500/953028/kemendikbud-gelar-pertunjukan-wayang-orang-di-hadapan-orang-jerman

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wayang-orang-kresna-duta-menuju-jerman/

http://m.rri.co.id/post/berita/598599/budaya_dan_wisata/sebelum_jerman_wayang_orang_kresna_duta_tampil_di_jakarta.html

http://m.bisnis.com/amp/read/20181115/230/860033/wayang-orang-pentas-di-beberapa-kota-jerman

http://www.beritasatu.com/hiburan/522753-pergelaran-seni-wayang-orang-kembali-tampil-di-jerman.html

Jawa Restaurant – Hamburg/Jerman Terpilih Hadiri Konferensi Gastronomi

Jawa Restaurant – Hamburg/Jerman Terpilih Hadiri Konferensi Gastronomi – Forum Restoran Diaspora Indonesia Sedunia di Jakarta

Oleh: Anang Bonk

Perwakilan dari Jawa Restaurant, Alysa, menghadiri undangan khusus dari Kementerian Pariwisata Indonesia pada acara Conference Wonderful Indonesia Gastronomy Forum Diaspora Restaurants” di Hotel Aryaduta Jakarta, 22-23 November 2018.

Jawa Restaurant menjadi salah satu dari 100 restaurant Indonesia di seluruh dunia yang diundang dalam forum bergengsi ini. Adapun jumlah pendaftar dari forum ini adalah sebanyak 500 restaurant Indonesia di dunia. Penilaian yang dilakukan berdasarkan makanan yang disajikan, letak restoran yang strategis, dan penilaian pelanggan dari berbagai situs website ternama di dunia.

Jawa Restaurant sangat berterimakasih kepada Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pariwisata yang terlah menunjukkan dukungan kepada kami selalu promotor kuliner Indonesia di Jerman.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh pelanggan kam, baik di Jerman maupun di luar Jerman, yang setia mengunjungi restaurant kami dan memberikan respon positif terhadap layanan kami. Hal ini akan menjadi penyemangat bagi kami untuk memberikan pelayanan yang lebih baik sebagai duta kuliner Indonesia di dunia.

Solidaritas untuk Palu

Mandana Urip dan Christian Otto adalah dua mahasiswa Program Studi

Indonesia/Melayu, Jurusan Bahasa dan Budaya Asia Tenggara, Universitas

Hamburg. Mereka berdua belum lama ini telah berhasil mengoordinasi

sebuah acara pengumpulan dana untuk para korban bencana gempa bumi

dan Tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan ini dilakukan juga atas

dukungan Perhimpunan Indonesia – Jerman, DIG – Hamburg.

Untuk lebih detailnya, silakan disimak kedua artikel berikut yang mengupas

tentang penyelenggaraan acara tersebut. Kedua artikel ditulis oleh kedua

mahasiswa dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Acara solidaritas – BAHASA
File Size: 69,4 kb
File Type: pdf

Download File

Acara solidaritas – ENGLISH
File Size: 112,5 kb
File Type: pdf

Download File

IASI merintis kerjasama dengan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Prio Adhi Setiawan, S.T, M.Sc., mewakili divisi ISTT (industri Strategis dan teknologi Tinggi) IASI – Jerman, diundang oleh PTG (Prodi Teknologi Game) sebagai pembicara alam kuliah umum mengenai “Digital Transformasi Revolusi Industri 4.0 dan IoT” yang didampingi oleh Prof. Dr. -Ing Hendro Wicaksono (Jacob University – Bremen) yang mewakili diaspora akademisi di Jerman.

Kuliah umum tersebut diadakan di gedung Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Dalam kesempatan itu, Prio Adhi juga berjumpa dengan Direktur PENS Dr. Zainal Arief, ST, MT untuk menjajagi kemungkinan kerjasama dengan IASI di masa datang.

IASI siap untuk menjadi partner dalam menyiapkan dan membangun kompetensi penguasaan teknologi tinggi di Indonesia.

Zainal Arief menanggapi rencana kerjasama ini dengan positif dan menanti lngkah-langkah konkret berikutnya.

Berita terkait bisa dilihat dalam tautan berikut.

https://www.pens.ac.id/2018/07/23/prodi-teknologi-game-adakan-kuliah-tamu-mengenai-revolusi-industri-4-0-dan-iot/

Program Pertukaran Pelajar SMA Jawa Tengah/Indonesia dengan SMA di Hamburg/Jerman

Student Exchange Program between High Schools in Central Java/Indonesia and Gymnasium in Hamburg/Germany.

(By: Dyah Vollyati)

The Student Exchange program between Indonesia and Germany was first carried out in
2015 involving 18 high school students from SMA Negeri 1 Salatiga, Indonesia and 18 high school
students from Gymnasium Ohlstedt Hamburg, Germany. Since then, the student exchange program
is conducted in an annual basis.

This student exchange program was initiated by Mr. Harald Ploss who is a member of school
committee of Gymnasium Ohlstedt Hamburg (GO), Germany. In a school committee meeting in
the end of 2014 which discussed about student activity program, Mr. Harald Ploss proposed a
student exchange program between Gymnasium Ohlstedt Hamburg and a school in Indonesia to
give new insights to GO students who had only held student exchanges with schools in America
and other European countries. Finally, the school committee approved Mr. Harald Ploss’ proposal
and asked him to look for partners in Indonesia to work with and implement the program.

In short, he appointed Mrs. Dyah Vollyati (Mrs. Yeti) and discussed how this program could
be implemented as a part of Indonesia promotion. During intensive discussions, both agreed to
hold the first student exchange program between GO and a school in Indonesia by sharing
responsibilities. Mr. Harald Ploss took care of all permits and documents needed by the German
government as well as became the sponsor for this student exchange while Mrs. Yeti prepared the
required documents, choose the school who would become the partner for the student exchange,
selected potential students, socialized and communicated this program to the school, students, and
parents as well as provide intensive training to strengthen students’ communication skill in
supporting their visit in Germany. Eighteen students of SMA Negeri 1 Salatiga were finally
selected to join this program in 2015 and YETI English Course Salatiga became the mediating
partner between GO and SMA Negeri 1 Salatiga.

Until today, we have worked to promote 5 schools with total 89 participants joining this
program. Most students graduated from Dream Team are currently studying in several countries
such as: Germany, China and some are also accepted to study in prestigious University such as:
Gajah Mada University; Bandung Institute Technology; Brawijaya University; and Diponegoro
University. They are shaped to compete globally within returning to home country after joining
this program.

All students who have been participating in the student exchange program between Indonesia
and Germany are joining to ASTU EXSA which stands for Alumni of Student Exchange
Indonesia.

For further information, please take a look at the PDF file below.

The Brief History of Indonesia Germany student exchange
File Size: 1,9 MB
File Type: pdf

Download File

Top